BERITA TERKINI
Retreat Pemulihan Burnout di Cigombong Bogor Jadi Pilihan Warga Jabodetabek

Retreat Pemulihan Burnout di Cigombong Bogor Jadi Pilihan Warga Jabodetabek

Fenomena burnout recovery retreat di Bogor kian menonjol di kalangan warga Jabodetabek, khususnya pekerja urban Jakarta yang merasa lelah dengan tekanan hidup di kota. Di tengah kemacetan, notifikasi pekerjaan yang tak berhenti, dan ritme harian yang padat, sebagian orang mulai mencari ruang tenang untuk memulihkan kondisi mental melalui program wellness retreat di kawasan Cigombong, Kabupaten Bogor.

Tren ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap wisata berbasis ketenangan dan pemulihan, bukan sekadar rekreasi. Bogor—terutama Cigombong—menjadi salah satu titik yang banyak dituju warga kota yang ingin “menghilang sementara” dari rutinitas. Mereka datang bukan hanya untuk berlibur, melainkan untuk mencoba bertahan dari kondisi kelelahan mental yang berkepanjangan.

Salah satu lokasi yang ramai dibicarakan adalah Selayang, penginapan berbasis alam di Cigombong. Konsep yang ditawarkan berbeda dari tempat wisata konvensional. Tidak ada wahana ramai, musik keras, atau kerumunan besar. Daya tarik utamanya justru suasana hening, udara pegunungan, dan aktivitas sederhana seperti yoga, journaling, hingga clay pottery.

Berdasarkan data kunjungan Selayang, sekitar 120 peserta mengikuti program wellness setiap bulan, sementara jumlah tamu menginap tercatat lebih dari 1.200 orang per bulan. Mayoritas pengunjung berasal dari Jakarta dan wilayah penyangga seperti Depok, Bekasi, serta Tangerang Selatan. Angka tersebut memperlihatkan kebutuhan akan ruang tenang yang makin kuat di kalangan masyarakat urban.

Burnout selama ini kerap dipahami sebagai rasa lelah akibat pekerjaan. Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan burnout sebagai sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Gejalanya tidak selalu tampak jelas, mulai dari sulit fokus, mudah marah, kehilangan motivasi, hingga rasa kosong yang terus muncul.

Di Jakarta, kondisi itu disebut semakin rumit karena budaya produktivitas yang menekan. Istirahat sering dipersepsikan sebagai kemalasan, sementara tidak sibuk dianggap tidak berkembang. “Kadang lagi libur pun pikiran tetap kerja,” ujar Rina (32), pekerja kreatif asal Jakarta Selatan yang mengikuti program wellness di Bogor. “Bahkan waktu diam, rasanya tetap ada rasa bersalah.”

Perubahan ini ikut menggeser cara sebagian orang memaknai liburan. Jika sebelumnya akhir pekan identik dengan hiburan, kini ada kecenderungan mencari tempat yang memungkinkan mereka memutus koneksi dari rutinitas digital dan tekanan pekerjaan.

Bogor sejak lama dikenal sebagai tujuan wisata singkat warga Jakarta. Namun pola kunjungan disebut mulai berubah: bukan lagi sekadar mencari udara sejuk atau tempat makan, melainkan pemulihan mental. Di Cigombong, perubahan itu terasa seiring akses Tol Bocimi yang mempermudah perjalanan dari Jakarta dan menjadi alternatif bagi mereka yang ingin menghindari kepadatan jalur Puncak.

Waktu tempuh menuju kawasan tersebut diperkirakan sekitar 75–90 menit dari Jakarta dengan kendaraan pribadi. Setelah tiba, suasana yang kontras menjadi alasan utama orang bertahan: tidak ada suara klakson atau gedung tinggi, yang terdengar hanya angin dan serangga malam. Salah satu pengelola Selayang mengatakan banyak tamu datang dalam kondisi benar-benar lelah dan tidak mencari hiburan ramai, melainkan ingin bisa bernapas lebih tenang.

Di sisi lain, ketenangan kini ikut membentuk industri baru. Wisata wellness berkembang dengan aktivitas seperti sound healing, yoga alam, mindfulness, dan journaling. Di Selayang, program akhir pekan seperti Rise & Flow Sunrise Yoga menjadi salah satu yang diminati, dengan sesi yoga pagi di area terbuka berlatar pegunungan.

Sejumlah peserta mengaku pengalaman diam tanpa gawai terasa tidak biasa. “Awalnya aneh karena nggak terbiasa diam tanpa pegang HP,” ujar Dita (27), peserta asal Tangerang. “Tapi setelah beberapa jam, baru sadar ternyata kepala saya memang capek.” Fenomena ini juga menunjukkan perubahan perilaku konsumsi: sebagian orang kini rela membayar untuk mendapatkan waktu tenang.

Namun tren tersebut memunculkan pertanyaan sosial. Jika ketenangan harus dibeli melalui retreat dan resor, apakah kehidupan sehari-hari di kota sudah terlalu bising dan menekan? Program wellness memang semakin mudah ditemukan, tetapi sebagian besar masih menyasar kelas menengah urban dengan kemampuan finansial tertentu.

Tarif menginap di kawasan seperti Selayang berkisar mulai Rp800 ribuan hingga lebih dari Rp2 juta per malam, tergantung jenis penginapan dan musim kunjungan. Bagi sebagian orang angka itu dinilai mahal, tetapi bagi mereka yang mengalami tekanan mental berkepanjangan, biaya tersebut dianggap sebagai investasi kesehatan. Seorang pengunjung asal Jakarta Barat menuturkan, ia merasa mengeluarkan uang bukan untuk liburan, melainkan agar bisa tidur tenang.

Pengamat sosial juga menilai tren wellness mencerminkan keterbatasan kota dalam menyediakan ruang hidup yang sehat bagi warganya. Kepadatan, waktu perjalanan panjang, tekanan ekonomi, serta budaya kerja cepat menciptakan kondisi psikologis yang melelahkan, sehingga sebagian orang memilih pergi sementara untuk memulihkan diri.

Bogor diuntungkan oleh perubahan tren ini. Selain dekat dari Jakarta, kawasan seperti Cigombong masih memiliki lanskap hijau dan suasana yang relatif lebih tenang. Aksesibilitas juga menjadi nilai tambah: lokasi seperti Selayang dapat dicapai melalui Tol Bocimi tanpa harus melewati jalur padat Puncak. Pengunjung juga bisa mengakses kawasan tersebut dengan kombinasi KRL dan KA Pangrango menuju Stasiun Cigombong.

Di sekitar Cigombong, terdapat pula sejumlah destinasi alam seperti Danau Lido, Curug Cisadane, hingga Penangkaran Elang Cigombong. Meski demikian, pengamat pariwisata mengingatkan agar perkembangan wisata wellness tetap menjaga keseimbangan lingkungan dan tidak berubah menjadi eksploitasi tren semata.

Pada akhirnya, yang dicari banyak pengunjung bukan kemewahan berlebihan, melainkan ruang untuk kembali merasa utuh. Di tengah kehidupan kota yang bergerak tanpa jeda, kemampuan untuk berhenti perlahan menjadi sesuatu yang terasa mewah—dan semakin sibuk kehidupan urban, semakin mahal harga sebuah ketenangan.