Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Moraza menilai sektor wisata kesehatan dan kebugaran (wellness) serta kecantikan menjadi peluang besar bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di tingkat global.
Pernyataan itu disampaikan Helvi saat membuka Bali Wellness and Beauty (BWB) Expo 2026 di Sanur, Denpasar, Bali, Jumat. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak UMKM memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk mengembangkan produk kesehatan dan kecantikan bernilai tambah tinggi.
Helvi menyebut kekayaan alam dari berbagai daerah, termasuk Bali, berpotensi dikembangkan menjadi produk wellness dan beauty yang berkualitas. Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi kekuatan Indonesia untuk tampil sebagai pusat wisata gaya hidup dan kesehatan kelas dunia.
Ia juga menyoroti keunggulan Indonesia berupa biodiversitas yang besar, dengan lebih dari 30.000 spesies tanaman yang dinilai berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku produk perawatan tubuh, kecantikan, terapi herbal, hingga layanan kebugaran.
Helvi mengatakan UMKM memiliki peluang mengombinasikan bahan-bahan alami tersebut dengan inovasi dan teknologi modern agar mampu menghasilkan produk yang memenuhi standar pasar internasional. Ia menambahkan, perkembangan industri kecantikan lokal dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan produk Indonesia semakin mampu bersaing di pasar global, tercermin dari pertumbuhan merek kecantikan lokal yang disebutnya menjadi salah satu yang tercepat di Asia Tenggara.
Berdasarkan data Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) UMKM, Indonesia memiliki lebih dari 57 juta UMKM. Dari jumlah itu, 92.689 UMKM bergerak di sektor gaya hidup sehat dan kecantikan.
Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan nilai industri kosmetika nasional mencapai Rp35,6 triliun pada 2025 dan diperkirakan terus meningkat. Sementara itu, lembaga riset Inkwood Research mencatat pasar kecantikan dan perawatan tubuh Indonesia menghasilkan nilai ekonomi lebih dari Rp161 triliun pada periode yang sama.
Potensi pasar juga tercermin dari data Global Wellness Institute yang menempatkan Indonesia sebagai pasar wellness economy terbesar ketujuh di kawasan Asia-Pasifik, dengan nilai lebih dari Rp1.000 triliun pada 2024.
Menurut Helvi, besarnya potensi tersebut menjadi peluang bagi UMKM untuk meningkatkan skala usaha dan memperluas jangkauan pemasaran, baik di dalam maupun luar negeri. “Potensi ekonomi yang sangat besar ini merupakan peluang emas bagi pengusaha UMKM untuk memperluas pasar, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional,” katanya.
Untuk mendukung pengembangan sektor tersebut, Helvi menyampaikan Kementerian UMKM memperkuat pembinaan dan pendampingan melalui sejumlah program, antara lain SAPA UMKM dan Holding UMKM. Selain itu, kementerian juga menjalin kolaborasi dengan Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, perguruan tinggi, serta perbankan guna memperkuat ekosistem usaha wellness dan beauty.