Orkestra Simfoni, Opera dan Balet Kota Ho Chi Minh (HBSO) akan menggelar Konser Peringatan 270 Tahun Wolfgang Amadeus Mozart pada 4 April 2026. Konser dijadwalkan berlangsung pukul 20.00 di Teater Kota, Distrik Saigon, Kota Ho Chi Minh.
Acara ini menghadirkan pianis Luu Duc Anh dan dipimpin Seniman Berprestasi Tran Vuong Thach. Keduanya disebut mewakili generasi seniman Vietnam yang berkontribusi dalam memperbarui pendekatan terhadap musik klasik.
Program konser disusun sebagai perjalanan melalui tiga pilar penting dalam karier Mozart, yakni opera, konserto, dan simfoni. Setiap karya diposisikan sebagai “jendela” untuk memasuki dunia batin sang komponis yang digambarkan kompleks namun halus.
Pertunjukan dibuka dengan overture Don Giovanni, yang dikenal energik dan bernuansa kuat. Karya ini disebut ditulis dengan tergesa-gesa pada malam sebelum pemutaran perdana, namun tetap menghadirkan kontras lengkap—tragedi dan komedi, kegelapan dan terang—serta menjadi semacam ramalan bagi kisah tragis Don Giovanni, dengan konflik yang tidak hanya hadir dalam alur cerita tetapi juga tertanam dalam lapisan harmoni.
Setelah itu, penonton akan mendengarkan Konserto Piano No. 27 dalam B-flat mayor, K.595, konserto terakhir Mozart. Karya ini digambarkan bernada tenang, sederhana, namun emosional. Di bawah arahan Luu Duc Anh, konserto tersebut dipaparkan tanpa pertentangan antara piano dan orkestra maupun klimaks dramatis yang menonjol, melainkan melalui gerakan halus yang mengalir perlahan.
Tiga bagiannya—Allegro, Larghetto, dan Allegro—diibaratkan sebagai tiga keadaan emosional, dimulai dari ketenangan dan perenungan mendalam, lalu ditutup dengan kesan “senyum lembut” yang tidak mencolok, tetapi meninggalkan jejak.
Program ditutup dengan Simfoni No. 41 dalam C mayor, yang dikenal sebagai “Jupiter”, sekaligus simfoni terakhir dan puncak karier komposisi Mozart. Karya ini disebut menonjol berkat struktur kontrapung yang kompleks, terutama pada bagian akhir, Molto allegro, ketika sejumlah tema dikembangkan dan dijalin secara halus hingga membentuk keseluruhan yang harmonis dan berbobot.
HBSO menempatkan konser ini bukan sekadar peringatan, melainkan juga pengingat bahwa musik Mozart terus dimainkan, didengar, dan dirasakan lintas generasi—dengan cara yang berbeda-beda. Pesan yang ditekankan, nilai-nilai tertentu dinilai tidak lekang oleh waktu, tinggal bagaimana pendengar menyediakan ketenangan untuk menyimaknya.

