Musik tradisional Vietnam kembali mendapat ruang di lingkungan pendidikan. Pada sebuah malam akhir pekan di Universitas An Giang, Seniman Berprestasi Dang Hoang Linh tampil memegang kecapi dan berharmoni dengan gitar klasik yang dimainkan seniman musik tradisional Nguyen Van Hay. Keduanya membawakan versi yang disebut paling otentik dari “Da Co Hoai Lang” di hadapan mahasiswa yang memenuhi auditorium.
Ruangan didominasi anak muda berusia dua puluhan yang menyimak dalam keheningan. Di hadapan mereka, Dang Hoang Linh menjelaskan dasar nada musik rakyat. “Jika musik Barat memiliki do, re, mi, fa, son, la, si, maka musik rakyat kita memiliki ho, xu, xang, xe, cong. Kelima nada ini, hanya dengan memvariasikan nada, naik dan turun, menciptakan banyak melodi yang berbeda, menyampaikan emosi secara mendalam dan intim,” ujarnya sambil mendemonstrasikan permainan kecapi.
Linh menuturkan, sejak muda ia tumbuh di tengah melodi musik rakyat yang dibawakan ayahnya. Kecintaannya pada tanah air, menurutnya, melekat sepanjang perjalanan berkesenian, hingga ia menggambarkan musik rakyat sebagai sesuatu yang “menjadi bagian dari darahnya”. Ia juga menyebut dedikasi para pelaku seni turut berkontribusi pada pengakuan resmi musik rakyat Vietnam Selatan sebagai Warisan Budaya Takbenda Representatif Kemanusiaan oleh UNESCO pada 2013.
Namun, seiring bertambah usia dan perjalanan kariernya, Linh mengaku cemas terhadap minimnya penerus. Ia menilai generasi muda cenderung kurang tertarik pada musik tradisional dan lebih terpikat pada musik dunia. Karena itu, sejak 2017 ia dan istrinya membuka kelas musik rakyat tradisional Vietnam secara gratis untuk anak-anak, kemudian diperluas bagi siapa pun yang berminat. Setiap Minggu pagi, rumah mereka dibuka untuk para pecinta musik. Linh mengatakan, dari kelas tersebut sejumlah anak muda meraih prestasi dalam berbagai kompetisi dan tampil di beragam panggung. “Saya hanya berharap semakin banyak orang yang datang untuk belajar sehingga bentuk seni ini tidak akan hilang,” katanya.
Usai tampil dan menyampaikan undangan kepada mahasiswa, Linh dan Nguyen Van Hay kembali ke tempat duduk untuk menyaksikan penampilan mahasiswa dalam malam gala bertajuk “Melodi Nasional - Jiwa Vietnam”. Acara ini diselenggarakan Klub Musik bekerja sama dengan Klub Buku Universitas An Giang.
Presiden Asosiasi Mahasiswa Vietnam Universitas An Giang, Le Quoc Khanh, mengatakan kolaborasi kedua klub menghadirkan gaya artistik yang unik dan mempromosikan budaya dari tiga wilayah negara kepada banyak mahasiswa di provinsi tersebut. Ia menilai kegiatan ini membantu mahasiswa memahami kekayaan budaya dan musik yang dibangun oleh leluhur, serta nilai yang perlu dilestarikan dan dikembangkan untuk masa depan.
Dalam acara itu, gagasan mahasiswa ditampilkan melalui ragam pilihan musik dari tiga wilayah Vietnam. Penonton diajak merasakan nuansa wilayah Utara dengan gema budaya yang berusia ribuan tahun, wilayah Tengah yang mendalam dan menyentuh, serta wilayah Selatan yang bebas dan bersemangat. Le Thi My Duyen, warga Long Xuyen yang hadir menyaksikan putranya tampil, menyebut musik Vietnam sebagai perjalanan panjang di sepanjang negeri. “Setiap daerah tidak hanya memiliki melodinya sendiri tetapi juga mewujudkan jiwa, kenangan, dan keindahan budaya yang khas. Kemampuan para siswa untuk memilih, meneliti, dan menampilkan seperti ini sungguh patut dipuji,” ujarnya.
Acara juga dimeriahkan lagu-lagu pengantar tidur dari tiga wilayah Vietnam. Penyanyi Cam Hong mengaku bangga melihat putranya, Truong Kien, yang masih pelajar, memainkan piano dan saksofon sepanjang malam gala. Ia mengingat masa sekolahnya yang juga menyukai seni pertunjukan, dan berharap generasi muda memiliki lingkungan hiburan yang sehat serta terhubung dengan budaya nasional agar kecintaan terhadap tanah air semakin tumbuh.
Rangkaian kegiatan ini meninggalkan kesan tentang nilai tradisional yang “dibangkitkan kembali” di lingkungan sekolah. Di tengah laju kehidupan modern dengan beragam pilihan hiburan, keterlibatan mahasiswa yang secara aktif mencari, mempelajari, dan menampilkan musik tradisional dipandang sebagai sinyal positif. Mereka tidak hanya menerima warisan tersebut, tetapi juga mengeksplorasi dan berupaya membuatnya relevan dengan kehidupan masa kini, menghadirkan dialog antara masa lalu dan masa kini melalui bunyi instrumen serta lirik yang dibawakan.