Perubahan besar dalam tatanan dunia kembali menyorot peran negara-negara berkembang dalam membentuk kerja sama internasional. Indonesia, yang kerap disebut sebagai kekuatan menengah di kawasan, kini mengambil posisi yang semakin aktif dalam Kerja Sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation/SSC), sebuah platform kolaboratif yang mempertemukan negara-negara di Global Selatan.
Perkembangan ini menjadi salah satu fokus diskusi bertajuk “Indonesia and South-South Cooperation: Its Role in Shaping a New International Order,” yang digelar di Lund University pada 26 Maret 2026. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh PPI Scania bersama Association of Foreign Affairs (UPF) Lund dan Centre for East and South-East Asian Studies, serta dihadiri mahasiswa internasional, akademisi, dan diaspora Indonesia.
Dalam forum itu, Duta Besar H.E. Dr. Yayan Ganda Hayat Mulyana menekankan bahwa keterlibatan Indonesia dalam SSC telah berkembang melampaui tataran teknis. Menurutnya, Indonesia telah bertransformasi dari negara penerima bantuan internasional menjadi negara yang aktif memberikan bantuan teknis kepada negara lain.
Ia menyatakan Indonesia tidak hanya memiliki potensi, tetapi juga “credentials” atau rekam jejak nyata untuk ikut memimpin SSC menghadapi tantangan di masa mendatang. Ia juga menegaskan bahwa kerja sama telah lama menjadi inti kebijakan luar negeri Indonesia. Melalui upaya kolektif, berbagai tantangan global yang ia sebut sebagai “black swans”, “grey rhinos”, dan “unknown unknowns” dinilai dapat dihadapi lebih efektif.
Peneliti Centre for East and South-East Asian Studies, Lund University, Dr. Tabitha Rosendal, menilai SSC kini berada pada tingkat relevansi tertingginya dalam 50 tahun terakhir. Ia mengaitkan situasi tersebut dengan perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah pemerintahan kedua Donald Trump, yang menurutnya mendorong negara-negara kecil dan menengah membangun koalisi alternatif serta mendiversifikasi ketergantungan mereka.
Dalam konteks itu, Rosendal menilai Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara memiliki ruang lebih besar untuk terlibat secara lebih bermakna dalam sistem internasional. Ia juga mencatat bahwa China semakin memperkuat komitmennya terhadap kerangka SSC.
Rosendal turut menyoroti perubahan cara pandang sebagian kalangan akademik di Eropa terhadap Indonesia. Selama ini, Indonesia kerap dilihat terutama melalui kekayaan budaya dan keberagaman agama, namun pendekatan tersebut dinilainya sering mengabaikan peran aktif Indonesia dalam hubungan internasional.
Menurutnya, tren itu mulai bergeser seiring meningkatnya perhatian terhadap strategi maritim Indonesia, perannya dalam menjembatani negara-negara anggota ASEAN, serta manuver diplomatiknya sebagai kekuatan menengah.

