Kontroversi seputar video musik (MV) Sơn Tùng M-TP berjudul Come My Way menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir setelah seniman visual Lê Giang menyatakan bahwa tim produksi diduga menggunakan bahasa visual dari karyanya, Tàn Chỉ (Vestige of the Land), tanpa izin. Peristiwa ini memicu perdebatan di media sosial mengenai hak cipta di bidang kreatif sekaligus menarik perhatian publik terhadap sosok seniman di balik karya yang disebut.
Lê Giang merupakan seniman visual kelahiran 1988 yang kini tinggal dan bekerja di Hanoi. Ia merupakan lulusan Universitas Seni Rupa Vietnam dan meraih gelar Magister Seni Rupa dari Camberwell School of Art, bagian dari Universitas London, Inggris. Pada 2018, ia masuk daftar “30 Under 30” versi Forbes Vietnam.
Dalam pengenalan profesionalnya, praktik artistik Lê Giang mencakup lukisan, patung, serta riset interdisipliner. Karya-karyanya kerap mengeksplorasi tema memori, sejarah, budaya asli, dan dampak sistem sosial terhadap kehidupan manusia. Ia juga dikenal menggunakan material simbolis seperti arang, plester, dan batu permata untuk menelusuri relasi antara materi, ingatan, dan lapisan endapan budaya.
Salah satu proyek yang paling dikenal, dan kini menjadi pusat perdebatan, adalah Vestige of the Land. Menurut Lê Giang, Tàn Chỉ bukan sekadar karya personal, melainkan hasil penelitian dan survei lapangan selama bertahun-tahun di sejumlah situs bersejarah di Delta Sungai Merah. Proyek yang disebutnya disponsori Goethe Institute Hanoi itu pernah dipresentasikan melalui pameran dan publikasi buku, lalu dipamerkan di Vin Gallery, Art Central Hong Kong, serta Museum Seni Rupa Nasional Taiwan. Ia juga menyebut proyek tersebut melibatkan banyak arsitek, peneliti lintas disiplin, serta organisasi dan kurator budaya internasional.
Lê Giang menyatakan banyak detail dalam gaya visual MV Come My Way memiliki kemiripan dengan bahasa visual dalam Tàn Chỉ. Ia menyoroti elemen-elemen seperti struktur yang mengingatkan pada rumah komunal desa yang bobrok, dinding berlapis kapur, relief, hingga tata ruang yang dinilainya serupa dengan karya yang ia buat pada 2017.
Setelah isu ini mencuat, tim produksi dan desain MV menyampaikan permintaan maaf. Namun, pada pagi 6 Juni, Lê Giang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap cara pihak-pihak terkait menangani situasi tersebut. Ia menilai permintaan maaf yang disampaikan tidak sopan dan tidak mencerminkan sifat penggunaan karya tanpa izin, serta menyebut belum ada langkah konkret untuk bertanggung jawab atas dugaan pelanggaran hak cipta berdasarkan hukum kekayaan intelektual.
Ia juga menegaskan bahwa hingga saat itu pemilik MV yang menurutnya menggunakan karya seninya belum menghubunginya untuk memenuhi kewajiban terkait penggunaan karya yang dilindungi hak cipta. Lê Giang menyatakan kecewa dan merasa karya seninya dihina oleh cara penanganan masalah tersebut. Ia menambahkan bahwa hal yang paling menyakitkan baginya adalah insiden itu berasal dari orang-orang yang bekerja di bidang kreatif, yang semestinya menjunjung penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual sebagai nilai dasar industri.
Selain itu, Lê Giang mengungkapkan bahwa sejak menyuarakan pendapatnya, ia menghadapi banyak komentar kasar dan tindakan fitnah di media sosial.
Di sisi lain, M-TP Entertainment menyebut peristiwa tersebut sebagai “kejadian yang tidak diinginkan dan tidak terduga”. Perusahaan menyatakan memantau kerja sama antarpihak terkait dan berharap masalah dapat segera diselesaikan dengan semangat menghormati kreativitas serta mematuhi hukum.
Sementara itu, Antiantiart—perusahaan produksi di balik MV Come My Way—menyatakan bertanggung jawab atas perancangan, pengembangan, dan implementasi seluruh elemen kreatif terkait video tersebut. Antiantiart menyebut telah secara proaktif menghubungi Lê Giang untuk diskusi langsung, meninjau kembali seluruh proses implementasi proyek, serta bekerja sama dengan Microwave Soups, unit yang bertanggung jawab langsung untuk mendesain dan membangun latar MV.
Dalam pernyataannya, Antiantiart juga menyampaikan permintaan maaf kepada M-TP Talent Joint Stock Company dan Sơn Tùng M-TP atas dampak dan konsekuensi yang timbul dari insiden tersebut.
Kontroversi ini terus mendapat perhatian dari komunitas seni dan publik, serta memicu diskusi lebih luas mengenai hak cipta, kepengarangan, dan batas antara inspirasi kreatif dengan pengambilan atau apropriasi kekayaan intelektual dalam industri budaya.