Perpaduan musik dan seni rupa kian menonjol dalam berbagai proyek kreatif di Vietnam, menghadirkan pengalaman yang tidak hanya mengandalkan pendengaran atau penglihatan semata, melainkan mengajak publik merasakan karya secara lebih menyeluruh. Fenomena ini terlihat dari semakin seringnya lukisan hadir dalam format pertunjukan musik, video musik, hingga program museum yang menggabungkan pameran dan konser.
Salah satu contoh yang menyita perhatian datang dari video musik terbaru penyanyi Son Tung M-TP berjudul “Come My Way”. Sejumlah lukisan terkenal Vietnam muncul sebagai elemen penting dalam video tersebut. Karya “Mengenang Sore Hari di Barat Laut” (lukisan pernis, 1955) buatan Phan Ke An dan “Jalan Hang Mam” (lukisan minyak, 1984) karya Bui Xuan Phai ditampilkan bukan sekadar sebagai latar visual, tetapi menjadi bagian dari narasi artistik yang membangun pengalaman multisensori—di mana suara, gambar, dan ingatan budaya saling beresonansi.
Kolaborasi serupa juga muncul di ranah musik album dan pameran. Akhir pekan lalu, penyanyi Vo Le Vy merilis album “Em and 30” yang memuat 11 lagu dan dikolaborasikan dengan pameran “Thanh Khong” karya seniman Le Van Trong. Vo Le Vy menggambarkan musik sebagai pemantik emosi melalui suara, sementara lukisan mewujudkan emosi itu dalam warna dan bentuk. Pertemuan keduanya, menurutnya, membuka pengalaman yang memungkinkan penonton tidak hanya mendengar dengan telinga atau melihat dengan mata, tetapi juga merasakan melalui dunia batin.
Di berbagai kota, praktik lintas disiplin ini terus berkembang. Pemain biola Trinh Minh Hien pernah membuat video musik untuk “Tien Quan Ca” (Lagu Mars) di ruang Museum Seni Rupa Vietnam, menghadirkan suasana ketika bunyi biola seolah berdialog dengan karya-karya yang dipamerkan. Di Hue, proyek Chay Concept mempertemukan lukisan eksperimental dan musik dalam satu ruang kreatif, sekaligus mengaburkan batas antara penonton, pendengar, dan karya seni. Sementara di Da Lat, pameran “Nguyen Tu Nghiem - Dialog dengan Musik Klasik Barat” membangun resonansi antara lukisan dengan melodi piano dan biola, menawarkan pendekatan baru untuk mendekati warisan seni Vietnam.
Peran museum pun mengalami pergeseran. Museum seni tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat penyimpanan artefak dan memori, melainkan ruang pertemuan untuk pengalaman interdisipliner. Di Museum Seni Rupa Vietnam, konser yang digelar secara rutin ikut mengubah citra ruang yang sebelumnya identik dengan lukisan dan patung. Di Kota Ho Chi Minh, seri Museumoon bereksperimen lewat model malam musik di ruang warisan Museum Seni Rupa, sehingga pengunjung dapat menikmati musik sembari mengapresiasi karya seni dalam pengalaman yang berlapis.
Meski lahir dari medium berbeda, musik dan lukisan kerap dipandang memiliki tujuan serupa: membangkitkan emosi manusia. Lukisan menangkap perasaan melalui warna dan garis, sedangkan musik menyampaikannya lewat bunyi dan ritme. Kesamaan sifat ini membuat keduanya mudah dipertemukan—melukis dapat dipahami sebagai “musik untuk mata”, sementara musik seperti “lukisan” yang terbentuk dalam pikiran.
Dalam konteks ketika publik semakin mencari pengalaman yang lebih dalam daripada sekadar “melihat” atau “mendengarkan”, kombinasi suara dan warna menjadi pilihan yang terasa alami dalam seni kontemporer. Tren ini juga tidak hanya terjadi di Vietnam. Di berbagai negara, museum bertransformasi dari ruang pamer statis menjadi destinasi kreatif yang dinamis—mulai dari museum yang menjadi lokasi video musik, konser yang menyatu dengan karya seni, hingga pameran multisensori yang semakin lazim.
Perpaduan musik dan seni rupa pada akhirnya membangun jembatan baru bagi publik. Pecinta musik dapat mengenal pelukis melalui video musik, sementara penonton muda mungkin mengunjungi museum untuk pertama kalinya karena tertarik menghadiri konser. Di tengah perubahan lanskap sosial, konvergensi berbagai bentuk seni membuka kemungkinan kreatif yang luas, sekaligus memperbarui cara seni diapresiasi dan mempermudah akses masyarakat terhadap nilai-nilai budaya dalam kehidupan kontemporer.