Menjelang sore, setelah berjam-jam bekerja di ladang, suara terompet berbentuk labu kembali terdengar dari depan rumah pengrajin K’Van Phiep di Dusun 1, Komune Dong Giang. Bunyi yang dalam dan bergema itu melintas di desa yang tenang, seolah membawa orang kembali pada suasana festival serta kenangan lama masyarakat K’ho.
Di sisi Phiep, menantunya, K’Văn Mốt, duduk memperhatikan dengan saksama. Setiap kali gong dipukul atau gendang ditabuh, ia mencoba menirukan gerak dan ritmenya. Hampir dua tahun terakhir, Mốt rutin mencari kesempatan belajar alat musik tradisional dari ayah mertuanya dan para pengrajin lain di desa. Ia mengaku menyukai alat musik tradisional sejak kecil, tetapi baru beberapa tahun belakangan mulai belajar secara lebih sistematis setelah menjadi bagian dari keluarga pengrajin dan lebih dekat dengan para tetua di komunitasnya.
“Saya sudah menyukainya sejak lama, tetapi sebelumnya saya hanya tahu cara mendengarkan. Baru-baru ini, ayah mertua saya dan para pengrajin di desa telah mengajari saya. Belajar ternyata jauh lebih sulit daripada yang saya kira,” kata Mốt.
Di komunitas K’ho, keterampilan bermusik diwariskan melalui tradisi lisan. Mereka yang lebih dulu menguasai akan memainkan alat musik, sementara murid mendengarkan lalu mengikuti. Ada melodi yang harus didengar berkali-kali agar melekat dalam ingatan, dan ada ritme gong yang perlu dilatih berulang-ulang sampai terasa menyatu dengan gerak. Mốt mencontohkan terompet labu: pengajar tidak menguraikan nada satu per satu, melainkan memainkan pola bunyi agar murid menangkapnya lewat pendengaran dan menirukan, sehingga proses belajar memerlukan waktu.
Di bawah atap rumah, pemandangan para pemuda yang menyimak dengan serius dan para tetua yang sabar membimbing memperlihatkan bahwa yang diwariskan bukan semata teknik memainkan alat musik. Di sana, ingatan budaya komunitas—yang selama bergenerasi terhubung dengan pegunungan dan hutan—ikut diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Phiep sendiri mengatakan ia belajar dengan cara serupa. Ia tidak lagi mengingat persis usia saat pertama kali mengenal gong. Yang ia ingat, sebagai anak ia selalu mengikuti ayah dan pamannya ketika ada festival atau upacara tradisional di desa. Ia berdiri menyaksikan orang dewasa tampil, terpikat oleh kelincahan tangan memukul gong dan langkah kaki yang bergerak berirama mengitari tiang upacara. “Saya belajar dari ayah saya, paman saya, dan para tetua desa; tidak ada buku teks atau kurikulum,” ujarnya.
Lebih dari setengah abad berlalu, anak yang dulu terpukau oleh bunyi gong itu kini dikenal sebagai salah satu pengrajin di desa. Dalam festival tradisional masyarakat K’ho di Dong Giang, Phiep masih menjaga ritme ansambel gong, simbal, dan kerincingan. Ia juga terus mewariskan pola-pola ritme tersebut kepada generasi muda, sebagaimana dahulu ia menerima pengetahuan itu dari para pendahulunya.
“Untuk bermain dengan baik, seseorang harus mengamati dan mengikuti dengan cermat, mendengarkan dengan telinga, mengingat dengan pikiran, dan merasakan dengan hati. Bermain membutuhkan teknik, dan instrumen-instrumen harus berharmoni bersama untuk menciptakan melodi K’ho yang autentik,” kata Phiep.
Di sudut rumahnya, gong tergantung rapi di dinding, berdampingan dengan seperangkat kerincingan yang telah dimakan waktu. Phiep mengangkat gong dengan hati-hati, seperti memegang benda berharga. Bagi masyarakat K’ho, alat musik bukan sekadar instrumen, melainkan benda yang memiliki jiwa.
Komunitas K’ho dikenal memiliki ragam alat musik yang dibuat dari bahan-bahan yang umum ditemukan di pegunungan dan hutan, seperti bambu, rotan, kayu, batu, tanduk, dan kulit kerbau. Masing-masing menghasilkan karakter bunyi yang terkait dengan ruang budaya tertentu. Di antara semuanya, gong dipandang sebagai “jiwa” dalam berbagai ritual.
Menurut para tetua desa, bunyi gong bagi masyarakat K’ho bukan hanya musik, melainkan juga bahasa untuk berkomunikasi dengan leluhur dan roh. Mereka meyakini setiap gong memiliki “jiwa gong”, sehingga dijaga sebagai harta keluarga. Bunyi gong hadir dalam festival panen, upacara pindah rumah, pernikahan, dan berbagai ritual siklus kehidupan lainnya.
Pengrajin K’Van Linh menjelaskan bahwa gong berkenop dan gong tanpa kenop—yang juga disebut simbal—ketika dimainkan bersama dapat membentuk harmoni yang sakral dan agung. Dalam pertunjukan, para pengrajin biasanya berdiri berbaris atau bergerak melingkar di sekitar area festival. Setiap bunyi gong dipandang sebagai undangan bagi roh-roh untuk menyaksikan acara, sekaligus doa untuk panen yang baik, kehidupan damai, dan persatuan komunitas.
Berbagai kisah para pengrajin menunjukkan bahwa musik K’ho mencerminkan cara pandang mereka terhadap alam. Dalam kepercayaan tradisional, gunung, hutan, pepohonan, sungai, aliran air, dan hewan diyakini memiliki jiwa. Karena itu, musik mereka kerap menggambarkan keluasan hutan: kadang keras seperti air terjun di musim hujan, kadang lembut seperti angin di lereng gunung. Sementara itu, bunyi terompet berbentuk labu terasa dekat dan menyentuh, digambarkan seperti percakapan tulus para pemuda dan pemudi pada masa lampau.
Di bagian tenggara Provinsi Lam Dong, masyarakat K’ho tinggal terkonsentrasi di Komune Dong Giang, La Da, Ham Thuan Bac, Phan Son, Bac Ruong, dan Dong Kho. Bersama praktik pertanian tradisional serta festival desa, suara gong, simbal, terompet mbuot, dan gendang sagor tetap hadir sebagai bagian dari ingatan dan identitas budaya. Selain musik, masyarakat K’ho juga melestarikan kekayaan lagu dan tarian rakyat yang terkait dengan kegiatan dan perayaan komunitas.
Namun, seperti banyak bentuk budaya rakyat lainnya, lagu, tarian, dan musik K’ho menghadapi risiko kepunahan. Jumlah orang yang menguasai pengetahuan mendalam tentang alat musik dan lagu rakyat disebut kian berkurang. Banyak pengrajin yang menyimpan pengetahuan itu telah memasuki usia senja, sementara jumlah generasi muda yang mampu menampilkan dan mempraktikkan tradisi masih terbatas. Dalam konteks ini, kelas-kelas pengajaran lagu, tarian, dan musik rakyat yang diselenggarakan di Dong Giang dan La Da dalam beberapa tahun terakhir dinilai memiliki arti penting.
Dalam salah satu kelas pelatihan di Dong Giang, para siswa muda terlihat antusias meski tangan mereka masih canggung dan ritme gong belum teratur. Di balik keterbatasan itu, tersimpan semangat dan kebanggaan kaum muda. Di banyak sore yang berlangsung di bawah atap rumah para pengrajin seperti rumah Phiep, para tetua tidak hanya mengajarkan teknik pertunjukan, tetapi juga menurunkan kenangan, kebanggaan, dan kecintaan pada budaya etnis mereka.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Urusan Sosial Komune Dong Giang, Le Trung Chinh, menyebut wilayah tersebut saat ini memiliki dua kelompok musik gong, yakni Dong Giang dan Dong Tien, dengan sekitar 40 anggota. Dalam beberapa tahun terakhir, daerah dan provinsi secara rutin menyelenggarakan kelas untuk mengajarkan lagu rakyat, tarian rakyat, dan musik rakyat. Program tersebut membuka ruang bagi para pengrajin untuk mewariskan keterampilan kepada generasi muda, sekaligus berkontribusi menjaga identitas budaya masyarakat K’ho.