AMBON — Lima tahun setelah ditetapkan sebagai Kota Musik oleh UNESCO Creative Cities Network, Ambon dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan dalam membangun ekosistem musik yang berkelanjutan.
Akademisi perencanaan wilayah dan kota Universitas Pattimura, Kreisson Pisty Larwuy, menyebut pengakuan internasional tersebut memang menjadi kebanggaan, namun belum sepenuhnya diikuti penguatan sistem yang menopang identitas Ambon sebagai Kota Musik.
“Pengakuan ini bukan garis finis, melainkan titik awal. Persoalannya, fondasi ekosistemnya belum sepenuhnya terbentuk,” kata Larwuy dalam keterangan tertulis, Selasa (31/3/2026).
Menurut Larwuy, identitas Kota Musik selama ini lebih banyak ditunjukkan lewat simbol visual seperti mural, papan nama, maupun penyelenggaraan acara. Dalam perspektif perencanaan kota, ia menilai identitas seharusnya tercermin lebih dalam melalui kebijakan, infrastruktur, dan tata ruang.
“Tanpa itu, identitas hanya bersifat sementara dan mudah memudar,” ujarnya.
Larwuy juga menyoroti belum tersambungnya jalur pendidikan musik di Ambon. Meski perguruan tinggi telah memiliki program studi musik, akses pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah masih terbatas. Ketiadaan sekolah menengah kejuruan (SMK) musik atau konservatori disebut membuat talenta muda tidak memiliki jalur pengembangan yang jelas.
Di sisi lain, Ambon dikenal memiliki keragaman musik, dari tradisional hingga kontemporer. Namun, menurut Larwuy, kekayaan tersebut belum sepenuhnya terepresentasi dalam wajah kota. “Yang tampil masih sebagian kecil, padahal kekayaan musik Ambon jauh lebih luas,” katanya.
Ia menilai dokumen perencanaan seperti RTRW dan RDTR juga belum menerjemahkan identitas Kota Musik secara konkret. Hingga kini, disebut belum ada penetapan kawasan kreatif musik maupun standar ruang publik berbasis akustik.
“Kebijakan adalah fondasi. Tanpa itu, identitas hanya bergantung pada program jangka pendek,” ujar Larwuy.
Selain kebijakan, Larwuy menilai akses ruang bagi komunitas musik masih terbatas. Fasilitas yang ada dinilai lebih sering digunakan untuk acara besar, sementara ruang ekspresi harian yang inklusif masih minim. Ia juga menyebut ekosistem komunitas belum seimbang karena beberapa genre seperti pop, hip-hop, dan jazz lebih dominan, sementara genre lain belum memiliki ruang berkembang yang memadai.
Larwuy menambahkan, identitas Kota Musik belum sepenuhnya dirasakan seluruh masyarakat. Menurutnya, identitas tersebut masih terbatas pada ruang dan momen tertentu, belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Untuk mewujudkan Ambon sebagai Kota Musik yang berkelanjutan, ia mendorong langkah konkret seperti pembangunan pendidikan musik berjenjang, penyediaan ruang publik yang inklusif, serta kebijakan tata ruang yang mendukung.
“Ambon sudah punya modal budaya yang kuat. Tantangannya sekarang adalah membangun ekosistemnya,” kata Larwuy.

