Kontroversi mengemuka setelah seniman visual Le Giang menyatakan patung karyanya berjudul “Tàn chỉ” telah disalin dan digunakan sebagai desain set dalam video musik “Come My Way” milik penyanyi Son Tung M-TP, tanpa izin maupun kesepakatan hak cipta.
Menanggapi sorotan publik, pada 5–6 Juni, Antiantiart selaku perusahaan produksi video musik tersebut merilis siaran pers resmi. Dalam pernyataannya, Antiantiart menyebut mereka bertindak sebagai kontraktor untuk keseluruhan paket produksi, membuat keputusan profesional secara independen, dan menunjuk subkontraktor Microwave Soups untuk mengeksekusi desain set secara rinci.
Antiantiart juga menyampaikan permintaan maaf kepada perusahaan manajemen M-TP Talent dan Son Tung M-TP atas dampak negatif yang timbul. Mereka menegaskan penyanyi tersebut berada sepenuhnya di luar proses peninjauan desain artistik.
Meski langkah Antiantiart mengambil alih tanggung jawab dinilai dapat meredakan tekanan terhadap Son Tung M-TP, sejumlah pihak menilai pernyataan sepihak tidak otomatis menutup sengketa kekayaan intelektual. Dari sudut pandang hukum, penentuan tanggung jawab tetap bergantung pada peran nyata masing-masing pihak, kontrak, serta siapa yang menerbitkan dan memperoleh manfaat dari produk akhir.
Pengacara Hoang Ha dari Asosiasi Pengacara Kota Ho Chi Minh menjelaskan bahwa dalam sengketa kekayaan intelektual di industri hiburan, hukum tidak menilai berdasarkan tingkat ketenaran, melainkan berdasarkan keterlibatan dan tindakan eksploitasi keuntungan. Ia membedakan dua jenis tanggung jawab: pihak yang secara langsung menciptakan unsur yang diduga melanggar, serta entitas yang menerbitkan dan memperoleh manfaat dari produk akhir.
Menurutnya, unsur penciptaan langsung dalam kasus ini, berdasarkan siaran pers, berada pada Antiantiart dan Microwave Soups. Sementara itu, pertanyaan lain yang perlu dijawab adalah apakah M-TP Talent atau Son Tung M-TP termasuk pihak yang menerbitkan dan memperoleh manfaat dari video musik tersebut.
Hoang Ha merujuk pada preseden sengketa antara musisi Amerika Zack Hemsey dan penyanyi Noo Phước Thịnh terkait video musik “Chạm khẽ tim anh một chút thôi”. Dalam perkara itu, pengadilan menyatakan rekaman audio pada video musik mengandung unsur penggandaan tanpa izin, tetapi gugatan terhadap Noo Phước Thịnh tidak diterima. Alasannya, dokumen menunjukkan ia hanya berperan sebagai aktor/penyanyi yang menerima honor, tidak terlibat produksi, tidak memilih musik latar, dan bukan pemilik kanal YouTube yang merilis video tersebut. Tanggung jawab dinyatakan berada pada investor dan pemilik video musik.
Dari perbandingan tersebut, Hoang Ha menyebut ada dua kemungkinan dalam kasus “Come My Way”. Jika Son Tung M-TP hanya berperan sebagai penampil, tidak menyetujui desain, serta tidak memiliki atau mengoperasikan aspek komersial video musik, maka ia dapat dianggap sebagai pihak yang dirugikan reputasinya akibat risiko dalam rantai produksi. Namun, jika Son Tung M-TP atau badan hukum terkait seperti M-TP Talent merupakan pemilik proyek yang memesan produksi dan mengeksploitasinya secara komersial, alasan “outsourcing” tidak dapat digunakan untuk sepenuhnya membebaskan kewajiban terhadap pihak ketiga. Dalam skenario ini, outsourcing hanya membuka ruang bagi pemilik proyek untuk menuntut kompensasi kepada unit produksi melalui kontrak internal.
Persoalan lain yang krusial adalah pembuktian unsur pelanggaran. Berdasarkan Undang-Undang Kekayaan Intelektual dan Keputusan 17/2023/ND-CP, hukum tidak melindungi ide umum atau inspirasi estetika, melainkan bentuk ekspresi kreatif yang spesifik. Artinya, jika tim produksi hanya mengambil semangat atau suasana budaya dari “Tàn chỉ”, hal itu belum tentu dianggap pelanggaran. Namun, jika elemen pahatan, relief, dan komposisi yang mudah dikenali dari karya Le Giang dipindahkan ke produksi film komersial, maka batas antara referensi dan penyalinan dinilai telah terlampaui.
Untuk mencapai kesimpulan, diperlukan penilaian ahli yang membandingkan berbagai materi, mulai dari sketsa 3D, file konstruksi set, hingga gambar yang ditayangkan.
Kontroversi ini juga menyoroti praktik “sewa-dari-sewa” yang disebut longgar dalam industri hiburan Vietnam. Dalam satu proyek video musik, pekerjaan dapat terpecah ke banyak subkontraktor—dari pemilik proyek ke produser, lalu ke desainer, kontraktor, hingga pembuat model. Tanpa mekanisme kontrol, setiap mata rantai berpotensi memunculkan risiko pelanggaran hak cipta.
Hoang Ha menilai solusi utamanya bukan memaksa penyanyi memeriksa setiap detail set, melainkan memperketat proses penerimaan pekerjaan dan kontrak hukum. Ia menyarankan agar sebelum merilis produk, seniman dan tim meminta paket dokumentasi hak cipta lengkap dari perusahaan produksi. Dokumen itu perlu mencantumkan sumber bahan referensi, karya yang telah dilisensikan, siapa pembuat file desain, serta komitmen unit produksi untuk bertanggung jawab penuh atas kompensasi jika terjadi pelanggaran terhadap pihak ketiga.
Menurutnya, langkah tersebut bukan untuk mempersulit proses kreatif, melainkan fondasi untuk melindungi seniman dan produser, sekaligus mendorong industri kreatif yang lebih profesional.