BERITA TERKINI
Musim panas 2026 dibuka dengan deretan lagu pop bernuansa muram

Musim panas 2026 dibuka dengan deretan lagu pop bernuansa muram

SS26, singkatan dari Spring-Summer 2026, biasanya identik dengan lagu-lagu yang merayakan musim panas: pop yang meledak-ledak, musik dansa yang energik, akustik yang menenangkan, hingga rock bernuansa nostalgia. Namun, musim ini sejumlah musisi justru menyambutnya dengan karya-karya yang melankolis, bahkan gelap.

Olivia Rodrigo, yang dikenal lewat lagu-lagu patah hati, disebut menghadirkan nada yang lebih pesimistis dalam rilisan menjelang album studio ketiganya musim panas ini. Dua single yang disebut, Drop Dead dan The Cure, dipenuhi lirik tentang kebosanan, kematian, racun, paranoia, serta cinta yang digambarkan telah kehilangan kemampuan untuk menyelamatkan.

Secara musikal, salah satu lagu Rodrigo dibuka dengan petikan akustik yang kasar dan vokal berbisik, lalu bergeser ke atmosfer mencekik yang mengingatkan pada rock alternatif gelap era 1990-an. Di bagian klimaks, vokalnya mencapai nada tinggi yang menyayat, hadir di tengah lapisan orkestra dan dentuman drum yang menggelegar. Video musiknya menampilkan sosok perawat yang terjerat pembuluh darah di ranjang rumah sakit, sementara instrumen gesek yang mengiringi digambarkan beresonansi seperti pembuluh darah yang rapuh.

Di sisi lain, Ariana Grande juga disorot lewat single barunya, Hate That I Made You Love Me. Meski tidak membawa pesan segelap karya rekan-rekannya, muncul pertanyaan tentang perubahan warna vokalnya: ke mana perginya suara merdu khas yang selama ini melekat pada dirinya.

Fenomena awal musim panas tahun ini juga datang dari ranah country. Lagu Choosin' Texas yang ditulis Ella Langley (lahir 1999) mencatat capaian besar dengan bertahan 10 minggu di puncak Billboard Hot 100. Lagu itu digambarkan sebagai refleksi diri yang memilukan tentang seorang gadis yang baru putus dengan koboi liar: sang koboi pergi mencari cinta baru di Texas, sementara si gadis mencoba menenggelamkan sedihnya dengan minum. Cerita seperti ini disebut sebagai kisah yang familiar dalam tradisi musik country.

Di tengah dominasi suasana muram, Taylor Swift disebut memberi secercah harapan lewat lagu yang mengingatkan pada era Swift di usia dua puluhan, ketika ia bernyanyi tentang kecemasan manis memasuki kedewasaan. Namun lagu itu, I knew it, I knew you, dijelaskan sebagai pesanan untuk film animasi anak-anak, sehingga dinilai tidak dapat sepenuhnya dihitung sebagai penanda suasana musik musim panas tahun ini.

Pertanyaan pun mengemuka: apa yang membuat musim panas ini terasa begitu suram? Sebagian orang mengaitkannya dengan perekonomian yang lesu dan masa depan yang tidak pasti. Penjelasan tersebut dinilai sejalan dengan karya Charli XCX, artis berdarah campuran yang disebut memiliki setengah keturunan India dan kerap diharapkan menyuarakan pandangan tentang politik serta dunia di sekitarnya.

Dalam narasi yang dilekatkan pada Charli XCX, dunia hiburan yang dangkal digambarkan sebagai ruang yang menepis masalah nyata dan hanya sibuk pada hal-hal permukaan, seperti koleksi terbaru rumah mode. Ia bahkan diyakini memandang bahwa “kita sedang berjalan di atas panggung menuju neraka.” Namun, penjelasan itu dinilai tetap belum sepenuhnya menjawab mengapa begitu banyak artis perempuan musim panas ini menghadirkan nuansa melankolis.

Bahkan album Zara Larsson, Midnight Sun, yang dipromosikan sebagai album dance-pop terinspirasi fenomena matahari yang tak pernah terbenam di Eropa Utara saat musim panas, disebut tetap membangkitkan perasaan serupa. Kehadiran matahari yang terus-menerus, alih-alih membuat kesenangan terasa abadi, justru digambarkan mempertegas kefanaan cinta, kegembiraan, dan waktu.

Beberapa tahun lalu, Charli XCX sempat memicu tren Brat Summer, yang mengajak para gadis menikmati musim panas dengan semangat hedonistik, pemberontak, dan energik. Kini, kesan yang muncul adalah bahwa fase itu telah berlalu, dan musim panas perlu dijalani dengan cara yang berbeda.

Menariknya, Lana Del Rey—yang kerap dianggap sebagai “ratu melankolis”—justru menghadirkan sudut pandang lain ketika menulis tentang musim panas dalam lagu barunya tahun ini, White Feather Hawk Tail Deer Hunter. Meski musiknya tetap menghantui, misterius, dan suram seperti ciri khasnya, cerita yang dituturkan disebut dipenuhi kebahagiaan-kebahagiaan kecil dari kehidupan pernikahan.

Deretan rilisan ini membentuk gambaran bahwa musim panas 2026 tidak sepenuhnya diiringi euforia. Alih-alih menjadi panggung pesta tanpa henti, musik musim ini justru banyak memantulkan kegelisahan, patah hati, dan renungan tentang rapuhnya kebahagiaan.