BERITA TERKINI
Kris Dayanti Rilis EP “Love, Krisdayanti”, Bahas Adaptasi Musik, Keluarga, Politik, hingga Disiplin Wushu

Kris Dayanti Rilis EP “Love, Krisdayanti”, Bahas Adaptasi Musik, Keluarga, Politik, hingga Disiplin Wushu

Kris Dayanti memperkenalkan EP terbarunya, Love, Krisdayanti, yang memuat sejumlah materi lama yang dihidupkan kembali sekaligus menandai arah musikal yang berbeda dari citra balada megah yang selama ini lekat dengannya. Dalam perbincangan seputar proyek tersebut, ia juga menyinggung dinamika keluarga, pengalamannya di politik, hingga rutinitas olahraga wushu yang dijalaninya secara serius sejak 2021.

Sejumlah lagu dalam EP itu bukan rekaman baru. Tiga lagu berbahasa Inggris—“Breathless”, “On The Way Up”, dan “Never Gonna Let You Go”—direkam pada 2019 di Los Angeles, sebelum pandemi. Kris Dayanti mengatakan, pada periode itu fokusnya bergeser karena tengah menjalani tugas di parlemen. Ia menilai saat itu bukan waktu yang tepat untuk merilis proyek tersebut.

Alih-alih dibiarkan menjadi arsip, materi lama itu kemudian dipoles ulang melalui proses remastering dan mixing dengan teknologi Dolby Atmos. Menurutnya, pembaruan ini memberi dimensi audio yang lebih imersif.

Dari sisi bunyi dan pendekatan, Love, Krisdayanti disebut menawarkan nuansa pop kontemporer dengan produksi yang lebih ringkas serta visual yang tidak lagi mengedepankan glamor khas diva era 2000-an. Kris Dayanti menyebut konsepnya lebih personal, seperti surat terbuka. Judul EP itu lahir dari diskusi bersama adiknya dan tim kreatif yang membawa perspektif generasi lebih muda.

Ia mengaku banyak belajar dari cara milenial dan Gen Z memaknai kedekatan—lebih singkat dan langsung, namun tetap emosional. Pendekatan tersebut juga tercermin dalam video musiknya. Kris Dayanti hanya muncul beberapa detik dan tidak menjadikan dirinya pusat visual. Ia menyebut pilihan itu sebagai upaya membuat narasi lebih relevan.

Di tengah lanskap distribusi musik yang dipengaruhi potongan konten pendek dan algoritma digital, ia menilai adaptasi diperlukan tanpa harus menurunkan standar. Karena itu, produksi EP tetap melibatkan musisi live, orkestrasi organik, serta kolaborator lama yang pernah membangun karya-karya ikonisnya. Untuk salah satu trek, ia kembali bekerja dengan personel orkestra yang dulu terlibat dalam lagu “Mencintaimu”.

Kris Dayanti juga menyinggung realitas biaya produksi musik berkualitas. Ia menyebut nilai produksi EP mencapai ratusan juta rupiah, di luar biaya promosi dan distribusi. Sebagai musisi independen melalui labelnya sendiri, Raya Music, tantangan terbesarnya bukan hanya menciptakan karya, melainkan memastikan karya itu menemukan pendengar di tengah persaingan dengan generasi yang lebih “native” secara digital.

Meski begitu, ia tidak melihat perubahan sebagai ancaman. Menurutnya, selera hanya berkembang. Ia menyebut yang ingin dicari adalah titik temu antara mempertahankan karakter Kris Dayanti sebagai diva Indonesia tanpa terjebak nostalgia.

Tema cinta tetap menjadi benang merah dalam perjalanan musikalnya, namun definisinya ia rasakan semakin luas. Ia menyebut cinta kini dipahami dari banyak lapisan peran—sebagai istri, ibu, nenek, sahabat, anak, dan adik. Baginya, cinta tampak dalam praktik keseharian: mengabari saat tiba dengan selamat, mengangkat telepon dari orang tua, atau mengatakan “I love you” tanpa alasan besar.

Ia menilai tiga kata sederhana itu dapat mengubah suasana hati seseorang, sekaligus berkaitan dengan kesehatan mental. Kris Dayanti menyoroti budaya perbandingan sosial yang menguat lewat media digital dan bisa membuat orang merasa kurang. EP tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kasih sayang kepada orang lain maupun diri sendiri tetap relevan di tengah dunia yang bergerak cepat.

Di luar musik, Kris Dayanti menekuni wushu sejak 2021 dan telah mengikuti berbagai kompetisi di kategori veteran. Ia menggambarkan latihan wushu sebagai rutinitas repetitif: gerakan yang sama diulang berkali-kali untuk penampilan satu hingga dua menit. Ia mengatakan bangun pukul lima pagi, berdoa, lalu berlatih secara konsisten.

Menurutnya, wushu mengajarkan mindfulness dalam bentuk konkret—gerakan harus presisi sekaligus mengalir. Ia juga tertarik pada sisi estetik seni bela diri tradisional Tiongkok tersebut: kuat namun tetap indah. Ada pula alasan personal di balik disiplin itu, yakni pengalaman melihat ibundanya mengalami stroke di usia relatif muda. Ia menilai olahraga bukan lagi soal penampilan, melainkan investasi agar tetap mandiri di usia lanjut.

Setelah lebih dari 30 tahun berkarier, Kris Dayanti menyebut ambisinya tetap ada, tetapi bentuknya berubah. Jika dulu ambisi terkait panggung yang lebih besar, kini ia menekankan kualitas hidup, konsistensi, dan legacy. Ia juga mengakui peran sebagai istri dan ibu menjadi tantangan yang kompleks, karena menjaga keseimbangan emosi dalam keluarga besar membutuhkan energi besar dan berlangsung sepanjang waktu.

Sebagai figur yang juga terjun ke politik, ia memandang seni dalam konteks kebangsaan. Ia percaya musik dapat memperkuat identitas Indonesia di tengah kompetisi budaya global, mengingat besarnya pasar dan potensi yang dimiliki. Meski mengakui adanya tantangan struktural, ia memilih mempertahankan optimisme dan keyakinan pada Indonesia.

Di akhir percakapan, ketika ditanya apa yang akan ia tulis untuk dirinya yang lebih muda, Kris Dayanti menjawab singkat: “I love you.” Baginya, tiga kata itu menjadi inti yang merangkum perjalanan panjang—di musik, keluarga, disiplin olahraga, dan transformasi personal—sekaligus pengingat bahwa cinta, dalam bentuk paling sederhana, tetap menjadi energi yang menggerakkan.