BERITA TERKINI
Menelusuri Jejak Skena Metal Ujungberung Lewat Walking Tour: Dari Lapang Kaum Kidul hingga Studio Legendaris

Menelusuri Jejak Skena Metal Ujungberung Lewat Walking Tour: Dari Lapang Kaum Kidul hingga Studio Legendaris

Matahari baru muncul ketika rombongan peserta “Ngaleut Ujungberung Rebels” berkumpul di Alun-alun Ujungberung, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026. Di ruang terbuka yang dikelilingi jalan raya, masjid, pasar, pusat jajanan, dan kantor pemerintahan itu, sejumlah peserta tampak mengenakan kaus hitam bergambar Ivan Scumbag, Balcony, dan Seringai.

Ujungberung dikenal luas sebagai salah satu episentrum pergerakan musik metal paling berpengaruh di Indonesia. Sejumlah band yang kemudian menjadi nama besar di musik keras—di antaranya Burgerkill, Jasad, hingga Forgotten—lahir dan tumbuh dari kawasan Bandung timur ini. Peserta yang hadir pun tidak hanya berasal dari Bandung, tetapi juga dari luar kota dan luar Jawa Barat, menegaskan jejak pengaruh Ujungberung yang masih terasa hingga kini.

Walking tour hari itu dipandu Iman Rahman Anggawiria Kusumah atau Kimung, salah satu pendiri Burgerkill sekaligus penulis buku dokumentatif Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur (2013). Ia menjadi pemateri utama dalam penyusuran yang membawa peserta menyambangi titik-titik penting yang membentuk sejarah skena metal dan gerakan bawah tanah di Ujungberung.

Di awal kegiatan, Kimung mengajak peserta memahami konteks Ujungberung pada masa 1980-an, ketika tradisi kesenian beladiri benjang masih kuat. Alun-alun Ujungberung, menurutnya, dulu ramai setiap Minggu oleh warga yang menyaksikan “benjang gelut”. Namun, karena kerap berujung pada dendam dan perkelahian di luar arena, tradisi itu perlahan ditinggalkan. Yang tersisa dan bertahan hingga kini adalah musik pengiring benjang yang masih kerap dipadukan dengan kesenian tradisional lain.

Kimung juga menjelaskan cerita asal-usul nama Ujungberung. Ia menyebut adanya ungkapan “manusia berung” sebagai penanda kegilaan atau kemarahan. “Ujung” dimaknai sebagai akhir, sedangkan “berung” sebagai kemarahan, sehingga Ujungberung disebut berarti “akhir kemarahan”. Ia menambahkan, kisah penamaan itu kerap dikaitkan dengan legenda Sangkuriang dalam cerita Tangkuban Parahu, yang diyakini mengembara membawa amarah hingga akhirnya berakhir di Ujungberung.

Dari alun-alun, rombongan sekitar 25 orang berjalan sekitar 200 meter masuk gang menuju Lapang Kaum Kidul. Lapangan futsal terbuka ini menjadi lokasi Bandung Berisik pertama pada 1995. Keterbatasan sarana kala itu tidak menghalangi anak-anak Ujungberung menggelar acara. Mereka “menumpang” panggung Agustusan warga, tanpa poster resmi. Informasi acara disebarkan lewat foto kain backdrop panggung yang dilukis sendiri.

Kisah itu, menurut Kimung, mencerminkan semangat Do It Yourself (DIY) yang kuat dalam gerakan musik metal kolektif di Ujungberung. Di sekitar kawasan yang sama, rombongan juga ditunjukkan teras rumah keluarga besar mendiang Ivan Scumbag—vokalis awal Burgerkill—yang disebut menjadi salah satu ruang diskusi penting pada 1990-an. Di titik itu, pembahasan soal musik dan gerakan underground Ujungberung dirumuskan, termasuk gagasan membangun distro sebagai usaha mandiri untuk menopang keberlangsungan kegiatan bermusik.

Rute kemudian memasuki gang yang semakin sempit hingga hanya memungkinkan satu barisan pejalan. Di sana terdapat madrasah Nurul Islam, tempat Ivan dan kawan-kawan mengaji setiap hari. Tidak jauh dari situ berdiri bekas rumah Ivan yang pernah menjadi tempat merancang lirik lagu untuk album pertama Burgerkill. Namun bangunan tersebut kini telah berubah menjadi kos-kosan dua lantai, dan status lahannya tidak lagi dimiliki keluarga Ivan.

Seiring waktu, sejumlah jejak sejarah di Ujungberung berubah. Sebagian tersisa dalam arsip dokumentasi—tulisan maupun visual—sementara sebagian lain hidup dalam ingatan para pelaku.

Salah satu bentuk arsip yang menonjol adalah merchandise band, terutama kaus dengan beragam artwork yang dicetak dan dijual beberapa dekade silam sebagai cara bertahan. Di Pieces Studio dan Pieces Print, arsip-arsip itu terpajang di dinding. Dani Papap, pemilik kedua brand tersebut, menyebut koleksinya mencapai ratusan. Ia mengatakan, koleksi itu bisa dipajang ketika Pieces menggelar pameran.

Pieces tidak hanya dikenal sebagai tempat produksi merchandise, tetapi lebih dulu dikenal sebagai studio latihan band yang buka sejak 1997 dan bertahan hingga kini. Papap menyebut kelonggaran waktu sewa menjadi salah satu alasan band-band betah berlatih dan berkumpul di sana. Dalam konteks Ujungberung, ruang berkumpul dipandang sebagai simpul penting untuk menjaga dan mengembangkan jejaring perkenalan.

Dari Pieces, rombongan melanjutkan penyusuran ke Studio Palapa dan area bekas kosan mendiang Eben, gitaris dan pendiri Burgerkill. Studio Palapa disebut menawarkan kecanggihan pada masanya serta menolak larangan membawakan lagu beraliran keras—larangan yang umum terjadi pada 1990-an. Sikap itu membuat studio ini menarik banyak anak muda dari berbagai penjuru Bandung untuk datang ke Ujungberung dan berlatih band.

Sementara kosan Eben dikenang sebagai ruang pertemuan dengan alasan yang lebih dalam, mulai dari pertukaran pengetahuan tentang musik, sikap, hingga ideologi. Di tempat itu pula terjadi pertukaran zine dan rilisan musik antarpenggiat skena.

Ngaleut Ujungberung Rebels berakhir kembali di Alun-alun Ujungberung. Jarak sekitar 3,5 kilometer ditempuh dalam waktu kurang lebih tiga jam. Kegiatan ini merupakan walking tour sejarah yang diinisiasi Komunitas Aleut, komunitas pengapresiasi sejarah di Bandung yang rutin menggelar kegiatan serupa dengan konsep literasi sejarah melalui kunjungan langsung ke lokasi.

Deuis Raniarti, pegiat Komunitas Aleut, menjelaskan Ujungberung dipilih karena dampaknya yang besar bagi skena musik bawah tanah Bandung dan dinilai perlu diketahui lebih banyak orang. Menurutnya, kegiatan ini juga melanjutkan rangkaian cerita setelah sebelumnya komunitas tersebut mengadakan “Ngaleut Skena Underground”.

Bagi peserta, penyusuran ini memberi detail yang sulit didapat hanya dari cerita atau bacaan. Akbar, peserta yang akrab disapa Bay, mengatakan ia menemukan banyak informasi rinci dengan melihat langsung lokasi sembari mendengarkan paparan di lapangan. Salah satu yang paling membekas baginya adalah cerita mengenai Ivan Scumbag yang tekun mengaji. Ia mengaku baru mengetahui sisi lain sang musisi yang selama ini tidak ia pahami.