BERITA TERKINI
Xi Jinping Dijadwalkan Kunjungi Korea Utara, Bahas Penguatan Peran Diplomatik dan Hubungan dengan Kim Jong Un

Xi Jinping Dijadwalkan Kunjungi Korea Utara, Bahas Penguatan Peran Diplomatik dan Hubungan dengan Kim Jong Un

Presiden China Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan ke Korea Utara pada pekan depan. Rencana lawatan ini diumumkan media pemerintah China pada Jumat (5/6/2026) dan disebut sebagai bagian dari rangkaian diplomasi tingkat tinggi yang dilakukan Beijing dalam beberapa waktu terakhir.

Stasiun televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan Xi akan berada di Pyongyang pada 8–9 Juni 2026 atas undangan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Kunjungan tersebut menjadi perjalanan pertama Xi ke Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir, sekaligus lawatan luar negeri pertamanya sepanjang 2026.

China selama ini dikenal sebagai mitra politik dan ekonomi utama Korea Utara. Beijing juga menjadi penyokong penting bagi Pyongyang yang masih menghadapi isolasi diplomatik serta berbagai sanksi internasional.

Kunjungan Xi berlangsung setelah ia menerima kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing pada bulan lalu. Pengamat Korea Utara dari Universitas Kyungnam, Korea Selatan, Lim Eul-chul, menilai langkah ini mencerminkan upaya China memperkuat peran diplomatiknya di tingkat global.

Menurut Lim, China tengah bertemu dengan para pemimpin dari berbagai negara, mengoordinasikan posisi, dan memainkan peran mediasi. Ia menilai Beijing kemungkinan ingin melibatkan Pyongyang secara lebih aktif dalam agenda diplomatik China, seiring meningkatnya pengaruh internasional negara tersebut.

Di sisi ekonomi, hubungan kedua negara masih sangat erat. Berdasarkan data Komite Nasional untuk Korea Utara yang berbasis di Washington pada 2022, sekitar 95 persen perdagangan Korea Utara dan 85 persen ekspornya bergantung pada China.

Meski demikian, Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir juga semakin dekat dengan Rusia, terutama sejak Moskwa melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022. Pyongyang disebut mengirim ribuan personel militer dan persenjataan untuk membantu Rusia, dan sebagai imbalannya diduga memperoleh bantuan keuangan, teknologi militer, pasokan pangan, serta energi.