Jakarta — Pencipta lagu dan maestro musik Indonesia, Erros Djarot, menghadirkan gelombang nostalgia melalui konser Badai Pasti Berlalu Live in Concert di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu malam, 25 April 2026. Pertunjukan ini menandai perjalanan 52 tahun Erros berkarya di industri musik Tanah Air.
Sejumlah karya yang dikenal luas kembali dipentaskan, antara lain “Badai Pasti Berlalu”, “Semusim”, “Merepih Alam”, hingga “Pelangi”. Lagu-lagu tersebut dibawakan dengan aransemen megah tanpa meninggalkan ruh orisinalnya. Konser yang digagas bersama Kolam Ikan Creative Communication ini juga menghadirkan musisi lintas generasi, mulai dari Once Mekel, Titi DJ, Vina Panduwinata, Rio Febrian, Ardhito Pramono, Monita Tahalea, hingga Dearly Dave.
Usai konser, Erros menjelaskan ide pertunjukan bermula dari tawaran promotor. Ia mengaku tidak memasang syarat khusus, selain meminta agar konser digarap dengan baik. “Mereka bertanya ‘Persyaratannya apa?’. ‘Nggak ada, persyaratannya jangan jelek aja, hanya itu saja’. Dan ternyata ya baguslah ya,” kata Erros.
Erros juga menegaskan dirinya memberi kebebasan penuh kepada penyelenggara dalam menentukan konsep, pemilihan musisi kolaborator, hingga penyusunan pertunjukan. Ia menyebut hanya ada satu nama yang sempat dikonsultasikan kepadanya, sementara untuk materi lagu ia mengubah satu bagian pada intro. “Semua ini karya anak-anak itulah (promotor), dan memang saya berikan kebebasan,” ujarnya.
Dalam proses persiapan, Erros mengaku tidak banyak campur tangan. Ia hanya sekali menghadiri latihan dan memilih tidak melakukan intervensi. Menurutnya, kebebasan interpretasi merupakan bentuk penghormatan antarseniman. “Saya datang latihan juga cuma satu kali dan saya tidak intervensi apa-apa ke mereka, saya cuma dengerin aja,” tutur Erros. Ia menambahkan, dirinya lebih banyak mendoakan dan baru memberi masukan jika diminta.
Konser ini menampilkan aransemen baru garapan Demas Narawangsa dan Yankjay dalam format full live band orchestra. Erros memuji kerapihan permainan musik, namun memberikan catatan agar para musisi lebih berani bereksplorasi. Ia menyebut aransemen malam itu terasa terlalu “sopan” dan kurang “ndugal”, istilah yang ia gunakan untuk menggambarkan sikap musikal yang lebih bandel dan berani. “Musiknya tuh sangat-sangat rapi. Kalau menurut saya sih ya bagus, cuman lebih bagus lagi nanti ... harus lebih bandel dan berani lagi,” katanya.
Meski album Badai Pasti Berlalu kerap dianggap sebagai puncak kariernya, Erros menilai dirinya tidak ingin terjebak dalam romantisme masa lalu. Ia menyebut tetap terbuka jika ada tawaran, tetapi tidak ingin terlalu larut. Ketika ditanya karya mana yang paling ia sukai, ia menjawab: “yang akan datang.”
Menutup perbincangan, komposer berusia 75 tahun itu menegaskan komitmennya untuk terus berkarya. “Insyaallah sebelum saya dikubur pasti saya akan berkarya terus,” kata Erros.