SOLO — Di tengah derasnya arus budaya populer global yang memenuhi ruang digital, musik keroncong dinilai masih memiliki peluang untuk tetap hidup dan bahkan menguat sebagai identitas budaya di masa depan. Sejumlah pegiat seni dan akademisi di Kota Solo meyakini optimisme itu dapat terwujud, dengan catatan keroncong perlu berani berbenah.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi Rembug Budaya bertema “Keroncong Musik Masa Lalu atau Masa Depan Kota Solo?” yang digelar Duo Wening Jepank di Kedai Boedjono Nyah Nyoh, Kamis, 11 Juni 2026. Forum itu menghadirkan Dosen Etnomusikologi ISI Surakarta Bondan Aji Manggala dan Creative Director Solo Keroncong Festival Didiet Raykapoor.
Dalam diskusi, para narasumber menilai anggapan bahwa keroncong hanya musik generasi tua tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan. Keroncong disebut masih dimainkan, dipelajari, dan mulai diminati generasi muda melalui berbagai pendekatan baru.
Bondan Aji Manggala menyampaikan bahwa tantangan terbesar keroncong saat ini bukan semata soal kurangnya peminat, melainkan bagaimana membangun ekosistem yang mampu menjaga keberlanjutan regenerasi. Ia menyebut proses regenerasi sebenarnya sudah berjalan, termasuk di lingkungan pendidikan seni.
Di ISI Surakarta, keroncong telah masuk kurikulum dan menjadi mata kuliah yang dipelajari mahasiswa. “Kami sudah mencetak sumber daya manusianya. Banyak mahasiswa yang awalnya tidak mengenal keroncong, kemudian bisa memainkan dan bahkan menyukainya. Beberapa sudah tampil di berbagai panggung keroncong,” kata Bondan.
Namun, ia menambahkan persoalan muncul setelah masa pendidikan selesai. Tidak semua lulusan memilih tetap berkarya di dunia keroncong karena terbentur persoalan ekonomi dan minimnya ruang berkesenian. “Masalahnya ada pada ekosistem. Ketika kami sudah mencetak generasi baru, apakah di luar sana tersedia ruang yang sehat untuk mereka berkembang? Ini yang perlu dibenahi bersama,” ujarnya.
Didiet Raykapoor menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, keroncong tidak cukup diposisikan sebagai warisan budaya yang dijaga secara simbolis, melainkan perlu diberi ruang untuk tumbuh mengikuti perkembangan zaman. Ia menyebut Solo Keroncong Festival berupaya membuka peluang bagi generasi muda melalui kompetisi, edukasi, dan panggung kreatif.
Didiet menilai hasilnya terlihat dari meningkatnya antusiasme anak muda. Jumlah pendaftar dalam berbagai kompetisi keroncong kerap melampaui kuota yang tersedia. “Artinya minat itu ada. Tinggal bagaimana peluang-peluang itu terus dibuka dan diperluas,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya menghilangkan sekat yang membuat keroncong terkesan eksklusif dan sulit didekati generasi muda. Menurutnya, keroncong dapat tetap menjaga akar tradisi, namun tetap membuka ruang inovasi dan eksperimen musikal. “Keroncong tidak harus selalu tampil dalam bentuk yang sama seperti puluhan tahun lalu. Bisa dipadukan dengan berbagai pendekatan kreatif selama esensinya tetap terjaga,” ujarnya.
Diskusi tersebut juga menyoroti bahwa pelestarian keroncong tidak bisa dibebankan hanya kepada seniman atau institusi pendidikan. Para peserta menilai diperlukan sinergi antara pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, pelaku industri kreatif, media, hingga masyarakat luas. Penambahan ruang pertunjukan, festival yang berkelanjutan, dukungan industri musik, serta pemanfaatan platform digital disebut sebagai bagian dari pembenahan yang dibutuhkan.
Wening Damayanti yang memandu diskusi menyoroti masih kuatnya stigma bahwa keroncong adalah musik orang tua. Ia menilai, bila persepsi tersebut tidak diubah, generasi muda akan semakin menjauh dari keroncong yang disebut sebagai salah satu identitas budaya bangsa. Karena itu, ia mendorong agar ruang-ruang dialog seperti Rembug Budaya terus dihadirkan untuk membangun kesadaran bersama.
Di akhir diskusi, para narasumber menyampaikan optimisme bahwa keroncong tidak akan punah dan berpeluang menjadi kekuatan budaya Kota Solo di masa depan. Namun, mereka menegaskan hal itu memerlukan pembenahan ekosistem dan pembukaan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkreasi. “Keroncong adalah musik masa depan Kota Solo. Tapi perlu banyak pembenahan,” tegas Bondan.