Tren “performative male” belakangan ramai muncul di media sosial, terutama TikTok dan Instagram, lewat berbagai video dari kreator konten. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan tipe laki-laki muda yang menampilkan citra tertentu—sering kali melalui gaya berpakaian dan barang yang dibawa—hingga kemudian menjadi bahan pembahasan warganet dan bahkan dijadikan konten bertema “kontes”.
Dalam tren tersebut, “performative male” kerap dicirikan sebagai laki-laki yang mengenakan tote bag merchandise musisi yang tidak banyak dikenal publik, memegang segelas matcha latte, serta membawa buku bertema feminis atau karya penulis seperti Sylvia Plath dan Joan Didion. Mereka juga sering digambarkan menggunakan earphone kabel sambil mendengarkan musik bernuansa emosional, misalnya dari Clairo, Phoebe Bridgers, atau Beabadoobee.
Esquire Magazine menyebut istilah “performative man” dan konsep “performative + action” untuk menjelaskan fenomena ini. Dalam penjelasannya, para laki-laki muda dinilai berupaya menarik perhatian dengan membangun citra yang dianggap lebih dekat dengan selera perempuan modern dibandingkan citra maskulin tradisional.
Menurut Esquire, kemunculan istilah “performative male” juga dipahami sebagai cara sebagian pria muda menampilkan diri sebagai sosok dengan selera artistik dan alternatif, sehingga dinilai memiliki kemampuan emosi yang lebih intelektual. Pilihan bacaan sastra tertentu dipandang ikut membentuk gambaran pria yang berani menunjukkan perasaan, alih-alih memendamnya karena dianggap kurang maskulin.
Dalam pembahasan yang berkembang, tipe laki-laki dengan selera seperti itu kerap dianggap lebih menarik oleh sebagian perempuan karena dinilai mirip karakter “written by a woman”, yakni karakter laki-laki yang jauh dari persepsi maskulinitas tradisional.
Di sisi lain, kritik mengenai cara pandang terhadap sosok dalam media juga disinggung melalui gagasan “the gaze” yang dideskripsikan kritikus seni dan novelis John Berger. Ia menilai seseorang tidak bisa sepenuhnya netral saat menyerap media tertentu karena tindakan tersebut dipengaruhi alam bawah sadar dan lingkungan sosial.
Konsep “performative male” yang sedang tren ini juga dikaitkan dengan istilah “female gaze”, yakni cara perempuan memandang karakter maskulin yang berbeda dari stereotip tradisional, di mana maskulinitas kerap dilekatkan pada perilaku yang lebih kaku.
Di media sosial, tren ini kemudian direproduksi melalui elemen-elemen yang berulang dalam video, seperti penggunaan tote bag, memegang matcha, memakai wired earphone, hingga memiliki boneka labubu.
Sejumlah bintang Hollywood, seperti Timothee Chalamet dan Paul Mescal, juga kerap dijadikan tolok ukur gambaran “performative male”. Keduanya disebut menarik perhatian penggemar perempuan karena peran mereka dalam film adaptasi novel yang menampilkan definisi karakter pria yang berbeda, antara lain Little Woman karya Louisa May Alcott dan Normal People karya Sally Rooney.

