Gelombang demonstrasi bertajuk “No Kings” mengguncang Amerika Serikat dan meluas hingga ke sejumlah kota di Eropa. Aksi ini menandai eskalasi ketidakpuasan publik terhadap arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump, dengan isu yang dipersoalkan mencakup kebijakan imigrasi hingga konflik geopolitik terkait Iran.
Penyelenggara menyebut lebih dari 3.100 aksi terdaftar di seluruh 50 negara bagian, sekitar 500 lebih banyak dibandingkan mobilisasi serupa pada Oktober lalu. Mereka memperkirakan partisipasi mencapai lebih dari 9 juta orang, meski angka final disebut masih dalam tahap verifikasi.
Menurut laporan Politico pada Minggu (29/3/2026), skala mobilisasi ini menunjukkan konsolidasi gerakan sipil lintas wilayah, termasuk dari daerah yang selama ini dikenal konservatif. Aksi-aksi tersebut juga mencerminkan meningkatnya resistensi global terhadap kebijakan luar negeri Washington, khususnya terkait wacana perubahan rezim di Iran.
Di Topeka, Kansas, demonstrasi berlangsung dengan nuansa satir. Sejumlah peserta mengenakan kostum “raja katak” dan menggambarkan Trump sebagai bayi. Wendy Wyatt, demonstran yang datang dari Lawrence, mengatakan, “Ada begitu banyak hal dari pemerintahan ini yang membuat saya kecewa, tetapi melihat ribuan orang turun ke jalan seperti ini memberi saya harapan.”
Sementara itu di Los Angeles, demonstrasi menampilkan simbolisme yang kuat dengan kritik tajam terhadap pemerintahan Trump. Massa berbaris di bawah balon udara berbentuk karikatur bayi Trump yang mengenakan popok, sebuah representasi visual yang kerap digunakan untuk menggambarkan ketidakdewasaan kepemimpinan.
Para peserta juga membawa poster bertuliskan “War Crimes don’t hide sex crimes” dan “Immigrants make America Great,” yang mencerminkan kemarahan terhadap dugaan pelanggaran hukum, isu moral, serta kebijakan imigrasi pemerintah. Ketegangan meningkat ketika massa berhadapan langsung dengan barisan Garda Nasional California di depan gedung federal, menandai eskalasi situasi di lapangan.
Di tengah meluasnya aksi serupa di berbagai wilayah, Minnesota ditetapkan sebagai pusat utama aksi nasional. Demonstrasi di ibu kota negara bagian itu menghadirkan musisi Bruce Springsteen sebagai penampil utama, mempertegas dimensi kultural dalam gerakan tersebut.

