Saka Yoga Festival yang digelar dalam rangka perayaan Hari Nyepi 2026 menjadi momentum untuk menampilkan potensi Jakarta sebagai salah satu pusat pengembangan wellness tourism di Indonesia. Acara ini berlangsung pada Sabtu (11/4/2026) di Lapangan Aldiron, Jakarta Selatan, dan diikuti lebih dari 500 peserta dari berbagai komunitas serta latar belakang.
Festival tersebut tidak hanya menghadirkan sesi yoga bersama, tetapi juga menonjolkan perpaduan antara spiritualitas, kesehatan, dan pariwisata—tiga aspek yang dinilai semakin diminati wisatawan global. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan wisata berbasis kesehatan dan spiritual sebagai bagian dari strategi pariwisata berkualitas.
Menurut Ni Luh Puspa, kegiatan seperti Saka Yoga Festival berkontribusi dalam membangun citra Indonesia sebagai destinasi wellness dan spiritual. Ia menyebut wellness tourism telah masuk program prioritas, dengan harapan semakin banyak kegiatan dan industri bergerak di bidang tersebut.
Selain Bali, pemerintah juga mulai mengarahkan sejumlah daerah seperti Yogyakarta dan Solo sebagai destinasi wellness. Namun, penyelenggaraan acara berskala besar di Jakarta dinilai menunjukkan potensi ibu kota sebagai pusat kegiatan wellness berbasis komunitas.
Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap dapat menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memperkuat pariwisata nasional yang berkelanjutan dan berakar pada budaya lokal. Dalam pelaksanaannya, Saka Yoga Festival tidak hanya menekankan aktivitas fisik, tetapi juga aspek spiritual yang menjadi inti dari praktik yoga.
Dalam konteks spiritualitas, yoga dipandang sebagai bagian dari keseharian umat Hindu. Praktik ini disebut tidak hanya bertujuan menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga membantu meningkatkan kesadaran diri serta mempererat hubungan dengan Sang Pencipta.
Salah satu perwakilan panitia, Rani Agu, menjelaskan yoga mengajarkan pentingnya kesadaran terhadap napas sebagai bagian dari kehidupan. “Tarik napas, kita hidup, buang napas, kita kembali pada-Nya. Kesadaran ini penting untuk menjaga keseimbangan hidup,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa yoga bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan praktik spiritual yang memiliki makna. Festival ini juga menjadi wadah silaturahmi komunitas Hindu di wilayah Jabodetabek untuk saling berinteraksi dan memperkuat kebersamaan.
Di sisi lain, upaya menarik minat wisatawan juga terlihat dari pengembangan layanan tradisional. Lourda mengungkap riset tentang pijat pulen legit telah dimulai sekitar 20 tahun lalu dengan melibatkan 100 pengobat tradisional Betawi yang masih hidup pada saat itu. Ia menyebut teknik manualnya telah dirumuskan dan distandarkan, serta siap diperkenalkan lebih luas, termasuk ke luar negeri.
Pijatan tersebut dipaketkan dengan tangas Betawi, yakni teknik sauna ala Betawi berupa ritual mandi uap berbasis rempah yang sejak dulu digunakan untuk menjaga kesehatan, kebugaran, dan keseimbangan tubuh. Layanan itu kini masuk dalam paket 15 etnaprana yang ditawarkan di Gaya Spa, bisnis spa yang dikelolanya.
Menurut Lourda, minat pengunjung terhadap etnaprana Indonesia tergolong tinggi dan dinilai berpotensi menarik wisatawan berkualitas, khususnya dari mancanegara.