Media Gantara Organizer menggelar pertunjukan musik Batak bertajuk “Horas Banjarbaru” dengan tema “Sana nada, Sada hita” di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat pelestarian budaya Batak di kalangan masyarakat perantau sekaligus menjadi ruang silaturahmi bagi komunitas Batak di daerah tersebut.
Ketua Panitia Pelaksana konser, Dionisius Sony, mengatakan acara ini menjadi momentum awal untuk menghadirkan panggung musik Batak secara lebih luas di Kota Banjarbaru. Penyelenggara melibatkan komunitas Batak yang tersebar di Banjarbaru dan wilayah sekitarnya.
Menurut Dionisius, pemilihan Banjarbaru sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada kedekatan emosional salah satu pendiri penyelenggara dengan kota tersebut. Selain itu, di Banjarbaru dan sekitarnya terdapat komunitas Batak yang cukup besar, dengan jumlah lebih dari 1.000 kepala keluarga yang menetap di wilayah itu.
Konser “Horas Banjarbaru” dijadwalkan berlangsung di GOR Babussalam Banjarbaru pada Sabtu (2/5) pukul 19.00 Wita. Dionisius menekankan acara ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai strategis untuk menjaga keberlangsungan budaya Batak di tanah perantauan, di tengah dinamika masyarakat yang semakin heterogen dan modern.
“Tujuannya adalah tetap melestarikan budaya, khususnya budaya Batak di Kalimantan Selatan. Ternyata banyak sekali masyarakat kita yang merantau di sini,” ujar Dionisius. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin tahunan dan diperluas ke berbagai daerah lain di Kalimantan Selatan.
Acara tersebut didukung Gana Group dan sponsor lainnya. Penyelenggara menyebut kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam mengembangkan industri kreatif berbasis budaya lokal, dengan proyeksi kehadiran penonton yang cukup banyak pada malam puncak pertunjukan.
Dalam sesi meet and greet, musisi Batak Alex Rudiart Hutajulu yang dijadwalkan tampil menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan musik Batak. Ia menilai perkembangan musik Batak saat ini semakin positif di tengah derasnya arus musik global, salah satunya karena kemudahan akses teknologi digital yang memberi ruang lebih luas bagi generasi muda untuk berinovasi dan mengembangkan karya.
Alex berharap konser seperti “Horas Banjarbaru” dapat berlanjut sebagai agenda tahunan dan merangkul berbagai kalangan masyarakat, tidak terbatas pada satu komunitas, sehingga memperkuat nilai kebersamaan di Kalimantan Selatan.
Musisi Osen Hutasoit turut mengajak masyarakat Batak di Kalimantan Selatan untuk tetap menjunjung tinggi nilai Dalihan Na Tolu, yakni Elek Marboru, Somba Marhula-hula, dan Manat Mardongan Tubu. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di perantauan tanpa melupakan bona pasogit sebagai akar budaya.
Sementara itu, musisi Roy Pasaribu menilai musik Batak memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat nasional hingga internasional, selama didukung solidaritas komunitas serta kreativitas generasi muda dalam menghasilkan karya yang relevan dengan perkembangan zaman dan selera pasar musik saat ini.