Gelombang K-Pop yang sempat mendominasi selera musik di Indonesia menunjukkan tanda-tanda mereda. Sejumlah pendengar yang sebelumnya aktif mengikuti fandom kini mengaku mulai menjaga jarak, sementara data tangga lagu dan tren konser mengindikasikan berkurangnya jejak musisi Korea Selatan di ruang dengar publik.
Rafifah Ulayya (23), penggemar K-Pop sejak 2011, mengaku kini tidak lagi terikat pada satu fandom tertentu. Perempuan asal Jakarta itu menyebut dirinya beralih menjadi casual listener yang hanya sesekali mendengarkan lagu-lagu K-Pop dari grup generasi baru seperti XLOV, LNGSHOT, dan RIIZE.
Dalam kesehariannya, Rafifah mengatakan porsi K-Pop di daftar putarnya semakin berkurang. Ia lebih sering mendengarkan musik Barat dan Indonesia, terutama hipdut—genre yang memadukan unsur hip-hop, trap, EDM, dan dangdut. “Sebenarnya [lebih sering mendengarkan] hipdut sih, karena lebih bikin melek,” ujarnya saat berbincang, Rabu (3/6).
Menurut Rafifah, salah satu pendorong tren hipdut adalah lagu “Garam & Madu” dari Tenxi, Naykilla, dan Jemsii. Selain itu, ia menyebut beberapa nama lain yang mulai dikenal lewat nuansa hipdut yang kuat, seperti DIA, RYO, Naufal Syachreza, Suisei, hingga Kirohta.
Rafifah juga memaparkan alasan mengapa sebagian pendengar K-Pop memilih menjauh. Salah satunya, ia menilai kultur fandom dapat terasa ketat dan melelahkan. “Fandom culture ini tuh dulu tuh lumayan ketat gitu lah kayak ‘oh iya harus ini, harus itu.’ Cuma lama-lama kan orang pasti kalau terlalu sering itu kan burnout ya lama-lama ya. Kayak ngerasa apa sih orang gue cuma suka doang gitu,” katanya.
Selain itu, pertengkaran antarfandom atau fandom war turut membuat sebagian penggemar tidak nyaman. Rafifah menilai konsep yang dibawa K-Pop juga cenderung stagnan dan kurang beragam. Ia menyinggung kecenderungan K-Pop yang semakin kebarat-baratan, yang menurutnya dapat membuat identitasnya terasa memudar dan membingungkan sebagian penggemar. “Nah, mereka tuh ya lebih seringnya tuh stuck ke satu hal yang sama gitu, satu konsep yang sama. Jadi makanya kadang kalau kurang diverse itu kan orang lebih ke bosan ya jadinya,” ujarnya.
Dalam pandangannya, musik Indonesia dinilai terus berinovasi namun tetap mampu mempertahankan identitas. Gambaran selera musik di Indonesia juga tercermin dari laporan Music Concert Trends & Fan Behaviors 2025 yang dirilis Jakpat. Dalam laporan itu, pop menjadi genre paling populer dengan angka 71 persen secara agregat. Jika dilihat per generasi, Gen Z berada di 67 persen dan Milenial 75 persen.
Menariknya, dangdut menempati posisi kedua dengan 32 persen secara agregat. Pada Gen Z, angkanya 27 persen, sementara pada Milenial mencapai 38 persen. Survei tersebut melibatkan 1.658 responden.
Penurunan gaung K-Pop juga terlihat dari tangga lagu Spotify Indonesia. Berdasarkan analisis terhadap data Top 50 Artists dan Top 50 Songs Spotify Indonesia, jumlah musisi Korea Selatan yang masuk jajaran artis teratas menurun. Data Top 50 Artists yang dianalisis mencakup periode November 2021 hingga Mei 2026, sedangkan Top 50 Songs mencakup Januari 2017 hingga Mei 2026. Karena data harian sangat besar dan pergerakannya tidak berubah drastis setiap hari, pengolahan dilakukan dengan mengambil sampel mingguan di setiap awal bulan.
Pada 1 November 2021, terdapat delapan musisi Korea Selatan dalam Top 50 Artists Spotify Indonesia, dan popularitasnya disebut mencapai puncak pada November dan Desember 2021. Namun, pada 1 Mei 2026 hanya tersisa satu musisi K-Pop yang masuk, yakni BTS. Di beberapa bulan lain, musisi K-Pop bahkan tidak muncul di chart.
Zaini, dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Indonesia (UI), menilai turunnya musisi K-Pop dari tangga lagu perlu dilihat dalam konteks budaya populer yang sulit diprediksi. Ia menyebut penyebaran hallyu juga berkaitan dengan promosi, termasuk lewat media sosial, serta pendekatan soft power. “Dari pihak Korea sendiri juga dengan gencar [promosi] lewat pendekatan soft power. Nah, ini akhirnya kan orang istilahnya mau enggak mau ikut terbawa arus,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (4/6).
Di tengah perubahan selera, Zaini menyinggung bahwa lagu K-Pop kini banyak menyisipkan kata-kata berbahasa Inggris, yang ia kaitkan dengan pendengar K-Pop yang semakin global. Ia menilai tren dapat berubah sewaktu-waktu dan industri bisa merespons penurunan dengan terobosan. “Nah, kalau kita lihat pada akhirnya ada penurunan, ya ini mungkin tren yang istilahnya terjadi. Bisa saja nanti mereka [musisi K-Pop] misalnya melihat apa nih penurunannya? Bisa saja mereka mencoba menjadi sebuah terobosan, bisa saja bisa misalnya membangkitkan kembali seperti itu,” katanya.
Zaini juga melihat adanya kejenuhan pendengar, sejalan dengan yang disampaikan Rafifah. Ia menilai generasi saat ini cenderung mencari hal baru dan lebih menarik. “Kalau saya sih melihat kejenuhan ya dari penikmat musik itu. Gen Z ataupun generasi yang sekarang sedang misalnya mencari hal-hal, sesuatu yang lebih menarik,” ujarnya. Ia menambahkan, jika pola musik terasa monoton dan diputar berulang dalam waktu lama, pendengar bisa jenuh. Menurutnya, industri musik Korea Selatan perlu terobosan yang lebih kreatif untuk kembali menggaet pasar.
Tren penurunan juga tampak pada jumlah konser K-Pop di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan penelusuran terhadap publikasi konser dari media sosial dan pemberitaan media online selama 11 tahun terakhir, jumlah konser K-Pop pada 2016 tercatat delapan dan meningkat menjadi 19 pada 2019.
Pada 2020, jumlah konser turun drastis menjadi lima, dengan banyak acara dibatalkan akibat pandemi COVID-19. Pada 2021, tidak ada konser K-Pop di Indonesia. Setelah memasuki era new normal, konser kembali digelar pada 2022 dengan 12 konser dan meningkat menjadi 24 konser pada 2023.
Puncaknya terjadi pada 2024 dengan 35 konser. Namun, jumlah itu turun pada 2025 menjadi 19 konser. Pada 2026, tercatat 16 konser K-Pop yang telah dan akan berlangsung, dengan kemungkinan angka bertambah hingga akhir tahun.
Di tengah pergeseran ini, pengalaman pendengar seperti Rafifah menunjukkan bahwa perubahan selera tidak selalu berarti meninggalkan K-Pop sepenuhnya. Sebagian pendengar memilih tetap mendengarkan secukupnya, sembari memberi ruang lebih besar bagi genre lain—termasuk hipdut dan dangdut—yang kian menguat di telinga publik.