BERITA TERKINI
Podcast Politik Makin Populer di Kalangan Muda, Jadi Ruang Informasi dan Klarifikasi Tokoh

Podcast Politik Makin Populer di Kalangan Muda, Jadi Ruang Informasi dan Klarifikasi Tokoh

Podcast (siniar) kian menegaskan posisinya sebagai salah satu media informasi yang diminati generasi muda. Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu negara dengan audiens podcast terbanyak secara global, dengan persentase pendengar mencapai 42,6% dari total populasi warganet Indonesia yang berjumlah 221 juta jiwa.

Selama ini, segmen siniar bertema motivasi, kesehatan, gaya hidup, hingga horor termasuk yang paling digemari audiens muda. Namun, pembahasan isu politik juga semakin populer dan mulai memiliki basis pendengar yang tidak kalah besar.

Tren siniar politik kini tidak lagi terpaku pada momentum besar seperti pemilu, yang sebelumnya memantik lahirnya tren podcast. Pembahasannya meluas ke isu pemerintahan, kebijakan publik, hingga tokoh tertentu yang sedang menjadi perhatian masyarakat.

Sejumlah karakter podcast dinilai menjadi daya tarik tersendiri. Tayangan bisa diputar ulang di berbagai platform dan, dalam banyak kasus, tidak terpotong iklan komersial, sehingga pendengar merasa tidak tertinggal informasi. Gaya komunikasi yang cenderung spontan, tanpa sensor, dan tidak berbasis naskah juga membuat dialog terasa lebih natural, sekaligus memungkinkan publik menilai ekspresi narasumber dan podcaster saat berdiskusi.

Di Indonesia, kanal podcast politik disebut mengambil inspirasi dari format percakapan panjang seperti The Joe Rogan Experience, yang membahas beragam topik hangat, termasuk yang bersinggungan dengan politik. Format semacam ini kemudian memengaruhi kemunculan podcast politik lokal.

Awal tren podcast politik di Indonesia banyak dikaitkan dengan populernya Close The Door milik Deddy Corbuzier, yang kerap menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk tokoh pemerintahan dan figur yang sedang ramai diperbincangkan publik. Kesuksesan tersebut diikuti kemunculan kanal lain seperti Total Politik, Komisidotco, Cokro TV, Akbar Faizal Uncensored, hingga Unpacking Indonesia.

Sejumlah podcast politik menawarkan informasi dan testimoni narasumber yang lebih panjang, kompleks, dan mendalam. Program seperti Mata Najwa dan Close The Door disebut memiliki audiens besar karena ulasannya yang dianggap tajam dan kritis. Potongan diskusi dari podcast juga kerap menjadi rujukan media arus utama, baik dalam bentuk kutipan maupun penggalan pernyataan narasumber.

Seiring meningkatnya minat, media mainstream turut mengembangkan kanal podcast masing-masing. Salah satu contohnya adalah GasPol milik KOMPAS. Selain itu, sejumlah tayangan talkshow yang sebelumnya dikenal di televisi juga didaur ulang dalam format podcast, seperti Mata Najwa atau Indonesia Lawyer Club.

Keramaian siniar politik turut dipicu oleh kedalaman isu yang diangkat, cerita yang disebut tidak selalu muncul di media mainstream, hingga kontroversi atau polemik setelah tayangan dipublikasikan di YouTube. Beberapa contoh yang disebut antara lain polemik privilese Rahayu Saraswati di On The Record Antara TV, polemik Asian Values tentang dinasti politik di Total Politik, serta teror kepala babi setelah podcast revisi UU TNI di Bocor Alus.

Dari sisi trafik, siniar politik juga dinilai menjanjikan secara ekonomi karena dapat menarik endorsement dan adsense. Dalam konteks ini, keberhasilan podcast politik yang bermunculan dinilai bergantung pada isu yang disajikan serta kemampuan podcaster menggali keterangan narasumber agar lebih terbuka.

Di sisi lain, para politikus dan kalangan akademisi juga mulai membangun kanal podcast sendiri. Beberapa nama yang disebut antara lain Mahfud MD, Helmy Yahya, hingga Kaesang Pangarep. Mereka mengikuti jejak Akbar Faizal yang telah memiliki podcast sejak 2023.

Bagi politikus, podcast dipandang dapat membantu menjaga popularitas sekaligus menjadi ruang klarifikasi—atau pembenaran—atas isu politik yang ramai di ruang publik, terutama bila menyangkut citra mereka. Kantor Staf Presiden juga mengelola kanal podcast Bina Graha untuk menyampaikan atau mengklarifikasi informasi, termasuk bantahan atas tuduhan Presiden Joko Widodo ‘cawe-cawe’ dalam Pemilu 2024 yang disampaikan Ali Mochtar Ngabalin melalui kanal tersebut.

Meski menawarkan ruang komunikasi langsung ke publik, podcast politik juga menyimpan risiko bagi podcaster maupun narasumber. Konten yang dianggap merugikan pihak lain bisa berujung somasi. Kanal podcast juga rentan terhadap serangan siber, mulai dari pembajakan hingga pemblokiran. Salah satu contoh yang disebut adalah serangan siber ke redaksi Narasi pada 2022 dengan pesan “diam atau mati”.

Ke depan, kedalaman informasi dalam podcast dinilai dapat ditingkatkan dengan dukungan data, misalnya melalui layar pendukung yang menampilkan testimoni atau grafik, sehingga pembahasan tidak berhenti pada klaim “katanya”. Dengan pendekatan berbasis data, podcast berpotensi menjadi sarana edukasi bagi audiens muda bahwa komunikasi publik di media tidak hanya berupa testimoni, tetapi juga narasi yang masuk akal.

Dalam konteks demokrasi, negara juga disebut perlu memfasilitasi berbagai aksi politik anak sebagai bentuk kontribusi mereka dalam kehidupan berdemokrasi.