Ribuan masyarakat memadati panggung hiburan perhelatan Naik Dango di halaman Rumah Radakng, Kamis malam. Penampilan Grup Musik Orkes Bahagia (OB) berhasil menghidupkan suasana, dengan penonton ikut bergembira dan berjoget bersama sepanjang pertunjukan.
Di tengah kondisi ketika musik bergenre orkes disebut semakin jarang dimainkan oleh kalangan muda, OB menghadirkan nuansa orkes yang dikenal merakyat. Genre ini pernah populer pada era 1980-an hingga 1990-an, dan dikenal melalui sejumlah grup yang tenar pada masa itu.
Dalam penampilannya, OB membawakan lagu “Judul-judulan” yang mengundang respons spontan dari penonton. Ribuan orang terlihat ikut bernyanyi dan berjoget, mengikuti lirik yang mudah diingat. Selain itu, OB juga membawakan lagu khas Dayak, “Patamuan Dara Basule” dan “Sagalas”, dengan menampilkan Freasela dan aransemen yang dibalut nuansa orkes. Penonton pun ikut bernyanyi bersama.
Usai tampil, salah satu pentolan OB, Hery Lolo, mengaku senang melihat antusiasme penonton pada hiburan Naik Dango tahun ini. Ia mengatakan tidak menyangka penonton begitu ramai dan ikut berjoget serta bernyanyi bersama.
Menurut Hery, OB hadir sekaligus sebagai upaya agar musik orkes tidak hilang ditelan zaman. Ia menilai respons penonton pada malam itu menjadi bukti bahwa musik orkes masih dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Hery menambahkan, OB tidak menargetkan ketenaran sebagai tujuan utama. Bagi mereka, yang terpenting adalah memainkan musik dengan bahagia dan menularkan suasana itu kepada penonton. OB juga menyatakan tidak memilih-milih panggung, baik panggung besar maupun tempat sederhana. “Tujuannya kan satu. Buat orang bahagia dengan musik kami. Kalau soal rezeki itu belakangan,” ujarnya.