BERITA TERKINI
Kemenperin Dorong Daya Saing Industri Kosmetik, Parfum, dan Wellness; Pelaku Usaha Tembus 1.500 pada 2025

Kemenperin Dorong Daya Saing Industri Kosmetik, Parfum, dan Wellness; Pelaku Usaha Tembus 1.500 pada 2025

Industri kosmetik, parfum, dan wellness di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang menguat, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan diri dan kualitas hidup. Produk kosmetik kini tidak lagi dipandang semata sebagai kebutuhan estetika, melainkan bagian dari gaya hidup modern yang menekankan aspek keamanan, kualitas, dan kesehatan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pemerintah terus mendorong daya saing sektor kosmetik, parfum, dan wellness sebagai bagian dari strategi peningkatan nilai tambah industri nasional. Dengan jumlah penduduk yang besar dan didominasi usia produktif, Indonesia dinilai memiliki potensi pasar kosmetik yang menjanjikan di kawasan.

“Industri kosmetik, parfum, dan wellness memiliki potensi besar untuk berkembang dan menjadi salah satu pilar pertumbuhan industri nasional,” ujar Agus dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026). Ia menambahkan, pemerintah akan terus menghadirkan kebijakan yang mendukung, termasuk fasilitasi, pembinaan, serta penguatan ekosistem industri agar mampu bersaing di tingkat global.

Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2025 mencatat jumlah pelaku industri kosmetik di Indonesia telah melampaui 1.500 unit usaha. Lebih dari 90% di antaranya merupakan industri kecil dan menengah (IKM), yang mencerminkan besarnya peran wirausaha lokal dalam sektor ini.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menekankan pentingnya inovasi dan pemahaman terhadap standar keamanan bagi pelaku IKM kosmetik. “IKM kosmetik harus mampu menghadirkan inovasi sekaligus peka terhadap kebutuhan pasar, serta memahami standar keamanan untuk menghasilkan produk berkualitas,” kata Reni.

Reni juga menyoroti peran fasilitas manufaktur modern dalam memperkuat struktur industri nasional. Menurutnya, fasilitas produksi berstandar tinggi dapat menjadi tolok ukur pengembangan lini produksi IKM agar mampu bersaing di pasar domestik maupun global.

Salah satu perkembangan yang disebut sebagai langkah nyata adalah pembukaan fasilitas manufaktur Prioritas Wellness Indonesia di Tangerang. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan sektor manufaktur kosmetik dan wellness di dalam negeri.

Dari sisi pasar, nilai industri kosmetik Indonesia pada 2025 tercatat sekitar USD 9,74 miliar, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 4,33% hingga 4,37%. Kinerja ekspor juga meningkat, dari USD 416,8 ribu pada 2024 menjadi USD 473,8 ribu pada 2025. “Dengan kinerja pasar dan ekspor yang positif, industri kosmetik Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi di pasar global,” ujar Reni.

Kementerian Perindustrian melalui Ditjen IKMA menjalankan sejumlah program pembinaan, antara lain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan sertifikasi dan izin edar, restrukturisasi mesin, serta perluasan akses pasar.

Sementara itu, Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin Budi Setiawan menilai kehadiran fasilitas manufaktur baru mencerminkan optimisme terhadap masa depan industri kosmetik nasional. “Ini bukan sekadar pabrik, tetapi simbol bahwa Indonesia memiliki potensi menjadi pemain utama dalam industri kosmetik, parfum, dan wellness dunia,” ujarnya.

Budi berharap pengembangan industri ini dapat meningkatkan kapasitas produksi nasional, memperkuat kemitraan dengan IKM, serta membuka lapangan kerja baru. Selain itu, penggunaan bahan baku lokal juga terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.