BERITA TERKINI
Disporabudpar Sampang Telusuri Sejarah Daul Combo dan Dugdug, Musik Tradisi yang Mengikat Warga Madura

Disporabudpar Sampang Telusuri Sejarah Daul Combo dan Dugdug, Musik Tradisi yang Mengikat Warga Madura

Musik tradisional Daul Combo dan Dugdug telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Pulau Madura. Di tengah tabuhan perkusi dan melodi yang kerap terdengar pada malam hari, kesenian ini dipandang bukan sekadar hiburan, melainkan sarana kebersamaan yang menghubungkan warga di empat kabupaten, yakni Sampang, Pamekasan, Sumenep, dan Bangkalan.

Tradisi Daul Combo dan Dugdug secara konsisten hadir setiap tahun, terutama pada bulan Ramadan hingga perayaan Idulfitri. Perpaduan berbagai alat musik yang menghasilkan harmoni khas disebut telah melekat sebagai identitas kolektif masyarakat Madura.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Sampang, Marnilem, melalui Kepala Bidang Kebudayaan Abdul Basith, menyampaikan bahwa Daul Combo dan Dugdug merupakan kesenian yang tumbuh dari sejarah panjang Madura dan selalu dinanti pada momen-momen sakral.

“Daul Combo dan Dugdug adalah musik yang menyatukan kebudayaan Madura dan melekat di dalam jiwa masyarakat, khususnya masyarakat Sampang,” kata Basith, Rabu (01/04/2026).

Basith menjelaskan, secara teknis Daul Combo dan Dugdug memiliki kemiripan. Namun, varian Daul Dugdug umumnya memiliki komposisi alat musik yang lebih lengkap dan kompleks dibandingkan Combo.

Dari sisi sejarah, Basith menyebut terdapat sejumlah versi mengenai asal-usul kesenian tersebut. Salah satu literatur lisan menyatakan Daul lahir pada masa Kerajaan Sumenep sebagai sarana membangunkan warga untuk sahur. Versi lain menyebutkan kesenian itu berkembang di Sumenep saat terjadi pemadaman listrik dalam waktu cukup lama, sehingga warga berinisiatif menciptakan suasana meriah melalui ketukan ritmis Combo dan Dugdug.

“Seiring berjalannya waktu, musik Daul terus berkembang melalui kolaborasi alat musik tradisional dan modern yang menyatu menjadi satu irama bagi seluruh masyarakat Madura,” ujarnya.

Menurut Basith, Daul Combo dan Dugdug tumbuh beriringan di Pulau Madura. Karena itu, upaya pelestarian dinilai penting di tengah modernisasi, terutama di Kabupaten Sampang. Ia menekankan bahwa meski terdapat beragam versi sejarah, nilai kebersamaan menjadi titik utama yang disepakati.

“Memang banyak versi sejarah mengenai Daul Combo dan Dugdug. Namun, berdasarkan hasil diskusi kami bersama para budayawan, poin utamanya adalah nilai kebersamaan tersebut,” pungkasnya.