BERITA TERKINI
Gang Malaka Jaya dan Cara Baru Bertahan Hidup: Ketika Krisis Iklim Masuk ke Lorong Sempit Jakarta

Gang Malaka Jaya dan Cara Baru Bertahan Hidup: Ketika Krisis Iklim Masuk ke Lorong Sempit Jakarta

Isu yang Membuatnya Tren

Di Jakarta Timur, sebuah gang selebar 1,5 hingga 2 meter mendadak jadi bahan pembicaraan nasional.

Bukan karena sensasi, melainkan karena ia menawarkan sesuatu yang jarang: harapan yang terlihat, terukur, dan bisa disentuh di ruang hidup paling sempit.

Di Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, RT 08 RW 04 mengubah lorong padat menjadi ruang hijau, ruang pangan, dan ruang belajar.

Di sana ada mural, pot tanaman, komposter, akuarium berisi koi, lele, nila, mujair, dan bawal, serta panel surya di atap rumah ketua RT.

Di tengah krisis iklim yang terasa makin dekat, kisah ini menonjol karena memperlihatkan adaptasi yang tidak menunggu proyek besar.

Ia bekerja dengan yang ada: selokan, dinding, atap, kebiasaan warga, dan disiplin memilah sampah sejak rumah.

Itulah mengapa ia masuk percakapan publik dan memantul di pencarian daring.

-000-

Ada tiga alasan kuat mengapa isu ini menjadi tren.

Pertama, kontras visualnya tajam.

Gang yang dulu disebut gersang kini tertata rapi, hijau, dan produktif.

Di kota yang identik dengan beton, perubahan semacam ini terasa seperti anomali yang menuntut perhatian.

Kedua, kisahnya menyentuh kebutuhan paling dasar.

“Kolam gizi warga” menyediakan ikan untuk balita dan lansia secara gratis.

Di masa biaya hidup sering jadi percakapan harian, pangan bergizi yang lahir dari got dan lorong menjadi narasi yang menggugah.

Ketiga, ia memberi rasa kendali.

Ketika krisis iklim sering terdengar abstrak, RT 08 memperlihatkan tindakan kecil yang dirangkai menjadi sistem.

Publik cenderung membagikan cerita yang membuat masalah besar terasa bisa dikerjakan.

-000-

Lorong Sempit yang Menyimpan Peta Perubahan

Jalan Nusa Indah tampak seperti jalan lingkungan lain di ibu kota.

Rumah berdiri rapat, jalan hanya cukup untuk dua mobil berpapasan pelan, dan parkir di depan rumah kerap menyempitkan ruang.

Namun di mulut Gang 8 ada gapura kuning dan hijau yang mencuri pandang.

Begitu masuk, lorong sempit menyambut dengan garis putih di lantai dan mural warna-warni di dinding kiri.

Di kanan, akuarium berlapis keramik biru memanjang.

Di dalamnya, ikan bergerak lincah, seolah menegaskan bahwa ruang padat pun bisa menghasilkan kehidupan.

Pot tanaman berjajar, sebagian merambat ke atas dan membuat teduh.

Di depan rumah warga, tong komposter tersusun rapi dengan warna berbeda.

Di balik gapura, layar pemantau CCTV menampilkan rekaman dari berbagai sudut.

Hampir seluruh area dipantau.

Ini bukan sekadar estetika, melainkan tanda bahwa keteraturan adalah fondasi dari perubahan kebiasaan.

-000-

Ketua RT 08, Taufiq Supriadi, menyebut masa lalu kawasan itu gersang.

Warga belum terbiasa memilah sampah, dan lingkungan terlalu sering menunggu program dari atas.

Pada 2023, sejak menjabat, ia memilih bergerak dari bawah.

Langkah awalnya mendatangkan 817 tanaman produktif yang saat itu diberikan Kementerian Lingkungan Hidup.

Targetnya sederhana sekaligus politis: membuat lingkungan lebih adem, oksigen lebih banyak, dan warga tidak mudah stres.

Setelah pemberitaan meningkat, bantuan CSR berdatangan.

Pengembangan dilakukan bertahap, bukan sekali jadi.

Di sinilah pelajaran penting muncul.

Perubahan kota sering gagal bukan karena ide kurang, melainkan karena ritme sosial tidak diurus.

RT 08 memperlihatkan ritme itu: dimulai dari tanaman, lalu pangan, lalu sampah, lalu energi.

-000-

Pangan, Sampah, Energi: Sistem yang Menutup Lingkaran

Di RT 08, akuarium bukan pajangan.

Ia disebut “kolam gizi warga”, tempat budidaya ikan untuk balita dan lansia secara gratis.

Selain itu, budidaya lele juga dilakukan di saluran air di depan rumah warga.

Saluran dimodifikasi agar tetap mengalirkan air sekaligus menjadi kolam.

Gagasan memanfaatkan selokan datang dari pengalaman pribadi Taufiq saat berada di Jepang.

Setidaknya ada 12 kolam lele di saluran air.

Masing-masing menampung sekitar 1.000 ekor.

Lele di saluran ini diperuntukkan untuk komersial.

Kelompok ibu-ibu mengolahnya menjadi abon lele, lele marinasi, hingga lele beku.

Pembagian manfaatnya disebut berlapis.

Ada bagian untuk kelompok tani, kas RW, kas RT, rumah yang di depannya ada kolam, dan mereka yang bekerja.

Di kota, ekonomi lokal sering mati karena rantai nilai terlalu jauh.

Di sini, rantainya dipendekkan sampai ke depan pintu.

-000-

Masalah sampah di kawasan padat tidak pernah kecil.

Ia menumpuk cepat, memicu bau, menyumbat aliran, dan menambah kerentanan ketika hujan deras.

RT 08 memilih prinsip tegas: sebisa mungkin sampah dikelola di dalam lingkungan.

Sampah nonorganik dikumpulkan lewat Bank Sampah Gunung Emas.

Warga menyetor sampah bernilai ekonomi.

Sampah organik masuk ke kandang maggot.

Maggot dipakai untuk pakan ikan dan ayam petelur yang juga dibudidayakan.

Rangkaian ini digambarkan Taufiq seperti siklus yang saling menghidupi.

Maggot ke ayam dan ikan, kas got ke tanaman, ayam menghasilkan telur, telur kembali ke masyarakat.

Cangkang telur kembali ke kandang atau tanaman.

Di sini, sampah tidak dipandang sebagai akhir.

Sampah diperlakukan sebagai bahan baku untuk ketahanan pangan skala mikro.

-000-

Energi menjadi bab lain yang membuat kisah ini menonjol.

Melalui bantuan CSR, 19 panel surya dipasang dengan kapasitas sekitar 10.000 watt di atas rumah Taufiq.

Listriknya dipakai untuk mengoperasikan alat-alat lingkungan.

Mulai dari listrik akuarium, pompa pendorong, pompa penarik, aerator, hingga mesin pencacah daun.

Sejumlah lampu yang tidak terjangkau PJU juga terbantu.

Panel surya di gang padat memberi pesan simbolik.

Transisi energi tidak selalu dimulai dari ladang luas.

Ia bisa dimulai dari atap rumah, ketika komunitas punya tujuan bersama dan sistem pengelolaan.

-000-

“Living Laboratory” dan Seni Bertahan Hidup

Pada Maret 2025, Kementerian Lingkungan Hidup meresmikan Media Percontohan Pembelajaran Pencegahan Krisis Planet di gang ini.

Di lokasi itu tertata 40 item pencegahan krisis planet dan 817 tanaman produktif.

Daftarnya panjang, dari kolam gizi, tanaman produktif, TOGA, taman gantung, akuaponik, hingga lampu hemat energi.

Ada pula lubang resapan biopori di tanah, resapan biopori di selokan, pengelolaan sampah ke komposter, dan berbagai item lainnya.

Taufiq menyebut RT 08 sebagai “living laboratory”, laboratorium kehidupan.

Ia mengartikannya sebagai cara bertahan hidup di Indonesia, di beton padat penduduk.

Gagasan “bertahan hidup” di sini bukan retorika.

Ia adalah pengakuan bahwa kota akan menghadapi tekanan berulang.

Tekanan itu bisa berupa cuaca ekstrem, gangguan pasokan, hingga beban kesehatan akibat lingkungan yang memburuk.

Ketika skala masalah membesar, unit terkecil pemerintahan, seperti RT, sering menjadi garis depan.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia

Apa yang terjadi di Gang Malaka Jaya terhubung dengan isu besar Indonesia: urbanisasi padat, ketahanan pangan, pengelolaan sampah, dan transisi energi.

Keempatnya sering dibahas terpisah.

RT 08 memperlihatkan cara mengikatnya dalam satu ekosistem kecil.

Indonesia adalah negara yang kota-kotanya tumbuh cepat.

Di ruang padat, kualitas hidup ditentukan oleh detail harian.

Apakah ada teduh, apakah sampah terkelola, apakah air mengalir, apakah warga punya akses pangan bergizi.

Isu ini juga menyentuh kesehatan mental perkotaan.

Ketika Taufiq menyebut “warganya enggak stres”, itu adalah pengakuan bahwa lingkungan fisik memengaruhi ketenangan sosial.

Di kota, stres sering lahir dari panas, sempit, bau, dan rasa tidak berdaya.

Ruang hijau, keteraturan, dan aktivitas kolektif bisa menjadi penyangga.

-000-

Ia juga terkait dengan tata kelola.

Taufiq menekankan perubahan budaya, perut harus kenyang, dan planet dijaga.

Ia menyebutnya sebagai triple bottom line: people, profit, planet.

Konsep ini dikenal luas dalam praktik keberlanjutan.

Dalam konteks Indonesia, ia menjadi jembatan antara agenda lingkungan dan kebutuhan ekonomi warga.

Ketika program lingkungan hanya bicara larangan, ia sering ditolak diam-diam.

Ketika program lingkungan memberi manfaat nyata, ia lebih mudah menjadi kebiasaan.

RT 08 menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat dinegosiasikan lewat dapur, bukan hanya lewat seminar.

-000-

Riset yang Relevan untuk Membaca Fenomena Ini

Ada beberapa kerangka riset yang membantu memahami mengapa pendekatan RT 08 terasa kuat.

Pertama, gagasan ketahanan perkotaan atau urban resilience.

Dalam studi kebencanaan dan iklim, ketahanan sering diartikan sebagai kemampuan komunitas menyerap guncangan dan tetap berfungsi.

RT 08 membangun redundansi kecil: pangan dari budidaya, energi dari panel surya, dan pengurangan beban sampah.

Kedua, pendekatan ekonomi sirkular.

Prinsipnya menjaga material tetap berputar dalam sistem selama mungkin.

Rangkaian sampah organik, maggot, pakan, telur, dan kembali ke tanah adalah contoh logika sirkular dalam skala kampung.

Ketiga, riset perubahan perilaku.

Banyak studi menekankan kebiasaan baru bertahan jika mudah dilakukan, terlihat manfaatnya, dan didukung norma sosial.

Di RT 08, tong komposter rapi, bank sampah terhubung, dan hasilnya kembali ke warga.

Manfaat itu membuat perilaku tidak terasa sebagai beban.

-000-

Rujukan Peristiwa Serupa di Luar Negeri

Dalam berita ini disebut gagasan selokan sebagai kolam terinspirasi dari pengalaman di Jepang.

Rujukan itu menarik karena Jepang dikenal memiliki contoh pengelolaan ruang sempit yang disiplin.

Di sejumlah kota dunia, ada pula praktik yang menyerupai semangatnya.

Misalnya, gerakan kebun komunitas di lingkungan padat di berbagai negara.

Intinya bukan sekadar menanam, melainkan membangun solidaritas, mengurangi kerentanan pangan, dan menghidupkan ruang bersama.

Ada juga contoh pemanfaatan atap untuk energi surya di kawasan permukiman kota-kota maju.

Pesan yang serupa: transisi energi bisa dimulai dari rumah, jika ada dukungan dan tata kelola.

Kesamaan terbesar dari contoh-contoh itu adalah satu hal.

Keberhasilan tidak lahir dari teknologi semata, melainkan dari organisasi sosial yang rapi.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Tren mudah membuat kita tergoda untuk menyanjung, lalu lupa.

Padahal nilai utama kisah ini ada pada replikasi yang realistis dan evaluasi yang jujur.

Pertama, pemerintah daerah bisa menjadikan RT 08 sebagai ruang belajar, bukan sekadar destinasi kunjungan.

Yang ditiru bukan hanya mural atau akuarium, melainkan sistem kerja, pembagian peran, dan disiplin pengelolaan.

Kedua, dukungan CSR sebaiknya diarahkan pada kebutuhan yang memperkuat rantai sistem.

Misalnya alat pengolahan, perawatan, dan pelatihan, bukan hanya pembangunan awal yang fotogenik.

Ketiga, warga dan pemimpin lokal perlu menjaga akuntabilitas.

Ketika ada pembagian hasil budidaya, mekanismenya harus jelas agar kepercayaan tetap terawat.

Keempat, publik sebaiknya membaca kisah ini tanpa romantisasi berlebihan.

Ini bukan cerita bahwa semua masalah kota selesai oleh satu RT.

Ini cerita bahwa daya lenting bisa dibangun, jika komunitas berani memulai.

-000-

Pada akhirnya, Gang Malaka Jaya mengajarkan bahwa krisis iklim tidak selalu datang sebagai headline bencana.

Ia datang pelan sebagai panas, sampah, biaya hidup, dan ruang hijau yang hilang.

Jawabannya pun sering bukan satu kebijakan besar.

Jawabannya adalah serangkaian keputusan kecil yang dijalankan konsisten, lalu dijadikan sistem.

Taufiq mengatakan ia membangun sistem agar program tetap berjalan meski kelak ia tidak lagi menjadi ketua RT.

Di situlah ukuran kedewasaan kebijakan warga.

Bukan pada figur, melainkan pada kebiasaan kolektif yang bisa diwariskan.

Dan mungkin, di tengah kota yang makin padat, itulah definisi baru tentang kemajuan.

Ketika lorong sempit tidak lagi sekadar jalan pulang.

Ia menjadi tempat belajar bertahan hidup, bersama-sama.

-000-

“Harapan bukan keyakinan bahwa sesuatu akan berakhir baik, melainkan kepastian bahwa sesuatu bermakna, apa pun hasilnya.”