Program JazzyVibes edisi 25 April 2026 akan menyapa pendengar RRI Jazz Channel pada pukul 21.00–24.00 WIB bersama penyiar Lia Kusumawardani. Mengusung semangat bulan April yang identik dengan perjuangan Raden Ajeng Kartini, episode kali ini mengangkat tema perempuan dalam scene musik jazz, ruang ekspresi yang dipandang tidak hanya artistik, tetapi juga memiliki dimensi historis dan ideologis.
Dalam ulasan program tersebut, jazz digambarkan sebagai genre yang lahir dari pergulatan identitas dan kebebasan berekspresi. Karena itu, jazz disebut telah lama menjadi medium bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman, emosi, hingga perlawanan melalui karya.
Dari Indonesia, JazzyVibes menyoroti sejumlah nama yang dianggap berpengaruh. Ermy Kullit disebut sebagai ikon jazz klasik yang konsisten menjaga kualitas musikalitas lintas generasi. Ia berkiprah sejak 1973 dan dikenal dengan julukan “the Lady of Jazz”, serta kerap disebut sebagai Selena Jones Indonesia. Karier penyanyi kelahiran Manado itu disebut melejit setelah merilis album Kasih pada 1986, yang kemudian membuatnya dinobatkan sebagai penyanyi jazz terbaik pilihan dalam angket pembaca tabloid Monitor.
Nama lain yang diulas adalah Kemala Ayu, yang disebut menghadirkan warna vokal kontemporer. Ia memulai karier menyanyi pada usia 15 tahun melalui kompetisi pencarian bakat dan pertama kali dikenal luas saat menjadi vokalis Black Fantasy, terutama ketika lagu “Buat Kamu” meledak pada 1987. Penyanyi kelahiran Semarang ini juga disebut kerap berpindah band. Dewa Budjana tercatat pernah satu band dengannya dalam Hydro Band, dan Ayu juga pernah menjadi vokalis Krakatau sebelum Trie Utami bergabung.
Syaharani turut masuk dalam daftar musisi yang disorot berkat eksplorasi gaya yang disebut unik dan berani. Penyanyi jazz kelahiran Batu, Malang, yang memiliki nama lengkap Saira Syaharani Ibrahim ini disebut masih aktif hingga kini. Ia juga pernah mewakili Indonesia di North Sea Jazz Festival pada 2001, dengan ciri khas alunan jazz yang disebut enjoyable.
Selain itu, JazzyVibes menyinggung January Christy dengan karakter vokal khasnya, serta Iga Mawarni yang menggabungkan unsur jazz dengan teater musikal. January Christy disebut menyajikan jazz yang dibalut pop agar lebih mudah diterima masyarakat luas. Karier penyanyi kelahiran Bandung itu disebut melejit setelah lagu “Melayang” dan “Ada dan Tiada” populer pada 1986 dan kerap memuncaki tangga lagu radio di Indonesia. Christy juga disebut sebagai penyanyi pertama yang meraih penghargaan di BSFA (kini AMI) sebagai penyanyi jazz terbaik pada 1987.
Dari panggung internasional, program ini menampilkan kontribusi perempuan yang disebut ikut membentuk fondasi jazz. Ella Fitzgerald dikenang sebagai “First Lady of Song” dengan teknik scat singing yang disebut revolusioner. Dengan rentang vokal dan improvisasi yang menonjol, kariernya disebut berlangsung lebih dari lima dekade, meraih 13 Grammy Awards, dan tampil di panggung-panggung besar dunia.
Billie Holiday juga disorot karena menghadirkan kedalaman emosi dalam interpretasi lagu dan menjadikan musik sebagai medium kritik sosial. Lahir pada 1915, Holiday dikenal lewat gaya vokal yang emosional dan berani, termasuk melalui lagu “Strange Fruit” yang disebut sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan rasial di Amerika Serikat pada masanya.
Nama Sarah Vaughan disebut memperkaya jazz melalui rentang vokal yang luas. Dikenal dengan julukan “The Divine One”, ia disebut memiliki suara menakjubkan pada abad ke-20, dengan jangkauan tiga oktaf, kontrol nada, dan gaya bebop. Vaughan disebut memenangkan dua Grammy Awards serta menerima NEA Jazz Masters Award.
Sementara itu, Mary Lou Williams ditampilkan bukan hanya sebagai performer, tetapi juga komposer dan inovator yang berpengaruh dalam perkembangan bebop. Pianis dan komposer jazz ini disebut menciptakan komposisi untuk musisi jazz terkenal seperti Duke Ellington dan Benny Goodman.
Melalui rangkaian kisah tersebut, program ini menegaskan bahwa perempuan dalam jazz tidak ditempatkan sebagai objek estetika semata, melainkan sebagai subjek kreatif yang memiliki otoritas dalam produksi makna. Jazz diposisikan sebagai ruang dialektika antara identitas, sejarah, dan ekspresi personal yang diterjemahkan ke dalam karya musikal.
Selain mengulas musisi jazz perempuan, JazzyVibes juga menghadirkan rangkaian lagu pilihan yang disebut bertujuan menghibur sekaligus mengedukasi pendengar mengenai kontribusi perempuan dalam lanskap jazz nasional dan global. Program ini dapat diikuti setiap Sabtu pukul 21.00–24.00 WIB, serta dapat didengarkan melalui aplikasi RRI Digital dan 91,2 FM RRI Pro 1 Jakarta.