Merangin—Universitas Merangin menggelar acara bertajuk “Parade Musikalisasi Puisi dan Drama Musikal” pada Sabtu (12 Juli 2025). Kegiatan ini memadukan pertunjukan sastra dengan diskusi seni, melibatkan mahasiswa, dosen, serta komunitas seni lintas disiplin.
Pada segmen pembuka, mahasiswa Program Studi PGSD semester 2 dan Program Studi Bahasa semester 4 menampilkan musikalisasi puisi dan drama musikal. Sejumlah puisi karya penyair nasional dan lokal dibawakan dengan iringan musik, gerak, dan unsur teatrikal. Antusiasme penonton terlihat dari tepuk tangan yang mengiringi penampilan, dengan tema-tema seperti identitas, perjuangan, dan cinta tanah air menjadi benang merah pertunjukan.
Acara ini diinisiasi dosen pengampu, Wiko, yang berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Merangin, Sanggar Imaji, Sanggar Seni Budaya Batin Penghulu, dan Pondok Kreasi Merangin. Menurut Wiko, kegiatan tersebut didorong agar mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi juga terlibat dalam ruang pertunjukan dan produksi karya.
Setelah pertunjukan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi sastra bersama narasumber Yanto Bule, Muhammad Hidaya, dan Wiko. Diskusi membahas peran puisi dalam kehidupan masyarakat serta musikalisasi puisi sebagai media penyampaian pesan. Yanto Bule menekankan bahwa sastra tidak hanya menjadi bacaan, melainkan juga alat ekspresi dan refleksi sosial.
Segmen diskusi berikutnya menghadirkan Febra Muyu dan Deno Carles yang membahas seni pertunjukan dari sisi koreografi, ekspresi tubuh, serta pengolahan ruang dalam pementasan drama musikal. Febra Muyu menyampaikan bahwa pertunjukan tidak semata-mata soal naskah, melainkan bagaimana tubuh dapat menjadi medium pesan.
Dalam sesi yang dibawakan Deno Carles, ia menyoroti keterkaitan antara alam dan sastra. Ia menyebut alam sebagai sumber inspirasi utama dalam penulisan, sekaligus menekankan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari proses penciptaan seni.
Selain itu, sesi seni rupa diisi Masbay, perupa dari komunitas Pondok Kreasi Merangin, yang menjelaskan peran visual untuk memperkuat pesan sastra. Ia juga menampilkan sejumlah ilustrasi puisi yang dipamerkan dalam pameran mini selama acara. Masbay menyebut visual dapat menjadi jembatan bagi mereka yang belum menangkap makna kata secara langsung.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan diskusi terbuka dan refleksi bersama peserta serta narasumber. Seorang mahasiswa peserta berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda tetap setiap semester. Parade ini menjadi ruang pembelajaran lintas disiplin sekaligus upaya memperkuat ekosistem seni dan sastra di Universitas Merangin dan sekitarnya.

