Taylor Swift merilis video musik untuk lagunya “Elizabeth Taylor” pada pagi 31 Maret waktu Amerika Serikat. Video ini melanjutkan eksplorasi Swift terhadap citra bintang Hollywood abad ke-20, namun dengan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan karya visualnya.
Alih-alih tampil sebagai pusat cerita, Swift memilih format “supercut” yang menyusun cuplikan film-film klasik serta potongan gambar keseharian Elizabeth Taylor. Hasilnya, video tersebut menghadirkan nuansa dokumenter yang jarang muncul dalam karier Swift dan sekaligus menonjol karena tidak menampilkan dirinya sama sekali.
Sepanjang video, penonton disuguhi kompilasi momen penting dari perjalanan akting Elizabeth Taylor, diselingi rekaman dirinya saat tampil di ruang publik. Cuplikan yang dipilih berasal dari sejumlah film populer, antara lain Cleopatra, Father of the Bride, Cat on a Hot Tin Roof, A Place in the Sun, Giant, Who’s Afraid of Virginia Woolf?, dan Boom!.
Pendekatan itu membuat video musik terasa seperti video peringatan, sekaligus menegaskan pengaruh Elizabeth Taylor yang dinilai tetap bertahan dalam budaya populer.
Untuk saat ini, versi lengkap video musik “Elizabeth Taylor” disebut hanya tersedia di Apple Music dan Spotify Premium. Di YouTube, yang tersedia adalah versi “visualizer” sederhana berupa sampul single dengan aransemen piano berjudul “So Glamorous Cabaret”. Strategi rilis eksklusif ini disebut serupa dengan yang sebelumnya dilakukan Swift untuk “Opalite”.
Langkah tersebut diyakini berkaitan dengan perubahan sistem penilaian Billboard, di mana jumlah penayangan dari platform berbayar kini dihitung sebagai pencapaian streaming. Meski demikian, sejumlah pengamat memperkirakan video musik itu berpeluang dirilis secara gratis di YouTube pada waktu mendatang, sebagaimana terjadi pada rilis sebelumnya.
Dari sisi lirik, lagu “Elizabeth Taylor” memuat banyak rujukan pada kehidupan sang bintang. Baris “I’ll cry my eyes violet” merujuk pada mata ungu ikonik Elizabeth Taylor, sementara “White Diamonds” mengacu pada merek parfum terkenalnya. Lirik juga menyebut lokasi seperti Portofino di Italia dan hotel Plaza Athénée di Paris.
Ide lagu ini disebut muncul ketika Swift mendengar putra Elizabeth Taylor, Christopher Wilding, membandingkannya dengan sang ibu dalam sebuah wawancara. Pernyataan itu disebut menyentuh Swift, dan melodi lagu kemudian berkembang cepat dalam momen improvisasi.
Keluarga Elizabeth Taylor turut menyatakan dukungan. Quinn Tivey, keponakan sang bintang, menyebut lagu tersebut sebagai penghormatan yang “tulus, beragam, dan kaya akan emosi,” serta menggambarkan warisan Elizabeth Taylor secara jelas.

