Nama WS Rendra dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Sastrawan yang kerap dijuluki Si Burung Merak ini memiliki nama lengkap Willibrordus Surendra Broto Narendra.
Rendra lahir di Surakarta pada 7 November 1935 dan wafat di Depok, Jawa Barat, pada 6 Agustus 2009 dalam usia 73 tahun. Karyanya pernah dinikmati tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga dipentaskan secara internasional melalui teater, puisi, maupun film.
Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, nama besar WS Rendra dinilai perlahan mulai memudar dari ingatan generasi muda. Kondisi ini menjadi perhatian Sanggar Seni Samudra, komunitas seni yang berada di Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Sanggar tersebut menginisiasi gerakan cinta sastra melalui acara pembacaan puisi karya WS Rendra yang dijadwalkan berlangsung pada 6 Agustus 2025, bertepatan dengan hari wafatnya sang maestro. Kegiatan itu akan digelar di Jalan Prof. M. Yamin, Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan.
Ketua Pengurus Harian Sanggar Seni Samudra, Faisal Jais yang akrab disapa Jayeng (31), mengatakan kegiatan ini tidak dimaksudkan sebagai seremoni semata. Ia menyebutnya sebagai upaya merespons dominasi teknologi yang dinilai dapat mengikis rasa dan kedalaman berpikir manusia.
“Kemajuan suatu peradaban ditandai oleh kemajuan sastra dan teknologi. Tidak boleh teknologi mendominasi sastra atau sebaliknya. Keduanya harus maju bersama,” ujar Jayeng, Rabu, 30 Juli 2025.
Jayeng menilai masyarakat, terutama generasi Gen Z dan Gen Alpha, semakin terjebak dalam budaya instan yang membuat mereka kehilangan “rasa” dalam menjalani kehidupan. Ia juga menyoroti perubahan perilaku konsumsi informasi, dari “malas membaca” menjadi “malas menonton”, ketika menonton video berdurasi utuh pun dianggap membosankan.
“Bayangkan bahaya manusia yang kehilangan rasa. Padahal rasa adalah kompas kehidupan yang menuntun kita pada makna hidup yang sejati,” kata Jayeng.
Dukungan terhadap kegiatan ini datang dari pengamat sastra sekaligus guru SMK di Purwokerto, Yudiono Aprianto (38). Ia mengaku prihatin karena sosok WS Rendra kini tidak lagi dikenal luas oleh generasi muda.
“Ini sangat bertolak belakang dengan semangat lagu kebangsaan kita. ‘Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya’ jiwa bangsa tak bisa dibangun hanya dengan pembangunan fisik,” ujar Yudiono.
Ia mengapresiasi langkah Sanggar Seni Samudra dan berharap inisiatif tersebut dapat menjadi pemantik lahirnya gerakan serupa. “Sanggar Seni Samudra luar biasa. Mereka berani menghidupkan kembali semangat sastra di tengah generasi yang terbuai kemegahan teknologi. Semoga akan lahir lebih banyak lagi gerakan-gerakan seperti ini,” tuturnya.
Melalui acara pembacaan puisi ini, Sanggar Seni Samudra berharap sastra tidak berhenti sebagai kenangan, melainkan tetap menjadi bagian dari pembangunan karakter bangsa. Meski WS Rendra telah wafat, karya dan semangatnya diyakini akan terus hidup selama masih dibaca dan dicintai.

