BERITA TERKINI
Adegan Son Tung M-TP Berdiri di Atas Burung Lac Picu Perdebatan: Antara Kebebasan Artistik dan Tanggung Jawab Budaya

Adegan Son Tung M-TP Berdiri di Atas Burung Lac Picu Perdebatan: Antara Kebebasan Artistik dan Tanggung Jawab Budaya

Adegan penyanyi Son Tung M-TP berdiri di atas model burung Lac dalam video musik “Come My Way” memicu perdebatan di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Sebagian warganet menilai penggunaan unsur tradisional itu sebagai inovasi dalam seni kontemporer, sementara yang lain mempertanyakan kepantasannya karena burung Lac kerap dikaitkan dengan akar budaya nasional Vietnam.

Menanggapi polemik tersebut, Profesor Dr. Tu Thi Loan, Direktur Institut Penelitian Budaya Thang Long sekaligus anggota Dewan Warisan Budaya Nasional, menilai perdebatan ini mencerminkan meningkatnya perhatian publik terhadap nilai-nilai budaya tradisional.

Menurut Tu Thi Loan, burung Lac merupakan salah satu simbol budaya tertua dan paling representatif bagi masyarakat Vietnam. Citra burung ini tampak menonjol pada gendang perunggu Dong Son, yang terkait dengan periode pembentukan negara Van Lang serta peradaban pertanian padi masyarakat Vietnam kuno.

Meski para peneliti masih memiliki perbedaan interpretasi mengenai asal-usul dan makna spesifik burung Lac, ia mengatakan simbol tersebut secara umum dipahami sebagai lambang vitalitas, aspirasi, serta hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual.

Dalam lintasan sejarah yang panjang, lanjutnya, burung Lac tidak sekadar menjadi motif dekoratif, melainkan berkembang menjadi simbol asal-usul, identitas, dan semangat nasional. Citra ini hadir dalam berbagai karya arsitektur dan seni, juga dalam simbol serta peristiwa penting negara. Karena nilai simbolisnya yang mendalam, kemunculan burung Lac dalam produk seni kontemporer—terutama yang menjangkau publik luas—sering kali mendapatkan perhatian khusus.

Tu Thi Loan memandang diskusi yang muncul bukan semata reaksi terhadap detail artistik, melainkan mencerminkan kekhawatiran masyarakat tentang bagaimana nilai tradisional didekati, ditafsirkan, dan diciptakan kembali dalam kehidupan modern.

Terkait beragam reaksi terhadap adegan Son Tung M-TP berdiri di atas model burung Lac, ia menilai respons tersebut dapat dipahami karena burung Lac bukan simbol artistik biasa, melainkan terkait dengan memori sejarah, asal-usul, dan identitas budaya nasional.

Menurutnya, ada dua sudut pandang utama. Pertama, pihak yang menganggap memasukkan citra burung Lac ke dalam musik populer dapat menghidupkan kembali nilai tradisional dan mendekatkan warisan budaya kepada audiens muda. Kedua, pihak yang menyatakan kekhawatiran bahwa tindakan berdiri di atas simbol itu dapat terasa tidak pantas mengingat sifat sakral dan makna simbolisnya.

Meski berbeda, ia menekankan kedua pandangan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap budaya nasional. Ia menyebut situasi ini sebagai sinyal positif karena menunjukkan meningkatnya kesadaran publik mengenai pentingnya melindungi dan melestarikan simbol budaya tradisional.

Tu Thi Loan juga mengusulkan agar perdebatan tidak dilihat sebagai pertentangan semata, melainkan kesempatan untuk membahas lebih dalam relasi antara kebebasan artistik dan tanggung jawab budaya seorang seniman.

Ia menilai tren penggabungan simbol tradisional ke dalam budaya populer patut diapresiasi. Namun, semakin besar bobot historis dan spiritual suatu simbol, semakin besar pula kebutuhan untuk mempelajarinya secara cermat, menafsirkannya dengan tepat, serta menyajikannya secara hati-hati agar ruang kreatif tetap terbuka tanpa mengabaikan nilai yang dijaga komunitas lintas generasi.

Dari perspektif penelitian budaya, ia menolak gagasan pembatasan yang terlalu kaku terhadap karya seni. Menurutnya, agar simbol tradisional tetap hidup dalam konteks kontemporer, simbol tersebut perlu diciptakan kembali, ditafsirkan, dan diperbarui melalui bahasa artistik setiap era. Jika hanya disimpan di museum atau terbatas di ranah akademik, masyarakat—terutama generasi muda—akan sulit mengaksesnya.

Namun, ia menegaskan kebebasan berkreasi tidak berarti melepaskan diri dari konteks budaya simbol yang digunakan. Jika harus ada batasan terpenting, katanya, batasan itu adalah rasa hormat. Seniman dinilai memiliki hak untuk berkarya, tetapi juga perlu memahami sejarah, makna, serta posisi simbol dalam kesadaran masyarakat. Ketika sebuah citra dipandang sebagai simbol asal-usul, identitas, atau nilai sakral, cara penggambaran perlu menghindari kesan menyinggung, merendahkan, atau mendistorsi makna aslinya.

Ia menambahkan, di era digital publik tidak hanya menilai karya berdasarkan niat pencipta, tetapi juga melalui perasaan dan sistem nilai mereka sendiri. Karena itu, sebuah gambar yang tidak dimaksudkan negatif tetap dapat memunculkan beragam interpretasi dan memicu perdebatan.

Menurutnya, garis antara kreativitas dan tindakan yang menyinggung tidak hanya terletak pada aksi artistik itu sendiri, tetapi juga pada tingkat pemahaman budaya, pertimbangan terhadap emosi publik, serta kemampuan untuk berdialog dengan nilai yang dijunjung dan dilestarikan masyarakat.

Terkait anggapan bahwa berdiri di atas model burung Lac merupakan tindakan tidak hormat, Tu Thi Loan menilai kehati-hatian diperlukan sebelum menarik kesimpulan. Dalam penelitian dan kritik budaya, katanya, sebuah fenomena sebaiknya dilihat dalam konteks keseluruhan, bukan dinilai dari potongan gambar yang terisolasi.

Untuk membuat penilaian yang lebih objektif, ia menyebut perlu mempertimbangkan niat kreatif pembuat dan peran burung Lac dalam keseluruhan karya. Apakah citra itu digunakan untuk menghormati, menonjolkan, atau menambah lapisan makna artistik? Apakah ia mempertegas atau justru mendistorsi nilai simbolis? Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurutnya, perlu dianalisis sebelum kesimpulan dibuat.

Ia juga menekankan perlunya membedakan antara model atau citra yang distilisasi dan terinspirasi dari burung Lac dalam ruang seni dengan simbol aslinya yang berada dalam ruang ibadah, ritual, atau warisan budaya.

Meski demikian, ia menilai persepsi publik tetap faktor penting karena simbol budaya bukan hanya milik pencipta karya, melainkan juga bagian dari ingatan dan sentimen kolektif. Ia mendorong agar isu ini disikapi melalui semangat dialog, berbasis pengetahuan budaya, konteks artistik, dan dampak sosial karya.

Tu Thi Loan melihat perdebatan ini sekaligus menunjukkan meningkatnya kesadaran budaya di masyarakat. Ia mencatat perhatian luas yang muncul tidak semata untuk hiburan, tetapi karena simbol yang dipersoalkan terhubung dengan asal-usul bangsa.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring perkembangan media digital dan meningkatnya kesadaran identitas budaya di tengah integrasi internasional, masyarakat kian tertarik pada cara nilai tradisional diekspresikan dalam kehidupan kontemporer. Ia menilai fakta bahwa banyak orang terdorong mempelajari apa itu burung Lac dan signifikansinya dalam sejarah serta budaya Vietnam merupakan dampak sosial yang patut dicermati.

Bagi seniman muda yang ingin menggabungkan unsur tradisional dalam musik dan produk hiburan, ia menyarankan langkah pertama adalah memahami secara menyeluruh asal-usul, sejarah, makna, dan nilai simbolis elemen budaya yang digunakan. Ia juga menekankan pentingnya membedakan upaya menghidupkan kembali nilai tradisional dari tindakan mengeksploitasi unsur tradisional sebagai dekorasi semata atau alat menciptakan sensasi media.

Ia turut mendorong seniman untuk berkonsultasi dengan peneliti budaya, ahli warisan, atau komunitas budaya dalam proses kreatif. Menurutnya, langkah itu bukan membatasi kreativitas, melainkan membantu karya memiliki kedalaman dan menghindari kesalahpahaman yang tidak diinginkan.

“Yang terpenting, para seniman harus memandang budaya tradisional bukan hanya sebagai sumber inspirasi tetapi juga sebagai tanggung jawab budaya,” kata Tu Thi Loan. Ia menambahkan, ketika kreativitas dipadukan dengan pengetahuan, rasa hormat, dan semangat dialog dengan masyarakat, karya seni dinilai dapat berkontribusi lebih efektif dalam menyebarkan nilai budaya nasional.