- Kisah 15 Ribu Tahun Evolusi Hubungan Manusia dengan Anjing
Oleh Denny JA
Suatu pagi musim dingin di Tokyo, seorang pria tua berhenti sejenak di depan patung seekor anjing. Ia meletakkan bunga, membungkuk perlahan, lalu menyentuh kepala patung itu seolah menyapa sahabat lama.
Orang-orang berlalu lalang tanpa banyak memperhatikan. Namun di balik patung itu tersimpan sebuah kisah yang telah menggetarkan hati dunia selama hampir satu abad: kisah tentang seekor anjing yang menunggu tuannya setiap hari, bahkan setelah kematian memisahkan mereka.
Dari situlah kita belajar bahwa kadang-kadang kesetiaan paling murni bukan datang dari manusia, melainkan dari makhluk yang tidak pernah mampu mengucapkan satu kata pun.
-000-
Hachikō dan Profesor Ueno: Kisah Kesetiaan yang Menjadi Legenda
Hachikō seekor anjing ras Akita Inu yang lahir pada tahun 1923 di Prefektur Akita, Jepang. Pada tahun 1924 ia dipelihara oleh Profesor Hidesaburō Ueno, seorang ahli pertanian dari Universitas Tokyo.
Setiap pagi, Hachikō mengantar Profesor Ueno ke Stasiun Shibuya. Setiap sore, ia kembali ke stasiun yang sama untuk menjemput tuannya pulang. Rutinitas itu berlangsung hampir tanpa pernah berubah.
Namun pada tanggal 21 Mei 1925, tragedi terjadi. Ketika sedang mengajar di universitas, Profesor Ueno mengalami pendarahan otak mendadak dan meninggal dunia. Ia tidak pernah kembali ke Stasiun Shibuya.
Tetapi Hachikō tidak mengetahui hal itu.
Keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya, ia tetap datang ke stasiun pada jam yang sama. Ia menunggu kereta yang biasa membawa pulang tuannya. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun.
Selama hampir sepuluh tahun, Hachikō terus datang ke Stasiun Shibuya.
-000-
Ia menunggu dalam panas musim panas, dalam hujan, dan dalam dingin salju musim dingin. Banyak penumpang mulai mengenalnya. Para pedagang memberi makan. Para pekerja stasiun menjaganya.
Pada tanggal 4 Oktober 1932, harian Asahi Shimbun memuat kisah Hachikō. Artikel itu menyentuh hati masyarakat Jepang. Dalam waktu singkat, Hachikō menjadi simbol nasional tentang kesetiaan.
Tahun 1934 didirikan patung perunggu Hachikō di depan Stasiun Shibuya. Hachikō sendiri hadir ketika patung itu diresmikan.
Setahun kemudian, tepatnya pada 8 Maret 1935, Hachikō meninggal dunia. Namun kisahnya tidak berakhir.
Patung Hachikō di Shibuya tetap menjadi salah satu titik pertemuan paling terkenal di Jepang. Jutaan orang berfoto di sana setiap tahun.
Lalu terjadi sesuatu yang lebih mengharukan.Pada tahun 2015, tepat 81 tahun setelah patung pertama Hachikō dibuat dan 90 tahun setelah wafatnya Profesor Ueno, Universitas Tokyo meresmikan patung kedua yang memperlihatkan Hachikō sedang melompat menyambut Profesor Ueno yang baru pulang.
Patung itu berbeda dari patung di Shibuya. Jika patung Shibuya menggambarkan penantian, patung Universitas Tokyo menggambarkan pertemuan kembali yang tak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.
Di situlah kekuatan sebuah kisah.
Manusia melihat dirinya sendiri di dalam Hachikō. Kita semua pernah kehilangan seseorang. Kita semua pernah merindukan seseorang yang tidak lagi kembali.
Karena itu Hachikō bukan sekadar anjing. Ia telah menjadi metafora universal tentang cinta yang tetap setia bahkan ketika harapan sudah tidak ada.
-000-
Tiga riset di bawah ini membantu kita memahami mengapa hubungan manusia dengan anjing bisa begitu kuatnya, sama seperti hubungan ibu dengan anak kesayangannya.
Pertama, paper berjudul Co-Evolution The Domestication of Social Cognition in Dogs
Peneliti: Brian Hare, Michelle Brown, Christina Williamson, Michael Tomasello. Ia dipublikasikan di: Science (American Association for the Advancement of Science/AAAS).
Tahun: 2002.
Riset ini menunjukkan bahwa selama proses domestikasi, anjing berevolusi bersama manusia sehingga mengembangkan kemampuan unik memahami isyarat sosial manusia.
Para ilmuwan kini percaya hubungan manusia dan anjing bukan sekadar domestikasi biasa. Hubungan itu merupakan proses co-evolution, evolusi bersama.
Selama sekitar 15.000 hingga 30.000 tahun, manusia dan serigala tertentu hidup berdampingan. Serigala yang lebih jinak mendekati perkampungan manusia untuk mencari sisa makanan. Sebagai gantinya, mereka membantu memberi peringatan terhadap bahaya dan membantu berburu.
Lama-kelamaan kedua spesies saling membentuk.
Manusia memilih anjing yang lebih ramah. Anjing yang lebih ramah memperoleh peluang hidup lebih besar. Seleksi alam bekerja pada kedua pihak.
Penelitian yang dipimpin Brian Hare dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa kemampuan sosial anjing berkembang sangat dekat dengan kemampuan manusia membaca isyarat sosial.
Bahkan anak anjing muda mampu mengikuti arah tunjuk jari manusia lebih baik dibandingkan kerabat terdekat mereka, yaitu serigala.
Artinya, selama ribuan tahun, anjing berevolusi untuk memahami manusia.
Namun proses itu juga bekerja sebaliknya. Banyak antropolog berpendapat bahwa keberadaan anjing membantu manusia bertahan hidup, memperluas wilayah, dan meningkatkan keberhasilan berburu.
Dengan kata lain, sebagian dari sejarah manusia modern mungkin tidak akan terjadi tanpa kehadiran anjing.
Kita tidak hanya menciptakan anjing. Anjing juga ikut menciptakan kita.
-000-
Riset kedua, paper berjudul Oxytocin Loop Oxytocin-Gaze Positive Loop and the Coevolution of Human-Dog Bonds. Peneliti: Miho Nagasawa dkk.
Dipublikasikan di: Science (AAAS).
Tahun: 2015.
Riset ini membuktikan tatapan antara manusia dan anjing meningkatkan hormon oksitosin pada keduanya, memperkuat ikatan emosional layaknya hubungan ibu dan anak.
Pada tahun 2015, tim peneliti Jepang yang dipimpin Miho Nagasawa menemukan fenomena yang disebut oxytocin loop.
Ketika manusia dan anjing saling menatap dalam waktu tertentu, kadar hormon oksitosin meningkat pada keduanya.
Oksitosin sering disebut sebagai hormon cinta dan keterikatan. Hormon yang sama meningkat ketika seorang ibu memandang bayinya.
Temuan ini sangat penting. Hubungan manusia dan anjing ternyata tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga biologis.
Ada mekanisme kimia yang memperkuat ikatan emosional di antara keduanya.
Semakin lama tatapan berlangsung, semakin tinggi kadar oksitosin. Semakin tinggi kadar oksitosin, semakin kuat rasa kedekatan yang muncul.
Inilah sebabnya banyak pemilik anjing menggambarkan hewan peliharaan mereka sebagai anggota keluarga.
Secara biologis, otak mereka memang merespons hubungan itu hampir seperti hubungan dengan manusia yang dicintai.
Di tengah dunia modern yang semakin individualistik, oxytocin loop membantu menjelaskan mengapa jutaan orang merasa menemukan kehangatan emosional dalam hubungan dengan hewan peliharaan.
-000-
Riset ketiga, paper dengan judul Secure Base Effect
The Importance of the Secure Base Effect for Domestic Dogs
Peneliti: Lisa Horn, Ludwig Huber, Friederike Range.
Dipublikasikan di: PLOS ONE.
Tahun: 2013.
Riset ini menunjukkan anjing lebih percaya diri dan mampu belajar lebih baik saat pemilik hadir, menjadikan manusia sebagai sumber rasa aman emosional.
Anak-anak yang memiliki figur aman akan lebih berani menjelajahi dunia. Menariknya, penelitian yang dipimpin Lisa Horn menunjukkan bahwa fenomena serupa juga terjadi pada anjing.
Dalam eksperimen tersebut, anjing menunjukkan performa yang jauh lebih baik ketika pemiliknya hadir dibanding ketika ditinggalkan.
Kehadiran pemilik berfungsi sebagai sumber rasa aman. Fenomena ini disebut secure base effect.
Yang mengejutkan, efek ini sangat mirip dengan hubungan antara anak dan orang tua.
Artinya, ikatan antara manusia dan anjing jauh lebih dalam daripada sekadar hubungan pemilik dan hewan.
Mereka membangun hubungan afektif yang memiliki struktur psikologis nyata.
Dalam dunia yang semakin dipenuhi kecemasan, kesepian, dan tekanan sosial, seekor anjing sering kali menjadi tempat pulang secara emosional.
Ia tidak menghakimi. Ia tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya hadir. Dan kadang-kadang, kehadiran itulah yang paling kita butuhkan.
-000-
Di Eropa, ketiga lapisan itu: sejarah co-evolution, ikatan biologis oksitosin, dan secure base effect, bertemu dengan kesepian modern. Di situlah hewan peliharaan menjelma bukan sekadar hobi, melainkan infrastruktur emosional sehari-hari.
Data terbaru dari Federasi Industri Makanan Hewan Peliharaan Eropa (FEDIAF) menunjukkan bahwa lebih dari separuh rumah tangga di Eropa kini memiliki setidaknya satu hewan peliharaan.
Jumlahnya mencapai lebih dari 160 juta hewan peliharaan. Anjing tetap menjadi hewan peliharaan paling populer, diikuti kucing. Fenomena ini bukan kebetulan.
Walau sejarah ini didominasi anjing, fenomena tersebut merefleksikan kerinduan universal masyarakat Eropa. Baik kucing maupun hewan lain kini bertransformasi menjadi jangkar psikologis serupa di tengah kesepian kota-kota modern.
Mengapa di Eropa begitu banyak rumah tangga memiliki hewan peliharaan?
Pertama, struktur keluarga di Eropa berubah. Rumah tangga semakin kecil. Jumlah orang yang hidup sendiri meningkat. Hewan peliharaan mengisi kebutuhan akan kedekatan emosional yang sebelumnya dipenuhi keluarga besar.
Kedua, tingkat urbanisasi dan individualisasi meningkat. Banyak warga kota mengalami kesepian kronis. Organisasi kesehatan di berbagai negara Eropa bahkan mulai menyebut kesepian sebagai masalah kesehatan publik.
Dalam konteks ini, hewan peliharaan menjadi sumber koneksi sosial yang stabil.
Ketiga, kesadaran tentang kesehatan mental berkembang pesat. Banyak studi menunjukkan bahwa interaksi dengan hewan dapat menurunkan stres, tekanan darah, dan gejala kecemasan.
Keempat, muncul perubahan moral dalam cara manusia memandang hewan.
Jika dahulu hewan dilihat terutama sebagai alat kerja atau penjaga rumah, kini semakin banyak orang melihat mereka sebagai makhluk yang memiliki hak, emosi, dan nilai intrinsik.
Gerakan animal welfare yang berkembang sejak abad ke-19 mempercepat perubahan tersebut.
Namun alasan yang paling mendalam mungkin bukan alasan ekonomi, psikologis, atau sosial. Alasannya adalah eksistensial.
Di tengah dunia yang semakin cepat, kompetitif, dan digital, manusia merindukan hubungan yang tidak transaksional.
Seekor anjing tidak mencintai kita karena jabatan. Ia tidak peduli pada saldo rekening. Ia tidak bertanya agama, suku, atau ideologi.
Ia mencintai karena ia mengenali kita sebagai bagian dari dunianya.
Dan dalam dunia yang semakin terpecah, bentuk cinta seperti itu menjadi semakin langka.
-000-
Saya sendiri selama bertahun-tahun hidup bersama sebuah akuarium laut yang menjadi bagian dari ritme harian saya.
Di dalamnya berenang hiu kecil, ikan-ikan tropis berwarna cerah, dan terumbu karang yang tumbuh perlahan seolah sedang menulis kisahnya sendiri.
Setiap malam, setelah hari yang panjang dengan berbagai urusan pekerjaan, politik, organisasi, dan kehidupan sosial, saya sering duduk diam di depan akuarium itu.
Mereka tidak pernah berbicara kepada saya. Mereka tidak pernah memberi nasihat. Mereka tidak pernah menawarkan solusi atas persoalan yang saya hadapi.
Namun justru dalam keheningan itulah saya menemukan sesuatu yang sering hilang dalam kehidupan modern. Saya menemukan ketenangan yang tidak menuntut.
Saya menemukan kehadiran yang tidak menghakimi. Di balik kaca akuarium itu, saya melihat kehidupan yang bergerak perlahan, jauh dari kegaduhan dunia manusia yang sering penuh ambisi, persaingan, dan kecemasan.
Dari pengalaman sederhana itu saya mulai memahami mengapa begitu banyak orang membangun ikatan emosional yang mendalam dengan hewan peliharaan mereka.
Hubungan itu bukan terutama soal kepemilikan. Hubungan itu adalah pengalaman merasa terhubung dengan kehidupan lain di luar diri kita.
Ketika saya memandangi hiu kecil yang berputar mengelilingi terumbu karang, saya sering merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan bahasa rasional: kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian di dunia ini.
Kita berbagi bumi dengan makhluk lain yang mungkin tidak memahami bahasa kita, tetapi mampu menghadirkan rasa damai yang kadang gagal diberikan oleh sesama manusia.
-000-
Selama lima belas ribu tahun perjalanan bersama, manusia dan anjing telah saling mengubah satu sama lain. Kita memberi mereka rumah, tetapi mereka memberi kita sesuatu yang jauh lebih besar: rasa diterima apa adanya.
Dari Hachikō yang menunggu di Stasiun Shibuya hingga jutaan anjing yang tidur di kaki pemiliknya malam ini, sejarah panjang itu mengajarkan satu hal sederhana.
Kesetiaan bukanlah kemampuan untuk tetap tinggal ketika semuanya mudah, melainkan keberanian untuk tetap mencintai ketika alasan untuk pergi sudah begitu banyak.
Karena pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah peradaban bukan hanya ditentukan oleh bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.
Melainkan, ini juga oleh bagaimana ia membalas cinta makhluk yang telah setia berjalan di sisinya selama lima belas ribu tahun.
Semakin modern manusia, semakin ia membutuhkan hubungan yang tidak transaksional. Di zaman AI, hubungan paling manusiawi justru sering ditemukan bersama hewan.***
Jakarta, 20 Juni 2026
REFERENSI
Buku Utama
1. The Domestic Dog: Its Evolution, Behavior and Interactions with People
James Serpell (Editor)
Cambridge University Press
2017
2. Our Dogs, Ourselves: The Story of a Singular Bond
Alexandra Horowitz
Scribner
2019
3. Oxytocin-Gaze Positive Loop and the Coevolution of Human-Dog Bonds
Miho Nagasawa et al.
Science
2015
4. The Importance of Attachment for Dogs’ Social and Cognitive Functioning: Secure Base Effect
Lisa Horn et al.
PLOS ONE
2013
Rubrik Khusus
MENGAPA LEBIH DARI SEPARUH PENDUDUK EROPA KINI PUNYA HEWAN PELIHARAAN
20 Jun 2026
-
Sumber Foto: DennyJAWorld

