Jepang kerap disebut sebagai salah satu negara dengan kebiasaan hidup sehat. Hal itu kerap dikaitkan dengan angka harapan hidup yang tinggi selama bertahun-tahun. Mengacu pada Worldometers, Jepang masuk lima besar negara dengan angka harapan hidup tertinggi pada 2026, yakni 85,15.
Sejumlah kebiasaan sehari-hari dinilai turut berperan dalam menjaga kebugaran hingga usia lanjut. Berikut tiga kebiasaan yang disebut rutin dilakukan warga Jepang.
1. Tidak melewatkan sarapan
Jika sebagian orang kerap menyepelekan sarapan atau menggabungkannya dengan makan siang, kebiasaan di Jepang justru sebaliknya. Sarapan atau asagohan umumnya disusun sebagai menu lengkap yang mencakup nasi, sup, sumber protein, dan sayuran. Pola ini mencerminkan penekanan pada keseimbangan nutrisi serta pentingnya memulai hari dengan asupan yang direncanakan.
Vanessa Imus, MS., RDN., pemilik Integrated Nutrition for Weight Loss di Bothel, mengatakan bahwa mengabaikan atau mengurangi asupan protein pada pagi hari dapat menyulitkan tubuh memenuhi kebutuhan harian secara keseluruhan. Sementara itu, Dr. Melinda Steele, MD., DipABLM., menyarankan agar pilihan protein juga disertai serat, vitamin, dan lemak sehat. Ia menilai protein yang tinggi lemak jenuh atau tanpa serat bukan pilihan terbaik.
Beberapa contoh sumber protein yang dapat dimasukkan dalam menu sarapan antara lain telur, greek yogurt, keju cottage, bacon, tahu, tempe, kacang hitam, lentil, buncis, serta oat dengan tambahan bubuk protein.
2. Makan secukupnya dengan aturan 80 persen
Kebiasaan lain yang kerap disebut adalah makan secukupnya dengan prinsip berhenti sebelum terlalu kenyang. Dalam budaya Jepang, praktik ini dikenal sebagai hara hachi bu, yakni makan hingga merasa kenyang sekitar 80 persen.
Kebiasaan tersebut dianggap membantu menjaga berat badan tetap sehat karena mencegah makan berlebihan, sebagaimana dikutip dari Newsweek. Dalam artikel yang sama disebutkan, makan terlalu banyak dapat memperlambat sistem pencernaan dan mempercepat oksidasi yang pada akhirnya dikaitkan dengan penuaan. Di Jepang, penggunaan piring berukuran kecil dan mencicipi sedikit dari tiap hidangan juga disebut sebagai tradisi yang umum.
3. Aktif bergerak, dengan jalan kaki sebagai rutinitas
Selain pola makan, kebiasaan bergerak juga menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Jalan kaki disebut sebagai aktivitas yang disukai banyak warga Jepang, bahkan dalam sehari bisa mencapai 10 ribu langkah.
Spesialis penyakit dalam dr. Indra Wijaya, MKes., SpPD-KEMD., FINASIM., FACP., menjelaskan sejumlah manfaat jalan kaki. Menurutnya, jalan kaki teratur dapat menguatkan fungsi jantung dan melancarkan peredaran darah, serta membantu menurunkan risiko sindrom metabolik, hipertensi, dan serangan jantung karena meningkatkan kerja otot jantung dan sirkulasi. Aktivitas ini juga disebut dapat meningkatkan mobilitas dan fleksibilitas sendi kaki.
Tiga kebiasaan tersebut—sarapan teratur, makan secukupnya, dan rutin berjalan kaki—menjadi contoh pola hidup yang kerap dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan jangka panjang.