Dunia musik Indonesia kembali berduka. Komponis dan musisi James F. Sundah meninggal dunia pada usia 70 tahun, Kamis (7/5) pukul 11.28 waktu New York, Amerika Serikat.
Kabar duka tersebut pertama kali disampaikan pengamat musik sekaligus wartawan senior Denny Mr melalui akun media sosialnya. Dalam unggahannya, Denny menyebut James sebagai salah satu musisi besar dan figur penting di balik gerakan Suara Persaudaraan, seraya membagikan foto serta berita duka yang dirilis keluarga almarhum.
James F. Sundah dikenal luas sebagai pencipta lagu “Lilin-Lilin Kecil” yang dipopulerkan Chrisye. Menurut informasi yang beredar, ia telah lama berjuang melawan kanker paru-paru dan sempat menjalani perawatan intensif di beberapa rumah sakit di Amerika Serikat. Bersama istrinya, Lia Suntoso, James diketahui telah menetap di AS selama beberapa waktu.
Selain karya-karyanya, James juga dikenang sebagai sosok yang memperjuangkan hak-hak musisi, terutama terkait Undang-Undang Hak Cipta. Denny menuturkan, James menaruh perhatian besar pada sistem tata kelola royalti yang menurutnya masih menyisakan persoalan. Bahkan sekitar dua bulan lalu, saat kondisinya sedang sakit, keduanya masih sempat berkomunikasi melalui Zoom dan James tetap menanyakan perkembangan isu tersebut.
Dalam perjalanan kariernya, James F. Sundah menulis lagu untuk sejumlah penyanyi Indonesia, antara lain Vina Panduwinata, Ruth Sahayana, dan Krisdayanti. Denny menyebut dua lagu ciptaannya, “Citra Biru” dan “September Ceria”, turut berperan dalam melambungkan nama Vina Panduwinata. Ia juga dikenal melalui lagu “Ozone” yang disebut mengingatkan tentang dunia yang kian kritis, dengan lirik yang dinilai memiliki kedalaman dan kaya makna.
Kontribusinya tidak hanya berhenti di ranah musik Indonesia. James pernah berkolaborasi dengan Titiek Puspa untuk menciptakan lagu bagi grup rock asal Jerman, Scorpions. Lagu berjudul “When You Came into My Life” yang ditulis pada 1996 disebut menjadi salah satu bukti luasnya jangkauan kreativitasnya.
Pada tahun lalu, James merilis lagu “Seribu Tahun Cahaya”. Lagu tersebut disebut dikerjakan dari ruang kerja sederhananya di New York, dengan proses penciptaan yang berlangsung hampir dua dekade. Karya itu ditujukan untuk sang istri, Lia, sebagai ungkapan rasa syukur atas kesetiaan yang diberikan.