BERITA TERKINI
Dokter Mata Membaca Simbol “Mata” dalam Lirik Trinh Cong Son

Dokter Mata Membaca Simbol “Mata” dalam Lirik Trinh Cong Son

Seorang dokter spesialis mata, Dr. Dinh Viet Nghia, membagikan pandangannya tentang bagaimana “mata” hadir sebagai simbol penting dalam karya-karya musisi Trinh Cong Son. Dr. Nghia, yang kini bekerja di Rumah Sakit Militer Pusat 108 di Hanoi, menyampaikan pemikirannya saat berkunjung ke Hue untuk menghadiri sebuah seminar tentang musik musisi asal kota tersebut.

Menurut Dr. Nghia, pengamatan dari sudut pandang profesinya membuat ia menangkap “wawasan halus” Trinh Cong Son melalui cara sang musisi menuliskan tatapan dan mata dalam lirik. Salah satu contoh yang ia soroti adalah lagu Diem Xua (1960), yang disebutnya ditulis dengan latar pengamatan Trinh Cong Son muda dari loteng terhadap sosok yang menginspirasinya, siswi bernama Ngo Vu Bich Diem. Dalam gambaran itu, Trinh Cong Son mengamati sang gadis berjalan menuju sekolah setiap hari di bawah deretan pohon kamper, di tengah gerimis hujan musim gugur.

Dr. Nghia menilai frasa “mata semakin dalam” dalam lirik lagu tersebut sebagai citra yang simbolis: lembut, namun jelas menyampaikan emosi yang dalam, bercampur kesedihan dan penantian. Ia juga menekankan bahwa fenomena tatapan intens yang membuat mata terlihat lebih dalam bukan hanya puitik, tetapi juga dapat dianggap selaras dengan pengamatan biologis. “Ketika menatap intens pada titik yang jauh untuk waktu yang lama, mata tampak lebih dalam,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia belum menemukan banyak deskripsi atau pembahasan ilmiah yang mengurai mekanisme fenomena itu.

Di luar Diem Xua, Dr. Nghia menyebut Trinh Cong Son kerap menempatkan “mata” sebagai pintu masuk untuk membaca berbagai sisi manusia. Ia mencontohkan lagu Mata Dunia, yang menggambarkan beragam ekspresi dan watak—dari mata para kekasih hingga mata orang yang tidak setia, dari kebencian hingga “mata sehijau rumput/pohon hijau surga”—dengan benang merah ajakan untuk “menanam kembali iman yang cerah.”

Ia juga menyinggung sejumlah kutipan lirik lain yang menurutnya menarik, seperti “Menunduklah/Tataplah dalam-dalam ke mata/Dan dengarkan badai mereda di lautan” (disebut dari lagu Menunduklah sangat dekat) serta “Dua mata menangis untuk satu orang” (disebut terkait Mata yang tersisa berdasarkan puisi Bui Giang).

Dalam lagu Glassy Sunlight, Dr. Nghia menilai penggambaran mata perempuan muda terasa terang dan penuh daya hidup, antara lain melalui lirik “Apakah itu warna sinar matahari atau warna matamu?” dan “Sore hari telah memasuki taman matamu.” Baginya, mata dalam penggambaran ini seolah memancarkan sinar matahari dan memberi kehidupan pada dunia di sekitarnya.

Di sisi lain, Dr. Nghia menyoroti bahwa “mata” juga menjadi medium untuk menyampaikan kesedihan dalam banyak lagu Trinh Cong Son. Ia menyebut contoh seperti Kelopak Mata Basah dengan lirik tentang kesedihan yang “membasahi mata seseorang,” lalu gambaran tentang air mata dan kepedihan hidup dalam Lagu Rakyat Ibu, serta potongan kisah dalam Ibu O Ly yang menggambarkan mata seorang ibu yang “masih linglung.”

Salah satu bagian yang paling berkesan bagi Dr. Nghia adalah lirik “Awan turun menyelimuti tetesan air mata kesedihan” dalam lagu Apa Usia yang Tersisa untukmu, Sayangku? (1964), yang ditulis untuk Dao Anh. Ia menafsirkan bahwa air mata saat seseorang bersedih dapat tampak lebih keruh, seolah tertutup “awan,” tidak lagi jernih dan berkilauan.

Dr. Nghia menilai Trinh Cong Son termasuk seniman yang mampu menggambarkan fenomena-fenomena semacam itu secara akurat, sementara sains baru datang kemudian untuk menjelaskan mengapa penggambaran tersebut terasa tepat. Menurutnya, pertemuan antara puisi dan sains menjadi hal yang langka sekaligus menarik karena saling memperkaya.

Ia juga mengemukakan pandangannya bahwa Trinh Cong Son kemungkinan memiliki rabun jauh yang parah sehingga penglihatannya tidak terlalu baik, namun tetap mampu menangkap detail-detail halus yang sulit disadari orang lain. Dalam penilaian Dr. Nghia, melalui kepekaan itu Trinh Cong Son menghadirkan cara memandang kehidupan—“mata dunia”—yang khas, sekaligus meninggalkan identitas artistik yang kuat dan kesan mendalam bagi publik.