BERITA TERKINI
Musisi Indonesia Timur Minta Dialog dengan YouTube soal Transparansi Monetisasi

Musisi Indonesia Timur Minta Dialog dengan YouTube soal Transparansi Monetisasi

JAKARTA — Komunitas musisi dari Indonesia Timur menyuarakan keresahan terkait ketidakpastian pendapatan yang mereka terima dari platform YouTube. Mereka menilai terjadi ketimpangan antara performa konten yang tetap stabil dengan pendapatan digital yang justru menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Mewakili para musisi Indonesia Timur, Ecko Show mengatakan YouTube selama ini menjadi kanal utama untuk mendistribusikan karya secara organik. Namun, dalam dua hingga tiga tahun terakhir, ia melihat pendapatan yang diterima para kreator menurun meski jumlah penonton dan interaksi audiens masih menunjukkan angka yang solid.

“Views masih bagus, streams masih jalan, audiens juga masih kuat. Tapi revenue yang diterima teman-teman justru terasa semakin menurun. Ini yang membuat banyak musisi mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang berubah?” kata Ecko Show dalam siaran pers yang diterima Selasa, 5 Mei.

Ecko menegaskan, keresahan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap teknologi. Menurutnya, para musisi justru meminta komunikasi yang lebih jelas dari platform terkait perubahan yang memengaruhi nilai monetisasi konten.

“Kami menghargai peran YouTube dalam membantu banyak musisi daerah dikenal lebih luas. Tapi ketika performa konten tetap kuat sementara pendapatan menurun, tentu wajar kalau musisi meminta kejelasan. Kami ingin ada dialog yang lebih terbuka,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pandangan bahwa musisi daerah berhak mendapatkan apresiasi ekonomi yang sepadan dengan pertumbuhan audiens yang mereka bawa ke platform. Jika kondisi ini berlanjut tanpa dialog atau perbaikan sistem, Ecko mengatakan para musisi tidak menutup kemungkinan mempertimbangkan ruang distribusi lain.

“Kalau ada platform lain yang lebih serius menghargai karya musisi, lebih transparan dalam pembagian pendapatan, dan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih baik, kami siap mempertimbangkan,” kata Ecko.

Ia menambahkan, opsi kerja sama eksklusif pun bisa dipertimbangkan selama skemanya dinilai jelas dan adil. “Bahkan kalau harus eksklusif, selama skemanya jelas dan adil, teman-teman musisi terbuka untuk itu,” tegasnya.

Pernyataan tersebut, menurut Ecko, menjadi pengingat bahwa loyalitas kreator sangat bergantung pada rasa keadilan dalam ekosistem digital. Dengan basis massa dan karakter musik yang kuat, ia menilai musisi Indonesia Timur memiliki daya tawar untuk membangun ekosistem baru di luar platform konvensional apabila diperlukan.

“Kami tidak sedang mengancam. Kami sedang menyampaikan bahwa musisi juga punya pilihan. Musisi punya karya, punya pasar, dan punya komunitas. Yang kami cari adalah platform yang benar-benar menghargai itu,” tutup Ecko Show.