BERITA TERKINI
UNESCO dan Temasek Foundation luncurkan inisiatif seni pertunjukan lintas negara hingga 2027

UNESCO dan Temasek Foundation luncurkan inisiatif seni pertunjukan lintas negara hingga 2027

UNESCO dan Temasek Foundation menjalin kolaborasi untuk memperkuat pemahaman lintas budaya di bidang seni pertunjukan di Indonesia, Malaysia, dan Singapura melalui inisiatif bertajuk “Merangkul Warisan Budaya Bersama Melalui Seni Pertunjukan”. Program ini dirancang berlangsung hingga 2027 dan membuka ruang bagi seniman serta pelajar untuk berkolaborasi melintasi batas negara.

Direktur Kantor Regional UNESCO, Maki Katsuno-Hayashikawa, menyatakan bahwa setiap negara memiliki kebanggaan atas identitas dan tradisi seni pertunjukan masing-masing. Namun, ia menekankan pentingnya dialog dan pertukaran agar kreativitas terus berkembang, sekaligus menjaga tradisi tetap hidup dan relevan.

Menurut UNESCO, inisiatif tersebut ditujukan untuk membangun jejaring yang lebih kuat, memfasilitasi kolaborasi lintas negara, serta memastikan warisan budaya di Asia Tenggara dapat terus berkembang di era modern. Peluncuran program ini juga dilatarbelakangi peran seni pertunjukan yang sejak lama menghubungkan komunitas di Asia Tenggara, menjembatani perbedaan budaya dan bahasa, serta mendorong dialog, empati, dan saling menghargai.

Di sisi lain, para seniman di kawasan masih menghadapi sejumlah hambatan untuk bekerja sama lintas negara, mulai dari keterbatasan perjalanan, kesenjangan pendanaan, hingga minimnya wadah kegiatan bersama. Karena itu, program ini diharapkan dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai pihak untuk bertukar pengalaman dan mengembangkan kerja kolaboratif.

Program tersebut disebut resmi dimulai melalui lokakarya virtual pada September 2025 yang menghadirkan lebih dari 250 peserta dari ketiga negara. Peserta berasal dari berbagai latar, termasuk seniman tradisional, manajer seni, mahasiswa, praktisi warisan budaya, dan perwakilan pemerintah. Dalam sesi itu, diskusi dan pertukaran gagasan dinilai menunjukkan antusiasme pelaku seni untuk berkolaborasi secara regional, sekaligus melihat inisiatif ini sebagai sarana menyatukan perbedaan dan memicu kreativitas.

Ke depan, program ini tidak hanya diarahkan untuk mengasah keterampilan profesional, tetapi juga mendorong seniman menafsirkan kembali tradisi dalam bentuk kontemporer agar warisan budaya tetap relevan bagi generasi muda. Dalam dua tahun mendatang, rangkaian kegiatan yang direncanakan meliputi lokakarya peningkatan kapasitas, pertukaran budaya, dan produksi karya kolaboratif.

Puncak kegiatan akan berupa festival di Yogyakarta yang menampilkan karya-karya pertunjukan hasil kolaborasi, sekaligus merayakan warisan budaya bersama Asia Tenggara melalui seni pertunjukan.

Senior Director (Programmes) Temasek Foundation, James Chan, menilai kolaborasi seni lintas batas dalam kemitraan ini dapat menumbuhkan apresiasi antarbudaya, membangun jembatan antar-komunitas, dan memperkuat ketangguhan kawasan. Sementara itu, musisi Indonesia Bagus Mazasupa berharap program ini dapat memperdalam pemahaman masyarakat terhadap musik. Ia menyebut musik bersifat universal dan, dengan merangkul warisan bersama melalui musik, masyarakat dapat menumbuhkan pemahaman serta apresiasi lintas budaya.