BERITA TERKINI
Konser Neverland di Lapangan Rampal Malang Hadirkan Kolaborasi Lintas Genre hingga Larut Malam

Konser Neverland di Lapangan Rampal Malang Hadirkan Kolaborasi Lintas Genre hingga Larut Malam

Lapangan Rampal, Malang, dipadati ribuan penonton pada Sabtu malam (2/5/2026) dalam konser bertajuk Neverland. Sejak sore, arus kedatangan penonton dari berbagai penjuru mulai memenuhi area konser, membawa ekspektasi terhadap pergelaran yang mempertemukan musisi lintas genre dan generasi.

Panggung dibuka oleh The Wavings yang langsung memanaskan suasana. Dentuman musik mereka membuat penonton merapat ke depan panggung, disambut tepuk tangan dan teriakan yang menandai dimulainya rangkaian penampilan malam itu.

Nuansa kemudian bergeser saat Danyannisa tampil. Karakter vokalnya yang lembut namun kuat menghadirkan atmosfer lebih intim. Di tengah keramaian, sejumlah penonton tampak mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen.

Setelah itu, Altersense membawa eksplorasi musik yang dinamis. Permainan instrumen yang solid dipadukan dengan pencahayaan panggung menciptakan pengalaman visual dan audio yang membuat penonton kembali bergelora mengikuti irama.

Memasuki penampilan berikutnya, Roni Parulian tampil memukau dengan suara khasnya. Lagu-lagu yang dibawakan menciptakan momen kebersamaan ketika area konser seakan bernyanyi serentak, mempertegas kedekatan antara musisi dan penonton.

Suasana menjadi lebih syahdu saat Nadin Amizah naik ke panggung. Lirik puitis dan aransemen lembut menghadirkan jeda emosional di tengah gegap gempita konser. Ribuan penonton terlihat larut, sebagian ikut menyanyikan bait demi bait.

Energi kembali meningkat ketika For Revenge tampil. Band ini mengguncang Lapangan Rampal dengan lagu-lagu penuh emosi yang disambut koor massal, menghadirkan atmosfer yang lebih intens dengan teriakan dan luapan perasaan penonton.

Puncak kehangatan hadir saat Tulus tampil di hadapan ribuan orang. Lagu-lagu populernya dinyanyikan bersama, menciptakan harmoni yang kuat dan membuat suasana terasa hangat, intim, sekaligus megah.

Konser ditutup oleh The Adams yang menghadirkan nuansa nostalgia sekaligus energi segar. Penampilan mereka menjadi penutup yang meninggalkan kesan mendalam bahkan setelah lampu panggung meredup.

Salah satu penonton, Ulthary, mahasiswa yang menempuh pendidikan di Malang, mengaku takjub dengan pengalaman yang ia rasakan. Ia menyebut beberapa kali menonton konser, namun baru merasakan keseruan seperti pada malam tersebut.

“Ini benar-benar di luar ekspektasi. Bukan cuma soal musiknya, tapi suasananya juga dapet banget. Dari awal sampai akhir tuh rasanya hidup terus. Aku ngerasa kayak benar-benar masuk ke dunia Neverland,” ujar Thary.

Ia menilai keberagaman line-up menjadi kekuatan utama konser ini. “Jarang ada konser yang bisa nyatuin banyak genre tapi tetap terasa nyambung. Semua penampil punya ciri khas sendiri, tapi tetap bisa dinikmati bareng-bareng. Ini pengalaman yang bakal aku ingat lama,” tambahnya.

Dengan kehadiran ribuan penonton dan atmosfer yang terus hidup sepanjang malam, konser Neverland menjadi ruang pertemuan berbagai emosi dan identitas musikal dalam satu panggung. Lapangan Rampal pun menjadi saksi bagaimana musik menyatukan banyak orang dalam pengalaman yang berkesan.