BERITA TERKINI
Konser di Museum Kian Diminati, Tawarkan Pengalaman Musik yang Lebih Imersif

Konser di Museum Kian Diminati, Tawarkan Pengalaman Musik yang Lebih Imersif

Program bertajuk Gelombang Refleksi Diri dijadwalkan berlangsung pada malam 31 Mei sebagai pembuka rangkaian Museumoon yang diproduksi Xin Chào Entertainment. Pertunjukan ini menggabungkan format konser dan talk show yang dipandu MC Nguyen Khang, dengan menghadirkan seniman Hien Thuc, On Vinh Quang, Phuong Phuong Thao, dan Tuan Dung, dalam suasana ruang warisan budaya yang akrab bagi penikmat seni.

Membawa musik ke ruang-ruang bersejarah di Kota Ho Chi Minh bukan hal sepenuhnya baru. Sejak 2005, program Music Road pernah menggelar malam musik Thanh Tung di Museum Seni Rupa Kota Ho Chi Minh, memadukan arsitektur lama dengan lagu-lagu cinta yang dikenal luas. Namun kala itu, format semacam ini masih lebih sering dipandang sebagai acara tunggal, bukan sebuah model seni tersendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring menguatnya tren seni imersif dan apa yang kerap disebut sebagai “ekonomi pengalaman”, konser di museum mulai dipandang sebagai bentuk pertunjukan yang menjadikan ruang sebagai bagian dari karya. Direktur Duong Mai Viet Anh menilai museum modern kini bersaing bukan hanya lewat koleksi, melainkan juga pengalaman yang ditawarkan. Ia juga menyoroti perubahan perilaku audiens muda yang tidak lagi sekadar ingin “melihat”, melainkan memasuki ruang seni, berinteraksi, dan merasakan pengalaman melalui berbagai indra.

Sejumlah contoh internasional kerap disebut sebagai penanda menguatnya tren museum sebagai ruang pertunjukan kontemporer. Pada 2018, Beyoncé dan Jay-Z merilis video musik Apeshit yang difilmkan di Musée du Louvre. Koridor museum itu tampil sebagai panggung bagi hip hop, mode, dan seni visual. Dampaknya, Louvre kemudian meluncurkan tur yang mengikuti jejak perjalanan keduanya, dan museum tersebut disebut mengalami peningkatan jumlah pengunjung setelah video musik itu populer.

Di sisi lain, Björk pada 2015 menghadirkan pameran di Museum of Modern Art yang mengubah ruang menjadi pengalaman audio-visual multisensori, sehingga pengunjung tidak hanya “melihat sang seniman” tetapi memasuki semesta kreatifnya. Di Amerika Serikat, Museum Seni Cleveland selama bertahun-tahun menggelar seri Chamber Music in the Galleries yang membawa konser musik kamar ke galeri. Di Inggris, Museum Manchester pernah menarik perhatian lewat EarthSonic Live yang memadukan set DJ, seni suara, dan data biologis tumbuhan. Sementara itu, Museum MINA di Bukares menggabungkan musik klasik, proyeksi digital, dan efek visual berskala besar untuk menciptakan pengalaman mendengarkan yang imersif.

Artikel di Le Monde mencatat museum kian “kecanduan pengalaman imersif”, seiring pengalaman bermain peran menjadi tuntutan baru masyarakat modern. Dalam konteks ini, Museumoon disebut terinspirasi dari gagasan “malam di museum” untuk mengubah ruang yang biasanya tenang menjadi “pameran hidup”, tempat musik, cerita, dan emosi hadir berdampingan, sekaligus mengaburkan batas antara penonton dan karya seni.

Penyelenggara menyatakan Museumoon tidak diposisikan sebagai pertunjukan musik biasa, melainkan sebagai model “kurator” yang mengkurasi pengalaman artistik. Artinya, setiap pertunjukan tidak hanya menghadirkan seniman, tetapi juga dirancang dengan konsep, struktur spasial, dan narasi emosional tertentu. Tiga program awal dijadwalkan meliputi Waves of Self-Reflection (31 Mei), Untold Stories (25 Juni), dan Rock in Museum (30 Juli). Judul Rock in Museum memperlihatkan ambisi membawa elemen musik yang kerap dianggap bertentangan dengan suasana museum ke dalam konteks baru.

Perubahan besar di industri hiburan turut mendorong tren ini. Penonton dinilai tidak lagi membeli tiket semata karena nama artis, melainkan karena pengalaman yang ditawarkan. Penampilan musisi yang sama dapat terasa berbeda ketika dipindahkan dari arena besar ke ruang bersejarah dengan pencahayaan redup, jarak yang dekat, dan suasana yang menyerupai alur cerita.

Di sisi lain, ruang museum juga menuntut penyesuaian dari para seniman. Pertunjukan yang terlalu riuh atau sepenuhnya bergantung pada efek panggung dinilai kurang sesuai. Seniman dituntut lebih bercerita, lebih terkendali, dan membangun koneksi yang lebih langsung dengan penonton.

Meski demikian, tren ini memunculkan perdebatan. Di Vietnam, beberapa tahun terakhir muncul berbagai model “hibrida” yang menggabungkan ruang pertunjukan dan warisan budaya, seperti pertunjukan akustik di galeri, pertunjukan kontemporer di rumah tua, pameran yang dipadukan dengan seni suara, hingga konser skala kecil di bangunan arsitektur lama. Model ini dipandang bukan sekadar “membawa penyanyi ke museum”, melainkan upaya menciptakan cara apresiasi seni yang berbeda.

Namun, sejumlah peneliti mengkhawatirkan kecenderungan pengalaman imersif yang terlalu menekankan aspek visual dan “Instagrammable”, sehingga kunjungan ke museum lebih didorong oleh kebutuhan berfoto untuk unggahan media sosial ketimbang mengapresiasi karya. Garis antara upaya mendekatkan seni kepada publik dan risiko mengubah seni menjadi pengalaman konsumsi dinilai tidak mudah ditarik. Meski begitu, model seperti ini disebut mampu menarik generasi muda kembali ke ruang-ruang budaya yang sebelumnya dianggap berjarak.