BERITA TERKINI
KETIKA PERANG IRAN VERSUS USA + ISRAEL BERAKHIR DENGAN TRANSAKSI

KETIKA PERANG IRAN VERSUS USA + ISRAEL BERAKHIR DENGAN TRANSAKSI

Oleh Denny JA

Di Teheran, seorang ibu memeluk anaknya di ruang bawah tanah ketika sirene serangan udara kembali meraung. Di atas mereka, langit malam bergetar oleh ancaman rudal.

Ribuan kilometer dari sana, di New York, seorang trader minyak menatap layar komputer yang menunjukkan harga energi melonjak dari menit ke menit.

Mereka tak pernah bertemu. Mereka berbeda bahasa, agama, dan nasib. Namun malam itu hidup keduanya terhubung oleh satu jalur laut sempit bernama Hormuz.

Sang ibu takut kehilangan anaknya. Sang trader takut kehilangan miliaran dolar. Ketakutan mereka berbeda, tetapi sumbernya sama: perang.

Lalu sesuatu yang tak pernah dibayangkan terjadi. Perang yang dimulai dengan rudal, ancaman, dan darah perlahan bergerak menuju meja perundingan.

Yang semula diperebutkan dengan senjata mulai dihitung dengan angka. Yang semula ingin dimenangkan dengan kekuatan mulai dinegosiasikan dengan konsesi.

Di situlah dunia menyaksikan sebuah pelajaran tua yang terus berulang dalam sejarah: banyak perang dimulai oleh emosi, tetapi sebagian besar berakhir oleh transaksi.

-000-

Sejarah biasanya mengajarkan bahwa perang berakhir ketika satu pihak menyerah, ketika ibu kota jatuh, atau ketika pasukan kehabisan tenaga.

Namun perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel memperlihatkan pola yang berbeda.

Yang menentukan bukan lagi siapa memiliki rudal paling banyak. Yang menentukan adalah siapa mampu memengaruhi arus energi dunia, stabilitas pasar global, dan biaya politik yang harus ditanggung para pemimpin negara.

Di era globalisasi, ekonomi telah menjadi medan perang yang sama pentingnya dengan medan tempur. Karena itu, ketika perang ini berakhir melalui negosiasi, pembukaan kembali Selat Hormuz, pelonggaran sebagian sanksi, dan pembicaraan ekonomi jangka panjang, dunia menyaksikan lahirnya logika geopolitik baru.

Perang berubah menjadi tawar-menawar. Musuh berubah menjadi mitra negosiasi.

Dan kemenangan berubah menjadi kemampuan memperoleh konsesi tanpa harus menghancurkan lawan.

-000-

Mengamati perkembangan mutakhir perang Iran versus USA + Israel, kita sampai pada tiga perkembangan terbaru.

Perkembangan Pertama: Selat Hormuz Mengalahkan Rudal

Ada saat dalam sejarah ketika geografi mengalahkan teknologi.

Selama berbulan-bulan perhatian dunia tertuju pada rudal balistik, drone tempur, kapal induk, dan sistem pertahanan udara. Namun pada akhirnya, yang paling ditakuti dunia justru sebuah jalur laut sempit bernama Selat Hormuz.

Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur ini. Ketika ancaman penutupan Hormuz muncul, harga energi global langsung bergejolak.

Negara-negara pengimpor minyak mulai menghitung ulang risiko ekonomi mereka. Pasar saham menjadi lebih sensitif terhadap setiap perkembangan militer di kawasan.

Dalam situasi seperti itu, tekanan terhadap Washington tidak hanya datang dari medan perang. Tekanan juga datang dari perusahaan energi, industri manufaktur, pasar keuangan, dan jutaan konsumen yang khawatir menghadapi lonjakan harga.

Inilah titik balik yang menentukan.

Amerika Serikat mulai menyadari bahwa biaya mempertahankan perang dapat melampaui manfaat strategisnya. Perang yang terlalu lama berisiko mengganggu ekonomi domestik dan menimbulkan beban politik yang besar.

Iran tidak memenangkan perang secara militer. Namun Iran berhasil menunjukkan bahwa posisinya di sekitar Hormuz memberinya daya tawar yang sangat besar.

Pelajaran geopolitiknya jelas. Dalam dunia yang saling terhubung, jalur perdagangan kadang lebih berpengaruh daripada pangkalan militer. Negara yang menguasai pintu gerbang energi global memiliki kekuatan yang tidak selalu dapat dihancurkan oleh rudal.

-000-

Perkembangan Kedua: Israel Tidak Kalah di Medan Tempur, Tetapi Kehilangan Ruang Negosiasi

Ada kekalahan yang tidak meninggalkan puing-puing.

Tidak ada tank yang terbakar. Tidak ada pangkalan yang direbut. Tidak ada pasukan yang menyerah.

Namun sebuah negara bisa kehilangan pengaruh ketika keputusan masa depannya dibuat tanpa keterlibatan penuh dirinya.

Itulah yang dirasakan Israel ketika pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran mulai berkembang menjadi kerangka penyelesaian konflik.

Selama bertahun-tahun, Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial. Program nuklir Iran, jaringan kelompok proksi, serta pengaruh regional Teheran menjadi alasan utama berbagai operasi militer dan diplomatik.

Namun dalam fase akhir konflik, prioritas Washington tampak bergeser. Fokus utama bukan lagi semata-mata mengurangi ancaman Iran, melainkan mencegah perang berkepanjangan yang dapat mengguncang ekonomi global dan politik domestik Amerika.

Hubungan Amerika dan Israel tetap sangat kuat. Tetapi kuatnya hubungan tidak selalu berarti identiknya kepentingan.

Di sinilah muncul ironi geopolitik modern. Sekutu terdekat belum tentu menjadi aktor utama dalam setiap keputusan strategis.

Ketika kepentingan energi, ekonomi, dan stabilitas global menjadi prioritas, bahkan sekutu lama dapat merasa berada di kursi penonton.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa dalam politik internasional, tidak ada persahabatan yang sepenuhnya permanen. Yang lebih permanen adalah kepentingan nasional.

-000-

Perkembangan Ketiga: Dari Perang Menuju Transaksi

Perkembangan ketiga adalah yang paling mengejutkan. Perang ternyata tidak berakhir dengan kemenangan mutlak siapa pun.

Perang berakhir dengan sebuah transaksi.

Kesepakatan yang muncul membuka ruang bagi pembicaraan nuklir baru, pelepasan sebagian aset Iran yang dibekukan, pelonggaran sanksi tertentu, serta kemungkinan kerja sama ekonomi yang lebih luas jika berbagai syarat dipenuhi.

Bagi sebagian pihak, ini terlihat sebagai kemenangan Iran. Bagi pihak lain, ini justru kemenangan diplomasi Amerika yang berhasil memperoleh penghentian konflik tanpa perang yang lebih besar.

Namun yang lebih menarik adalah perubahan paradigma yang sedang terjadi.

Selama puluhan tahun, Timur Tengah sering bergerak dengan bahasa ideologi. Revolusi, identitas agama, keamanan nasional, dan perlawanan menjadi kata-kata dominan.

Kini bahasa yang mulai menggantikannya adalah investasi, perdagangan, energi, pembangunan, dan integrasi ekonomi.

Perubahan bahasa selalu mendahului perubahan sejarah. Karena itu, pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi siapa yang menang perang.

Pertanyaan yang lebih relevan adalah siapa yang paling siap memanfaatkan perdamaian.

Mereka yang mampu mengubah ketegangan menjadi kemakmuran akan memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar daripada mereka yang hanya mencari kemenangan simbolik.

-000-

Sebagai seseorang yang sepanjang hidup mengamati politik dan perilaku manusia, saya selalu terpesona oleh satu ironi sejarah.

Banyak perang dimulai karena kebanggaan. Namun sebagian besar perang berakhir karena kalkulasi.

Para pemimpin mungkin berbicara tentang kehormatan, ideologi, dan prinsip. Tetapi ketika biaya perang mulai melampaui manfaatnya, bahasa yang digunakan berubah menjadi angka, investasi, perdagangan, dan kompromi.

Saya teringat berbagai konflik yang saya pelajari selama puluhan tahun. Hampir semuanya berakhir dengan cara yang serupa. Setelah darah mengalir dan emosi memuncak, manusia akhirnya kembali ke meja perundingan.

Yang berubah hanya jumlah korban yang sudah terlanjur jatuh.

Karena itu, setiap kali membaca berita tentang perang Iran, Amerika, dan Israel, saya tidak hanya melihat pertarungan negara. Saya melihat drama lama umat manusia yang terus berulang. Kita sering memerlukan kehancuran terlebih dahulu sebelum menyadari pentingnya perdamaian.

Ketika saya pertama kali menghadiri pertemuan dunia sektor energi setelah perang pecah, saya melihat bagaimana satu rumor tentang Hormuz mampu mengubah kalkulasi investasi miliaran dolar.

-000-

Ada dua buku yang memperkaya wawasan kita tengang tema ini. Buku pertama berjudul The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power. Penulisnya Daniel Yergin, 1991

Tidak ada buku yang lebih membantu memahami peran Selat Hormuz dan energi dalam geopolitik modern selain karya monumental Daniel Yergin ini.

Buku tersebut menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-20, minyak bukan sekadar komoditas ekonomi. Minyak adalah sumber kekuasaan. Ia menentukan hasil perang, membentuk aliansi internasional, dan mengubah peta politik dunia.

Yergin memperlihatkan bagaimana berbagai konflik besar, mulai dari Perang Dunia hingga berbagai krisis Timur Tengah, selalu memiliki dimensi energi yang sangat kuat.

Negara-negara besar tidak hanya berjuang mempertahankan wilayah. Mereka juga berjuang mempertahankan akses terhadap sumber daya strategis.

Ketika membaca perang Iran versus Amerika dan Israel melalui perspektif buku ini, kita memahami bahwa isu utamanya bukan hanya ideologi atau keamanan. Isu utamanya adalah stabilitas sistem energi global.

The Prize mengajarkan bahwa siapa yang menguasai aliran energi sering kali memiliki pengaruh yang melampaui kekuatan militernya.

Dalam konteks perang Iran, pelajaran itu terlihat sangat nyata. Hormuz menjadi simbol bagaimana geografi dapat menciptakan daya tawar yang luar biasa besar.

Buku ini membantu kita memahami mengapa sebuah selat dapat lebih menentukan arah sejarah dibandingkan ribuan rudal.

-000-

Buku kedua berjudul The Tragedy of Great Power Politics. Ditulis oleh John J. Mearsheimer, 2001

Jika Daniel Yergin menjelaskan energi, maka John Mearsheimer menjelaskan logika kekuasaan.

Dalam buku ini, Mearsheimer berargumen bahwa negara-negara besar bertindak terutama untuk mempertahankan keamanan dan kepentingan mereka sendiri.

Moralitas, persahabatan, dan ideologi memiliki tempat, tetapi kepentingan strategis hampir selalu lebih menentukan.

Gagasan ini sangat relevan untuk memahami perubahan sikap Amerika dalam perang Iran versus Israel.

Banyak orang bertanya mengapa Amerika bersedia bernegosiasi dengan Iran meskipun memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Israel.

Jawaban Mearsheimer sederhana namun kuat. Negara besar akan mengambil keputusan yang menurut mereka paling menguntungkan kepentingan nasionalnya.

Melalui perspektif ini, kita memahami bahwa perubahan posisi Washington bukanlah pengkhianatan terhadap sekutu. Itu adalah ekspresi logika realisme dalam politik internasional.

Buku ini membuka mata bahwa dunia tidak bergerak berdasarkan sentimen, melainkan berdasarkan kalkulasi kekuatan.

Ketika membaca konflik Timur Tengah melalui lensa Mearsheimer, kita memahami bahwa yang berubah bukan hanya arah perang. Yang berubah adalah keseimbangan kepentingan yang melatarbelakangi perang itu sendiri.

-000-

Namun, transaksi bukanlah perdamaian abadi. Dalam realitas Timur Tengah, konsesi ekonomi sering kali hanyalah jeda strategis bagi setiap aktor untuk menghimpun kekuatan baru sebelum konflik berikutnya kembali meletus.

Baik Yergin maupun Mearsheimer juga mengingatkan bahwa kalkulasi kekuasaan tidak pernah steril dari kekerasan. Transaksi lahir bukan dari kehendak baik, melainkan dari rasa lelah, rasa takut, dan keterbatasan nyata aktor-aktor negara.

Tiga Prediksi Ke Mana Konflik Ini Akan Berujung

Prediksi pertama, Timur Tengah akan memasuki periode stabilitas yang rapuh. Perang besar mungkin mereda, tetapi kompetisi pengaruh tetap berlangsung. Konflik akan bergeser dari medan tempur menuju meja negosiasi, pasar energi, dan diplomasi regional.

Prediksi kedua, Iran akan berusaha mengubah kemenangan diplomatik menjadi keuntungan ekonomi. Jika sanksi terus dilonggarkan dan investasi masuk, Teheran memperoleh peluang memperkuat ekonominya tanpa harus memenangkan perang secara militer.

Prediksi ketiga, Amerika Serikat akan semakin menempatkan stabilitas energi dan ekonomi global sebagai prioritas utama. Di masa depan, keberhasilan diplomasi kemungkinan lebih sering diukur bukan dari jumlah musuh yang dikalahkan, melainkan dari jumlah krisis yang berhasil dicegah.

Timur Tengah akan semakin sedikit mengalami perang konvensional dan semakin banyak mengalami perang ekonomi.

-000-

Perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel mengajarkan satu pelajaran yang sangat tua namun terus relevan.

Pada akhirnya, manusia tidak hidup dari kemenangan militer. Manusia hidup dari stabilitas, perdagangan, energi, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Karena itu, ketika perang berakhir dengan transaksi, sejarah sedang mengingatkan kita bahwa kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan lawan, melainkan kemampuan mengubah konflik menjadi kepentingan bersama.

Kemenangan masa depan tidak lagi diukur dari wilayah yang direbut, tetapi dari investasi yang berhasil ditarik.

Pada akhirnya, bukan rudal yang paling menentukan arah sejarah, melainkan kemampuan manusia menemukan harga yang membuat perdamaian lebih menguntungkan daripada perang.

Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai zaman ketika pasar berhasil memaksa perdamaian yang gagal dipaksakan oleh rudal.***

Jakarta, 19 Juni 2026

REFERENSI

1. The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power — Daniel Yergin, Simon & Schuster, 1991.
2. The Tragedy of Great Power Politics — John J. Mearsheimer, W.W. Norton & Company, 2001.