SUKOHARJO – Program pemberdayaan seni inklusif yang digagas Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia dan didanai melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 menggelar “Latihan Intensif Pementasan Kolaboratif – Pertemuan II” pada Sabtu (21/3/2026). Kegiatan berlangsung di Sanggar Inklusi Anak Bangsa, Kecamatan Weru, dengan fokus utama menyelaraskan koreografi panggung dengan ritme musik ilustrasi sebagai bagian dari persiapan menuju pementasan puncak.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, mengapresiasi antusiasme 50 peserta yang terdiri dari anak-anak reguler dan sahabat penyandang disabilitas. Ia menyebut, pertemuan kedua menghadirkan tantangan teknis yang lebih kompleks dibanding latihan perdana, terutama karena mulai memasukkan unsur musik sebagai elemen penting pementasan.
“Pada Pertemuan I, kita telah menyepakati titik bloking dan menghafal alur. Hari ini, tantangan kita bertambah: memasukkan unsur musik. Musik bukan sekadar latar, melainkan detak jantung dari pementasan ini. Sinkronisasi gerak kawan-kawan disabilitas dengan tempo musik adalah fokus utama kita hari ini guna menciptakan harmoni panggung yang utuh,” kata Fadhel.
Latihan dipandu sutradara sekaligus praktisi seni Rus Hardjanto (Ki Jantit Sanakala). Para peserta diperkenalkan pada draf musik iringan yang akan mengiringi naskah fabel ekologis kolaboratif. Dalam sesi tersebut, Ki Jantit mengarahkan para aktor untuk merespons perubahan tempo, mulai dari nada tenang yang menggambarkan kedamaian ekosistem satwa hingga ketukan perkusi yang cepat dan tegang saat konflik perusakan alam muncul.
Pendekatan musikal dinilai membantu terciptanya ekosistem panggung yang inklusif. Bagi sahabat penyandang disabilitas, ketukan musik dan rangsangan audio-sensorik digunakan sebagai panduan spasial dan emosional yang lebih mudah dipahami dibanding instruksi verbal. Para pendamping juga menerapkan teknik menepuk pundak anak mengikuti tempo untuk membantu peserta menyesuaikan diri dengan irama pementasan.
Selain menguji ketepatan isyarat (cue), peserta menjalani simulasi adegan (run-through) dengan mengenakan properti Topeng Wayang Limbah Kertas secara utuh. Simulasi berkelanjutan ini juga dimanfaatkan sebagai uji ketahanan fisik untuk memastikan kelancaran sirkulasi udara pada rongga topeng ketika para pemeran bergerak aktif di bawah iringan audio.
Latihan ditutup dengan evaluasi tim produksi yang dinilai positif. Ketergantungan peserta pada panduan fisik langsung dari pendamping terpantau menurun dan bergeser menjadi respons yang lebih mandiri terhadap ruang dan nada panggung. Capaian tersebut disebut memperkuat kesiapan mental dan fisik tim menjelang pementasan kolosal yang direncanakan pada Mei 2026.