BERITA TERKINI
Shanty Beradaptasi dengan Industri Musik Digital: Dari Ngonten hingga Menyesuaikan Format Lagu

Shanty Beradaptasi dengan Industri Musik Digital: Dari Ngonten hingga Menyesuaikan Format Lagu

Jakarta - Penyanyi Shanty mengaku sempat terkejut saat kembali aktif di industri musik yang kini didominasi platform digital dan media sosial. Setelah meniti karier sejak awal 2000-an, ia kini harus menyesuaikan diri dengan cara baru mempromosikan karya, termasuk membuat konten dan melakukan siaran langsung di media sosial.

Shanty pertama kali dikenal di industri musik pada 2000 ketika menjadi backing vokal Dewa 19 dalam lagu “Risalah Hati.” Tak lama setelah itu, ia masuk dapur rekaman dan merilis album debut di penghujung 2000. Album tersebut memuat delapan lagu, termasuk “Jatuh Cinta” karya Anang Hermansyah dan “Oh Kasih” ciptaan Rieka Roslan. Album itu juga melahirkan sejumlah lagu yang menjadi hit di radio seperti “Hanya Memuji” dan “Peluk.”

Album penuh terakhir yang ia rilis adalah “Bintang Utara” pada 2010 dengan dukungan Tompi. Pada tahun yang sama, Shanty menikah dan dikaruniai dua putra. Setelah merilis sejumlah single, ia kembali tahun ini lewat single baru berjudul “I Do,” yang menandai 26 tahun kiprahnya di industri musik.

Perubahan besar yang ia rasakan adalah pergeseran dari era kaset dan CD ke era streaming. Shanty juga mulai berkenalan dengan format extended play (EP), serta tuntutan untuk aktif “ngonten” dan tampil live di media sosial sebagai bagian dari strategi menjangkau pendengar.

“Sempat kaget dan aku sempat disekolahkan lagi sama manajemen karena ini sudah jauh berbeda industri musik sekarang,” kata Shanty dalam wawancara di Gedung KLY Jakarta, pekan ini.

Menurut Shanty, adaptasi ke dunia media sosial tidak berjalan mulus. Ia sempat bingung menentukan jenis konten yang ingin dibuat. Ia kemudian mencoba siaran langsung bermain piano di TikTok, namun mendapati bahwa konten tersebut tidak selalu menghasilkan keterlibatan (engagement) yang tinggi.

“Aku sudah main piano sambil live TikTok. Biasanya yang tinggi engagement-nya itu bukan saat main piano. Yang orang ingin lihat itu keseharian, sementara aku orangnya privat kalau soal keseharian,” ujarnya.

Shanty mengakui ia tidak nyaman ketika kehidupan pribadinya menjadi sorotan kamera, termasuk saat berada di rumah. Namun, ketika membuat konten yang lebih sesuai dengan preferensinya seperti olahraga, respons audiens justru lebih rendah. “Aku enggak suka rumahku disorot-sorot, enggak suka kamera mengikuti aku ke mana-mana saat di rumah. Enggak senang. Tapi kalau aku (bikin konten soal) olahraga, engagement-nya sedikit. Tantangannya di situ,” katanya.

Selain tuntutan di media sosial, Shanty juga menghadapi perubahan dalam format produksi lagu. Ia menyebut perbedaan paling terasa ada pada durasi dan struktur lagu. Jika pada 1990-an hingga awal 2000-an lagu bisa berdurasi hingga lima menit dengan intro panjang, kini lagu cenderung lebih singkat dan bagian hook ditempatkan lebih awal.

“Syok banget. Karena kami membangun lagu itu, hook-nya harus jauh lebih di depan, tapi aku percaya sama ‘I Do’ ini karena lagunya catchy. Sudah begitu ada hook pengulangan yang audionya bisa dipakai di TikTok atau Instagram Reels,” ucap Shanty.

Melalui “I Do,” Shanty berupaya tetap relevan di tengah perubahan cara publik menikmati musik, sekaligus menyesuaikan diri dengan dinamika baru industri yang semakin dipengaruhi tren digital.