BERITA TERKINI
Pesenggiri Festival 2026: Ketika Rempah, Warisan, dan Harmoni Menjadi Alasan Baru Menengok Lampung

Pesenggiri Festival 2026: Ketika Rempah, Warisan, dan Harmoni Menjadi Alasan Baru Menengok Lampung

Nama “Pesenggiri Festival 2026” mendadak ramai dicari. Bukan semata karena tanggalnya sudah diumumkan, melainkan karena ia menawarkan sesuatu yang jarang: perayaan budaya yang terasa relevan.

Di tengah hiruk-pikuk kabar cepat, festival ini muncul sebagai jeda. Ia mengajak publik menoleh pada rempah, warisan, dan harmoni, tiga kata yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan sejarah panjang.

Pesenggiri Festival dipastikan kembali hadir pada 3 sampai 5 Juli 2026. Lokasinya di Lampung Marriott Resort & Spa, Teluk Pandan, Pesawaran.

Festival ini mengusung tema “Spice, Heritage, and Harmony”. Ia ditargetkan bukan hanya agenda tahunan, tetapi juga alasan baru untuk berkunjung ke Lampung.

Selama tiga hari, pengunjung dijanjikan pengalaman yang memadukan pesisir, masterclass, kuliner berbasis rempah, seni tradisi, dan karya kreatif lokal. Semuanya dirancang dalam satu perayaan.

-000-

Mengapa Pesenggiri Festival Menjadi Tren

Ada tiga alasan mengapa isu ini melesat di Google Trend. Pertama, ia menyentuh rasa rindu publik pada pengalaman yang nyata, bukan sekadar tontonan digital.

Festival menawarkan pertemuan langsung dengan rasa, bunyi, dan cerita. Di era layar, janji tentang “hadir sepenuhnya” menjadi komoditas emosi yang langka.

Kedua, ada daya tarik narasi rempah. Rempah bukan hanya bumbu, melainkan pintu masuk menuju sejarah, perdagangan, dan identitas.

Saat kata “rempah” disebut, ingatan kolektif ikut bergerak. Ia mengundang pertanyaan: siapa kita, dari jalur mana kita dibentuk, dan apa yang tersisa hari ini.

Ketiga, penyelenggaraan di kawasan pantai seluas delapan hektare memberi imaji yang kuat. Lanskap Teluk Pandan dan desa Hurun menjadi latar yang mudah dibayangkan.

Dalam ekonomi perhatian, sesuatu yang mudah divisualisasikan lebih cepat menyebar. Apalagi ketika dibingkai sebagai destinasi lifestyle sekaligus budaya.

-000-

Apa yang Sebenarnya Ditawarkan Pesenggiri Festival 2026

Pesenggiri Festival diselenggarakan oleh One Earth Canvas Foundation. Festival ini diposisikan sebagai ruang kolaboratif lintas pelaku seni, komunitas kreatif, investor korporasi, dan generasi muda.

Benang merahnya adalah falsafah hidup masyarakat Lampung: pesenggiri. Falsafah ini menjunjung kehormatan, keramahan, keterbukaan, dan kebersamaan gotong royong.

Nilai itu tidak berhenti sebagai slogan. Ia dijanjikan hadir sebagai pengikat rangkaian acara, dari pertunjukan hingga kelas-kelas penguatan kapasitas.

Selphie Bong menyebut Pesenggiri bukan sekadar festival, melainkan perayaan budaya. Ia ingin menghadirkan Lampung sebagai titik temu warisan rempah, sejarah, dan seni tradisi.

Ia juga menekankan pengingat sejarah panjang Lampung sebagai bagian penting jalur perdagangan rempah Nusantara pada masa kejayaan Sriwijaya. Pernyataan ini penting sebagai bingkai identitas.

Di panggung, ada “Pesenggiri Swarnadwipa”. Pertunjukan ini menceritakan kisah kejayaan melalui tari dan kesenian Lampung oleh pelajar dan mahasiswa lokal.

Di ruang belajar, ada masterclass seputar rempah, kreativitas berbasis budaya, dan penguatan kapasitas UMKM bersama mentor. Format ini menempatkan budaya sebagai keterampilan, bukan pajangan.

Festival juga menghadirkan Temu Rasa dan Rupa Market. Di sana ada kuliner, kerajinan, serta olahan rempah khas Lampung dan Sumatra.

Kolaborasi dengan berbagai brand Indonesia turut disebut. Ada kelas kuliner bersama chef Tony Azhari, serta program Komunitas Dapur Kawan bersama pelaku kuliner Lampung.

Nama-nama yang terlibat antara lain Way Manom, Seruit Buk Lin, Kyokko Beach Restaurant, Hara at the Hurun, Anonna, Kawung, Lebudia, dan Kantin Pemata. Mereka diajak mencipta menu spesial berbasis rempah tradisional.

Masih ada masterclass oleh Renata Bukvic dari Tanamera. Ada pula mentorship oleh Gunung Madu Plantation, dan program lain yang disebut penyelenggara.

Penyelenggara memperkirakan lebih dari 1.500 pelaku industri kreatif dan pecinta seni yang sudah terkurasi akan hadir. Festival terbuka untuk publik dengan reservasi terbatas.

-000-

Rempah sebagai Bahasa Identitas, Bukan Sekadar Rasa

Rempah sering kita letakkan di dapur, bukan di kepala. Padahal, rempah bekerja sebagai bahasa identitas yang menghubungkan tanah, iklim, dan kerja manusia.

Dalam banyak kajian antropologi pangan, makanan dipahami sebagai penanda budaya. Ia mengikat memori keluarga, ritus sosial, dan cara sebuah komunitas melihat dunia.

Ketika Pesenggiri memilih “Spice” sebagai kata pertama, itu seperti menaruh kunci di pintu depan. Publik diajak masuk lewat rasa, lalu bertemu sejarah dan nilai.

Namun rempah juga menyimpan paradoks. Ia pernah menggerakkan perdagangan, tetapi juga melahirkan ketimpangan kuasa dalam sejarah maritim.

Karena itu, mengangkat rempah di festival budaya bukan sekadar romantisasi. Ia bisa menjadi ruang refleksi tentang bagaimana kekayaan alam dibaca ulang sebagai martabat, bukan sekadar komoditas.

-000-

Isu Besar Indonesia: Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Pelestarian Budaya

Pesenggiri Festival berdiri di persimpangan isu besar Indonesia. Pertama, transformasi pariwisata menuju pengalaman yang lebih berkualitas dan berakar pada lokalitas.

Festival menawarkan alasan berkunjung yang tidak hanya bergantung pada pemandangan. Ia menambahkan lapisan cerita, pengetahuan, dan interaksi dengan pelaku lokal.

Kedua, penguatan ekonomi kreatif dan UMKM. Di berita, masterclass dan mentorship disebut sebagai bagian program, bersama pasar rasa dan rupa.

Jika dijalankan konsisten, model seperti ini dapat memperluas akses pelaku lokal pada jejaring, kurasi, dan standar baru. Bukan hanya menjual, tetapi juga belajar.

Ketiga, pelestarian budaya yang tidak membeku. Pertunjukan oleh pelajar dan mahasiswa lokal menandai regenerasi, sesuatu yang sering menjadi titik rapuh tradisi.

Budaya bertahan bukan karena sering dipamerkan, tetapi karena diwariskan sebagai praktik. Ketika generasi muda diberi panggung, budaya memperoleh napas baru.

-000-

Catatan Konseptual: Festival sebagai Infrastruktur Sosial

Dalam studi kebijakan budaya, festival kerap dipahami sebagai “infrastruktur sosial”. Ia membangun jejaring kepercayaan, mempertemukan aktor, dan menciptakan ruang aman untuk kolaborasi.

Pesenggiri menampilkan elemen itu melalui pertemuan seniman, komunitas kreatif, investor korporasi, dan anak muda. Ini bukan detail teknis, melainkan strategi ekosistem.

Konsep lain yang relevan adalah “place branding” berbasis budaya. Daerah tidak hanya mempromosikan lokasi, tetapi membingkai makna yang membuat orang ingin datang dan kembali.

Namun place branding yang kuat harus berangkat dari etika. Ia perlu menjaga agar budaya tidak direduksi menjadi dekorasi, dan masyarakat lokal tidak menjadi figuran.

Di titik ini, falsafah pesenggiri menjadi penting. Kehormatan, keramahan, keterbukaan, dan gotong royong bisa menjadi kompas moral, jika diterjemahkan dalam tata kelola.

-000-

Rujukan Luar Negeri: Ketika Budaya Lokal Menjadi Magnet Dunia

Di luar negeri, banyak festival yang memadukan warisan, kuliner, dan identitas lokal. Kita bisa belajar dari pola, tanpa menyalin mentah-mentah.

Contohnya, The Galway International Oyster and Seafood Festival di Irlandia. Ia mengangkat pangan lokal sebagai pintu masuk pariwisata, sekaligus memperkuat citra kota.

Contoh lain adalah Pizzafest di Napoli, Italia. Ia memosisikan kuliner sebagai warisan, lalu menghubungkannya dengan ekonomi lokal, kerajinan, dan kebanggaan komunitas.

Ada juga Jeonju Bibimbap Festival di Korea Selatan. Ia menautkan makanan, pertunjukan, dan pengalaman belajar, sehingga pengunjung tidak hanya membeli, tetapi memahami.

Kesamaan rujukan itu ada pada satu hal: budaya diperlakukan sebagai pengalaman yang bisa diikuti, bukan hanya ditonton. Pesenggiri bergerak dalam arah serupa.

-000-

Risiko yang Perlu Diantisipasi

Setiap festival besar membawa risiko. Salah satunya adalah komersialisasi berlebihan yang mengaburkan tujuan pelestarian.

Ketika kurasi terlalu mengejar tren, budaya bisa menjadi latar foto semata. Nilai yang seharusnya menjadi pusat justru tersisih oleh kemasan.

Risiko lain adalah keterputusan manfaat ekonomi. Festival bisa ramai, tetapi pelaku lokal hanya mendapat sisa, jika rantai nilai dikuasai pihak luar.

Risiko berikutnya adalah akses publik. Sistem reservasi terbatas memang menjaga kualitas, tetapi perlu komunikasi yang jelas agar tidak memunculkan kesan eksklusif berlebihan.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik dapat menyambutnya dengan antusias yang kritis. Datang bukan hanya untuk menikmati, tetapi juga menghargai konteks budaya yang diangkat.

Kedua, penyelenggara perlu menjaga transparansi program dan kurasi. Penjelasan tentang tujuan masterclass, mentorship, dan pasar kreatif akan memperkuat kepercayaan.

Ketiga, kolaborasi dengan pelaku lokal sebaiknya ditempatkan sebagai pusat, bukan pelengkap. Nama-nama dapur lokal yang disebut perlu diberi ruang cerita, bukan sekadar daftar.

Keempat, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pariwisata dapat melihat festival sebagai investasi ekosistem. Dukungan tidak berhenti pada seremoni, tetapi pada keberlanjutan.

Kelima, generasi muda bisa memanfaatkan festival sebagai ruang belajar. Bukan hanya tampil, tetapi menyerap pengetahuan tentang rempah, kreativitas, dan kewirausahaan berbasis budaya.

-000-

Menutup dengan Kontemplasi: Harmoni yang Dikerjakan

“Harmony” dalam tema festival mudah terdengar indah. Tetapi harmoni sejati bukan suasana, melainkan kerja panjang menyelaraskan kepentingan, menjaga martabat, dan membagi manfaat.

Pesenggiri Festival 2026 menawarkan panggung untuk kerja itu. Ia mengajak Lampung berbicara dengan bahasa yang akrab, yaitu rasa, warisan, dan kebersamaan.

Jika dikelola dengan jernih, festival ini bisa menjadi alasan baru berkunjung. Lebih dari itu, ia bisa menjadi cara baru merawat ingatan dan menyalakan masa depan.

Seperti kutipan yang kerap disematkan pada kerja kebudayaan: “Tradisi bukan menjaga abu, melainkan menjaga api.”