BERITA TERKINI
Kenangan Dang Huu Phuc: Piano Suite Lahir dari Kamar Asrama 6 Meter Persegi di Masa Perang

Kenangan Dang Huu Phuc: Piano Suite Lahir dari Kamar Asrama 6 Meter Persegi di Masa Perang

Komposer Dang Huu Phuc mengenang lahirnya karya Piano Suite yang ia tulis pada 1973, saat masih berusia 20 tahun dan menjalani masa belajar piano serta komposisi di Sekolah Musik Vietnam—cikal bakal Akademi Musik Nasional Vietnam. Kenangan itu ia tuliskan dalam rangka peringatan 70 tahun akademi (1956–2026), sekaligus sebagai penghormatan bagi sekolah dan musik yang, menurutnya, membantu melewati masa-masa tersulit.

Phuc menggambarkan situasi ketika itu: negara masih dilanda perang, kehidupan dan pendidikan serba terbatas, dan sekolah baru kembali ke Hanoi setelah mengungsi di Dai Mao (provinsi Ha Bac). Kompleks sekolah berdiri di area yang disebutnya bekas pemakaman tua, terdiri dari beberapa bangunan satu lantai dan sebuah asrama empat lantai—tempat ia menghabiskan masa mudanya.

Di asrama, setiap lantai berisi kamar-kamar kecil sekitar 6 meter persegi, bernomor P1 hingga P27. Ruang sempit itu, tulisnya, selalu dipenuhi bunyi alat musik, nyanyian, dan semangat belajar. Pembagian jurusan per lantai juga masih ia ingat: lantai pertama untuk Departemen Etnologi, lantai kedua untuk piano dan vokal, lantai ketiga untuk alat musik gesek dan teori, serta lantai keempat untuk alat musik tiup, perkusi, dan akordeon.

Keterbatasan listrik menjadi bagian dari keseharian. Untuk mendapat penerangan atau kipas angin, para siswa harus menyambungkan kabel listrik telanjang secara manual. Sementara itu, piano disebutnya langka dan jadwal pelajaran tidak teratur. Demi memperoleh waktu latihan lebih banyak, Phuc kerap bertahan di sekolah hingga lewat pukul 9 malam, bahkan setelah pintu dikunci petugas keamanan. Ia menyebut ada beberapa tahun ketika ia praktis tidur di sekolah.

Malam-malam di asrama meninggalkan kesan kuat. Saat badai, ia berbaring sendirian di gedung gelap sambil mendengar pintu kaca dan jendela berderak diterpa angin, yang membuatnya merasa seperti berada di tengah serangan bom. Pada malam yang sangat dingin, bunyi nyamuk dan derap tikus di kegelapan menjadi suara yang paling jelas. Dalam kesepian dan dingin, ia merasa musik justru terdengar lebih jernih dan kuat.

Ia juga merefleksikan penderitaan generasinya yang hidup dalam perang dan kemiskinan. Namun, baginya, yang menyakitkan adalah ketika orang saling melukai karena iri hati dan hal sepele. Meski demikian, musik tetap menjadi tempat berlindung—cara menjaga bagian paling murni dari jiwa.

Dari latar itulah Piano Suite lahir. Phuc membandingkannya dengan karya sebelumnya, Prélude dalam E-flat mayor (1971), yang ia sebut masih kuat dipengaruhi Romantisisme Eropa dan Frédéric Chopin. Dalam Suite, ia merasakan pergeseran yang jelas: mulai menjauh dari pengaruh tersebut untuk mencari jalannya sendiri.

Dalam tiga bagian karya itu, Phuc mencoba menghadirkan citra dan bunyi pegunungan serta hutan Barat Laut Vietnam, meski pada saat menulis ia mengaku belum pernah menginjakkan kaki di sana. Sumber inspirasinya datang dari piringan hitam 78-rpm terbitan Penerbit Musik, yang memuat suara đàn tẩu suku Tày dan Nùng, khèn bè suku Thái, seruling Hmong, serta melodi rakyat sederhana lain.

Menurutnya, melodi rakyat tidak selalu mengikuti aturan yang dipelajari dari buku teks. Jika teknik akademis diterapkan secara mekanis, vitalitas melodi dapat hilang. Karena itu, ia memilih pendekatan yang ia gambarkan bukan sebagai analisis atau interpretasi, melainkan membenamkan diri, merasakan secara intuitif, dan menulis dengan hati.

Setelah selesai, Phuc mendedikasikan Piano Suite kepada Dang Thai Son, yang ketika itu berusia 15 tahun dan dianggap sebagai salah satu talenta menonjol di sekolah. Ia menulis dedikasi sederhana di partitur: “Untuk Dang Thai Son, semoga sukses.” Phuc menyebut Son sangat terharu dan sering membawakan karya tersebut.

Keduanya terhubung lewat musik. Phuc mengenang sering datang ke rumah Son di Jalan Ky Dong untuk belajar piano dari ibu Son, Thai Thi Lien. Dalam berbagai pertemuan sekolah, mereka banyak berbicara tentang musik. Sejak saat itu, Phuc merasakan kualitas khusus dalam diri Son: ketenangan mendalam di tengah kekhawatiran duniawi, serta firasat bahwa Son akan meraih kesuksesan besar.

Ia juga melukiskan suasana Hanoi kala itu yang sangat sunyi—hampir tanpa suara mesin, hanya sepeda dan jalanan lengang. Pemadaman listrik sering terjadi, kota miskin dan sepi, sementara sejumlah situs bersejarah berada dalam kondisi rusak, termasuk Kuil Sastra yang ia sebut hampir terbengkalai.

Dalam situasi tersebut, setiap ada delegasi internasional berkunjung, mereka kerap dibawa ke Sekolah Musik Vietnam untuk menyaksikan pertunjukan kecil para siswa. Phuc mengatakan ia sering dipilih memainkan piano, biasanya membawakan suite-nya bersama karya klasik seperti Appassionata Ludwig van Beethoven atau Konserto G mayor Maurice Ravel.

Dang Thai Son, tulisnya, hampir selalu hadir dalam program semacam itu. Selain karya klasik, Son selalu menyisihkan satu karya musik Vietnam, termasuk Piano Suite karya Phuc dan Variasi Tema Dataran Tinggi Tengah karya Nguyen Van Thuong. Kedua karya itu dimainkan bergantian sebagai cara memperkenalkan musik Vietnam kepada tamu internasional.

Pada 1980, Son membawakan Suite tersebut untuk dipentaskan di Konservatorium Tchaikovsky di Uni Soviet. Bagi Phuc, itu menjadi kegembiraan besar, bukan hanya karena karyanya tampil di lingkungan musik yang ia anggap bergengsi, tetapi juga karena terkait dengan perjalanan tumbuhnya seorang talenta besar.

Phuc menyebut dirinya juga telah berkali-kali membawakan karya itu. Ia menandai momen paling berkesan pada 1976, ketika peringatan 20 tahun berdirinya sekolah, serta bertahun-tahun kemudian dalam program “Perjalanan Musik” di Istana Kebudayaan Persahabatan Hanoi.

Di akhir tulisannya, Phuc menyimpulkan Piano Suite bukan sekadar komposisi, melainkan potongan masa muda yang berisi kesulitan, kesepian, aspirasi, dan keyakinan. Karya itu, menurutnya, menjadi bukti malam-malam panjang di kamar kecil, tidur gelisah diterpa angin, dan cinta pada musik yang tidak pudar.

Dalam bagian lain dari laporan yang sama, disebutkan pianis Nguyen Viet Trung tampil solo di Akademi Musik Nasional Hanoi pada malam 12 November. Penampilan itu digambarkan memukau, dan Dang Huu Phuc disebut terharu hingga menangis pada peluncuran buku tersebut.