Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam. Pementasan ini menampilkan kolaborasi musik dengan elemen seni visual melalui format live painting.
Sejak awal acara, dua kanvas besar dipasang di sisi kiri dan kanan panggung. Sepanjang pertunjukan berlangsung, kedua kanvas tersebut diisi secara langsung oleh perupa Apel Hendrawan dan Mangku Bonus, sebagai respons visual terhadap musik yang dimainkan.
Vokalis Trie Utami, yang akrab disapa Mba Iie, menyebut malam itu memiliki makna khusus. Ia menyinggung hadirnya karya baru Nyanyian Dharma sekaligus ruang kolaborasi yang terbuka lewat kanvas kosong yang akan dihidupkan bersama selama pementasan.
Nyanyian Dharma digagas oleh Dewa Budjana sejak 1997. Dalam pementasan di Denpasar, formasi yang tampil terdiri dari Dewa Budjana (gitar), Trie Utami (vokal), IB Wicaksana, Gde Kurniawan, Agung Ocha (vokal), Rico Mantrawan (keyboard), Doddy Sambodo (bass), serta Deny Surya (drum).
Selain para musisi di panggung, nama Agung Bagus Mantra juga disebut sebagai bagian penting dalam perjalanan Nyanyian Dharma. Ia tidak tampil sebagai musisi, namun selama ini berperan mendorong dan “menyatakan” Nyanyian Dharma agar menemukan ruang-ruang sunyinya.
Di hadapan penonton, Dewa Budjana menjelaskan bahwa Nyanyian Dharma berangkat dari keresahan sederhana. Ia menyinggung bagaimana setiap momen Lebaran kerap diwarnai lagu-lagu religi yang kuat di satu wilayah, sementara di Bali belum memiliki ruang musikal serupa. Dari situ, Nyanyian Dharma lahir sebagai bentuk pencarian sekaligus pernyataan musikal.
Trie Utami, yang bergabung sejak 2006, menyebut keterlibatannya sebagai perjalanan personal. Ia menggambarkan proses tersebut sebagai menemukan jalan yang terasa dekat, sekaligus ruang untuk “kembali pulang” dan bertemu saudara.
Pertunjukan ini sekaligus memperkenalkan mini album Idep, yang memuat lima komposisi baru: Kidung Nusantara, Tumpek Wariga, Ibu Pertiwi Lara, Catur Kanda, dan Mulat Sarira. Sejumlah materi disebut lahir dari proses kreatif bersama di kawasan Ceto.
Sejumlah pendukung yang mengikuti perjalanan Nyanyian Dharma sejak awal tampak hadir di antara penonton. Kehadiran mereka mempertemukan kembali berbagai generasi yang pernah terlibat maupun mengikuti perkembangan Nyanyian Dharma, termasuk beberapa formasi lama yang turut hadir dan memperkuat suasana kebersamaan.
Salah satu lagu yang mendapat perhatian adalah Ibu Pertiwi Lara, karya Trie Utami. Lagu ini menggambarkan kondisi alam yang mengalami kerusakan, dengan lirik yang menyinggung hilangnya hutan, kerusakan laut, hingga tanah yang kehilangan daya hidupnya.
Konsep pementasan Nyanyian Dharma bertumpu pada kebersamaan dan kolaborasi. Pendekatan ini disebut sebagai bentuk persembahan, di mana proses kreatif dilakukan secara kolektif, tidak hanya dalam musik tetapi juga dalam interaksi dengan seni visual.
Istilah idep, yang berarti pikiran atau kesadaran, menjadi benang merah dari karya yang dibawakan. Dalam konteks pertunjukan, idep dimaknai sebagai kesadaran yang membawa para pelaku dan penonton berkumpul dalam satu ruang pengalaman.
Benang merah tersebut juga tampak pada perkembangan lukisan di atas kanvas sepanjang pertunjukan. Simbol-simbol seperti lingga, trisula, dan kepala manusia yang muncul dalam gurat lukisan dimaknai sebagai representasi ketajaman pikiran sekaligus upaya menjaga keseimbangan.
Mini album Nyanyian Dharma EP: Idep kini telah tersedia dan dapat didengarkan melalui berbagai platform digital.