Tran Quoc Toan dikenal sebagai sosok yang rendah hati, sederhana, dan tenang. Namun di balik penampilannya, ia menyimpan semangat kuat sebagai seniman yang menaruh perhatian besar pada musik tradisional. Bagi Toan, musik bukan sekadar profesi dan sumber penghidupan, melainkan ruang untuk menyalurkan pengalaman batin—dari suka hingga duka—yang kerap terasa dalam setiap nada yang ia mainkan.
Selama bertahun-tahun, berbagai instrumen tradisional menemaninya, termasuk kecapi bulan dan kecapi bas. Kedekatan itu menjadi bagian dari upayanya merawat nilai-nilai budaya yang ia yakini penting untuk terus dijaga.
Tran Quoc Toan lahir dan besar di komune Dong Trach, dalam lingkungan keluarga yang lekat dengan musik rakyat lintas generasi. Orang tuanya adalah petani yang mencintai lagu-lagu rakyat dan musik tradisional. Masa kecilnya dipenuhi bunyi seruling dan terompet sang ayah, serta nyanyian rakyat dari nenek dan ibunya. Setelah lulus SMA, ketika banyak teman sebayanya memilih bidang studi yang dianggap lebih “tren”, Toan memutuskan menekuni jalur seni secara profesional dengan belajar alat musik tradisional di Universitas Seni Hue.
Setelah menyelesaikan pendidikan dengan jurusan kecapi bulan, ia terus mengembangkan kemampuan secara mandiri dengan mempelajari sejumlah instrumen lain, seperti kecapi bầu, seruling, biola nhị, terompet, hingga drum. Di antara keterampilannya, Toan disebut sebagai salah satu dari sedikit seniman muda di Quang Tri yang mahir memainkan kecapi đáy—instrumen yang kerap dianggap sebagai “jiwa” dari ca trù.
Ca trù dikenal sebagai bentuk seni yang menuntut ketelitian dan kepekaan, baik dari sisi pendengar maupun pelaku pertunjukannya. Untuk menguasai kecapi đáy, seorang seniman tidak hanya dituntut kuat secara teknik, tetapi juga memiliki rasa musikal yang mendalam agar mampu menghasilkan bunyi hangat, beresonansi, dan selaras dengan pengucapan serta intonasi khas penyanyi perempuan. Dalam ca trù, kesatuan antara bunyi instrumen dan lirik menjadi kunci terciptanya suasana musik yang halus dan tulus.
Melalui ketekunan, Toan dinilai mencapai kematangan emosional dalam permainannya. Perannya di panggung tidak sekadar mengiringi, tetapi juga menjadi fondasi bagi penyanyi untuk tampil maksimal. Keberadaannya di ruang-ruang budaya tradisional disebut ikut berkontribusi dalam menjaga esensi ca trù agar tetap hidup dan menjangkau masyarakat pencinta musik tradisional Vietnam.
Pada Kompetisi Seni Pertunjukan Rakyat Nasional Kelompok Etnis tahun 2024, penampilan “Xam Hue Tinh” (lirik tradisional) yang dibawakan penyanyi Thanh Oai dari Grup Seni Tradisional Provinsi, dengan iringan kecapi Quoc Toan, meraih medali emas dari Departemen Kebudayaan Akar Rumput (Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata). Toan bersama anggota mantan grup Quang Binh juga mencatat prestasi di sejumlah kompetisi lain, seperti “Lagu dan Musik Rakyat dari Tiga Daerah”, “Lagu yang Menghubungkan Sungai”, dan “Sumber Tanah Air”. Selain tampil, ia aktif terlibat dalam pengajaran lagu rakyat dan alat musik tradisional di tingkat akar rumput.
Di luar panggung, Toan mengemban peran sebagai Wakil Ketua Klub Musik dan Nyanyian Rakyat di bawah Pusat Kebudayaan dan Film Provinsi. Ia menaruh perhatian pada upaya membangun jejaring antaranggotanya. Klub tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpul seniman profesional, tetapi juga merangkul para pengrajin rakyat yang menyimpan “inti sari” budaya, seperti lagu pengantar tidur Canh Duong, lagu-lagu rakyat Le Thuy, serta lagu-lagu nelayan Minh Hoa.
Klub itu juga dihuni banyak anggota muda yang dinilai mampu membawakan melodi rakyat khas daerah dengan baik. Selain itu, dibentuk pula grup vokal ca trù yang terdiri dari penyanyi perempuan dan pemain instrumen laki-laki. Mereka disebut telah menempuh pendidikan formal di sekolah seni profesional dan mengikuti pelatihan yang diajarkan para pengrajin dari wilayah Utara.
Di tengah kenyataan bahwa banyak anak muda menjauh dari seni tradisional, Toan menyampaikan harapannya agar tersedia lebih banyak ruang budaya dan tempat seni bagi klub seni rakyat serta para pengrajin untuk mempraktikkan warisan mereka. Menurutnya, langkah itu menjadi cara paling praktis untuk menyebarkan sekaligus membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya dan seni tradisional agar esensi budaya tidak memudar di tengah arus kehidupan modern.
Ketua Klub Musik dan Nyanyian Rakyat, Thanh Oai, menilai Tran Quoc Toan sebagai sosok yang berkomitmen pada seni tradisional dan menjadi musisi utama dalam berbagai program pertunjukan, terutama ca trù. Ia juga menyebut kehadiran serta keterampilan Toan membantu banyak pengrajin dan klub meraih penghargaan penting dalam festival dan kompetisi seni rakyat di tingkat provinsi, regional, hingga nasional.