Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, akan menjadi lokasi pementasan teater bertajuk Ruang Tunggu (atawa Peninjauan Kembali Terhadap Nyai Dasima), karya dramawan Zen Hae. Pertunjukan ini dipanggungkan oleh SINTESA bersama Forum Teater Kampus Jakarta Selatan dalam rangka Festival Teater Tradisional 2025.
Pementasan tersebut disutradarai Mariyo Suniroh dari Teater Kafha, dengan asisten sutradara Lailatin Na’Ma dari Teater Elnama. Melalui pendekatan yang mempertemukan tradisi dan tafsir kontemporer, lakon ini tidak hanya meninjau ulang kisah Nyai Dasima, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi mengenai sejarah, kekuasaan, serta tubuh perempuan dalam bingkai kolonialisme dan spiritualitas.
Menurut Mariyo, naskah ini tidak ditempatkan sebagai adaptasi biasa. Ia menyebut Zen Hae menuliskannya sebagai pintu masuk menuju dialektika antara sejarah dan imajinasi. “Kami ingin menjadikan panggung ini sebagai ruang tunggu—bukan dalam arti pasif, tetapi sebagai ruang perenungan dan transisi menuju kesadaran baru,” kata Mariyo.
Dalam Ruang Tunggu, penonton diajak meninjau ulang posisi Nyai Dasima—tokoh ikonik dari masa Hindia Belanda—yang kerap dipahami semata sebagai korban dalam kisah cinta kolonial. Versi ini menempatkan Nyai Dasima sebagai simbol persimpangan kekuasaan, moralitas, dan spiritualitas perempuan urban, sekaligus mendorong refleksi tentang bagaimana warisan kolonial membentuk cara pandang terhadap perempuan hingga kini.
Pertunjukan ini juga menandai pertemuan lintas generasi melalui keterlibatan Forum Teater Kampus Jakarta Selatan. Kolaborasi tersebut dipandang sebagai upaya menyuntikkan energi intelektual dan semangat eksperimentasi ke panggung tradisi. Sementara itu, SINTESA—asosiasi teater Jakarta Selatan yang telah berbadan hukum sejak 2025—menempatkan pementasan ini sebagai bagian dari visinya untuk membawa teater Jakarta Selatan ke level internasional.
Perwakilan SINTESA, Al Muhtadi, menekankan bahwa teater tradisional perlu terus berkomunikasi dengan perkembangan zaman. “Kami percaya teater tradisional bukan museum. Ia bisa dan harus bicara dengan zaman. Dan keterlibatan generasi muda adalah kuncinya,” ujarnya.
Pemilihan GKJ sebagai panggung utama juga disebut memperkuat resonansi historis pertunjukan. Sebagai salah satu situs penting dalam sejarah seni pertunjukan Indonesia, GKJ dipandang bukan sekadar ruang pementasan, melainkan simbol keberlanjutan narasi dari masa kolonial hingga kini—tempat kisah Nyai Dasima dihidupkan kembali dengan suara dan semangat baru.
Festival Teater Tradisional 2025 sendiri dirancang sebagai ruang temu lintas pendekatan dan generasi, menampilkan karya-karya yang menggali akar tradisi sekaligus menantang tafsirnya.
Detail pementasan:
Judul: Ruang Tunggu (atawa Peninjauan Kembali Terhadap Nyai Dasima)
Karya: Zen Hae
Sutradara: Mariyo Suniroh (Teater Kafha)
Asisten sutradara: Lailatin Na’Ma (Teater Elnama)
Tanggal & waktu: Minggu, 15 Juni 2025, pukul 19.30 WIB
Tempat: Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru

