Menjelang peringatan HUT RI ke-80, Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) di Jakarta Pusat menjadi salah satu tempat yang dapat dikunjungi untuk melihat jejak lahirnya teks Proklamasi. Museum ini beralamat di Jalan Imam Bonjol No 1, RT 9/RW 4, Menteng, Kota Jakarta Pusat, dan bangunannya telah terdaftar sebagai cagar budaya.
Munasprok menempati bangunan yang dahulu merupakan kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Dalam catatan sejarah yang dipaparkan di museum, Maeda memberikan dukungan terhadap gerakan proklamasi kemerdekaan RI dengan mempersilakan rumahnya digunakan untuk merumuskan naskah Proklamasi.
Secara ukuran, museum ini tidak terlalu besar dan tata ruangnya menyerupai rumah tinggal, dengan beberapa ruangan seperti ruang tamu, ruang makan, ruang tengah, hingga kamar-kamar. Pada dinding museum, pengunjung dapat melihat paparan mengenai proses perumusan naskah Proklamasi.
Di dekat pintu masuk, terdapat ruang tamu yang digambarkan sebagai tempat Maeda menyambut tiga tokoh, yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo. Beranjak ke ruang makan, pengunjung dapat melihat diorama tiga tokoh yang sedang berdiskusi dan menuliskan naskah Proklamasi di meja makan. Setelah itu, Maeda disebut meninggalkan ruangan menuju kamarnya untuk beristirahat, sehingga tidak ada campur tangan pihak lain dalam perumusan naskah tersebut.
Sejumlah koleksi yang ditampilkan menjadi perhatian pengunjung. Di lantai dua, terdapat replika naskah Proklamasi yang ditulis tangan oleh Soekarno, sementara naskah asli disebut disimpan di Arsip Nasional.
Selain itu, museum juga menampilkan piano yang digunakan sebagai alas penandatanganan naskah Proklamasi. Naskah Proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta di ruang yang disebut ruang pengesahan, setelah konsep naskah selesai dibuat dan disetujui oleh tokoh-tokoh kemerdekaan yang hadir. Naskah kemudian diketik oleh Sayuti Melik sebelum ditandatangani. Kurator museum, Jaka Perbawa, menjelaskan alasan penggunaan piano saat itu. “Setelah proses pengetikan, mencari meja sudah crowded, kerumunan orang. Melihat ada landasan yang cukup langsung saja, tanda tangan di atas piano,” ujarnya.
Di ruang pamer lainnya, Munasprok menyimpan barang-barang pribadi peninggalan tokoh yang hadir saat perumusan naskah, seperti topi, dasi, pakaian, ikat kepala, dan sejumlah benda lain yang ditampilkan dalam etalase beserta keterangan nama pemilik. Di antaranya terdapat arloji, tas, dan pulpen milik Suwiryo, serta kaset pidato BM Diah dan Sayuti Melik.
Di halaman belakang museum, pengunjung juga dapat melihat bunker yang disebut dahulu digunakan sebagai tempat berlindung pada masa perang. Bunker ini dibuat untuk perlindungan pejabat Belanda jika terjadi serangan bom. Ruangannya tidak terlalu luas, dengan panjang sekitar 5 meter dan lebar 2 meter, serta langit-langit berbentuk segitiga. Di dalamnya terdapat lubang udara yang sebagian sudah tertutup. Pada salah satu sisi terlihat lubang yang menyerupai akses menuju terowongan dengan pembatas yang telah dihancurkan, namun lubang tersebut disebut sudah ditutup.

