Ibadah Pekan Paskah 2026 bagi umat Kristiani telah dimulai dengan perayaan Minggu Palma pada 29 Maret 2026. Rangkaian ibadah kemudian berlanjut dengan Rabu Abu pada 1 April 2026 dan Kamis Putih pada 2 April 2026, serta akan diteruskan dengan Ibadah Jumat Agung pada 3 April 2026.
Di wilayah Solo Raya, rangkaian ibadah berlangsung semarak di berbagai gereja. Sejumlah daerah juga memiliki tradisi khas yang digelar setiap tahun, termasuk ritual jalan salib yang di Solo umumnya dilakukan di kompleks gereja masing-masing, sementara di Wonogiri dilaksanakan di kawasan wisata Gunung Gandul. Di berbagai wilayah Indonesia, terdapat sedikitnya tujuh agenda tradisi Paskah yang dikenal ikonik dan terus dijalankan dari tahun ke tahun.
Pertama, tradisi Kure di Kota Noemuti, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kure berasal dari bahasa Latin Currere yang bermakna berjalan. Tradisi ini disebut sudah ada sejak 1642 dan dibawa oleh bangsa Portugis. Dalam pelaksanaannya, umat berjalan kaki mengunjungi rumah-rumah warga untuk berdoa bersama, disertai prosesi pembersihan patung suci Yesus dan Maria. Warga memberikan persembahan berupa hasil pertanian seperti buah-buahan dan sayuran, yang kemudian dibagikan kembali kepada semua orang.
Kedua, ziarah Kapel Tuan Ma dan Semana Santa (Pekan Suci) di Larantuka, Flores. Semana Santa di Larantuka, Flores Timur, dikenal sebagai salah satu perayaan Paskah ikonik di Indonesia dan disebut terkenal secara internasional. Rangkaian kegiatan dimulai dari pembersihan patung legendaris Tuan Ma (Bunda Maria), dilanjutkan prosesi pengusungan patung melalui jalur laut menggunakan perahu-perahu. Prosesi ini berlangsung sakral dan melibatkan ribuan peziarah dari berbagai belahan dunia, sekaligus mencerminkan perpaduan akulturasi budaya Portugis dan kearifan lokal.
Ketiga, tradisi Buha-Buha Ijak oleh Suku Batak di Sumatera Utara. Tradisi ini dilakukan sebelum matahari terbit. Saat lonceng gereja berbunyi pada waktu fajar, masyarakat meninggalkan rumah menuju makam keluarga untuk berdoa dan menghormati orang tua atau sanak yang telah berpulang.
Keempat, tradisi Memento Mori di Kalimantan Tengah. Dalam bahasa Latin, Memento Mori berarti “ingatlah bahwa kamu akan mati.” Tradisi ini dilaksanakan pada Sabtu Suci dengan cara yang visual: keluarga mendatangi makam kerabat, membersihkannya, lalu menyalakan lilin dan menghias lokasi dengan bunga sepanjang malam hingga menjelang subuh. Pemandangan ribuan lilin di area pemakaman menciptakan suasana yang tenang. Disebutkan pula gereja setempat mendirikan tenda agar umat dapat merayakan Minggu Paskah di lokasi pemakaman.
Kelima, Labirin Doa di Bukit Getsemani, Tana Toraja. Di Makale terdapat Bukit Doa Getsemani yang digunakan untuk perayaan Paskah. Jalur menuju puncak dibagi menjadi 14 titik perhentian yang dilengkapi patung-patung yang menggambarkan penderitaan Yesus. Para peziarah mendaki sambil berdoa dan berhenti di setiap titik untuk merenung.
Keenam, pesona religi di Gua Maria Puhsarang, Kediri, Jawa Timur. Gua Maria Puhsarang dikenal sebagai salah satu tujuan ziarah Katolik di Jawa Timur. Pada masa Paskah, area ini diramaikan pementasan drama kolosal Jalan Salib yang memvisualisasikan penderitaan Yesus. Setelah misa malam Paskah, umat biasanya menutup rangkaian ibadah dengan devosi atau doa pribadi di hadapan patung Bunda Maria Lourdes.
Ketujuh, ritual Jalan Salib di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Tradisi ini dilakukan di Puncang Gunung Gandul sisi barat Kota Wonogiri oleh Muda-mudi Katolik (Mudika) dari Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul. Jalan Salib juga dilakukan oleh kaum muda Kristiani dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Induk Wonogiri di Sanggrahan. Untuk ritual Jalan Salib kaum muda GKJ, kegiatan disebut biasa dilakukan di Gunung Giri dan pernah dipindah ke kompleks Makam Sono Praloyo di Bantarangin, serta pernah pula dilakukan di kompleks GKJ Induk Sanggrahan Wonogiri.
Ritual jalan salib ini ditradisikan bertepatan dengan Jumat Agung, hari peringatan penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di Bukit Golgota. Pelaksanaannya dikemas dalam rangkaian stasi untuk mengenang jalan sengsara, disajikan melalui gerak teatrikal drama liturgi di alam terbuka. Prosesi diawali dengan perjalanan kaki dari lereng bawah gunung, dengan pemeran Yesus berjalan menanjak sambil memanggul kayu salib dan mengenakan mahkota berduri. Adegan berlanjut hingga puncak gunung, menggambarkan rangkaian peristiwa penangkapan, penyiksaan, penyaliban, hingga wafatnya Yesus.
Berbagai tradisi tersebut menunjukkan keragaman cara umat Kristiani di Indonesia memaknai Pekan Suci dan Paskah, sekaligus memperlihatkan bagaimana ritual keagamaan dijalankan berdampingan dengan kekhasan budaya setempat di sejumlah daerah.

