Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, mengembangkan konsep wisata berbasis budaya dan kesehatan dengan mengangkat tradisi “maboreh” sebagai daya tarik utama. Tradisi meracik boreh Bali secara tradisional kini diperkenalkan kepada wisatawan melalui paket wellness tourism yang dipadukan dengan wisata alam serta upaya pelestarian lingkungan.
Perbekel Desa Aan, I Wayan Wira Adnyana, mengatakan pengembangan desa wisata bermula dari diskusi tokoh masyarakat dan pelaku pariwisata sejak akhir 2018. Dari proses tersebut, potensi alam, budaya, seni, hingga produk UMKM di desa mendorong pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang resmi dikukuhkan pada 2020.
“Setelah berjalan dan terus menggali potensi desa, akhirnya pada 2021 Desa Aan ditetapkan sebagai desa wisata ke-19 di Kabupaten Klungkung melalui SK Bupati,” ujar Wira Adnyana, Kamis (7/5/2026).
Sejumlah destinasi kini dikembangkan di Desa Aan, di antaranya Aan Secret Waterfall, Petapan Park, Bukit Batu Kembar, serta lokasi pesiraman yang menjadi bagian dari paket wisata spiritual dan alam.
Di tengah banyaknya desa wisata di Bali, Desa Aan memilih menonjolkan pelestarian budaya lokal melalui tradisi maboreh. Boreh merupakan ramuan tradisional Bali berbahan rempah-rempah yang digunakan untuk menghangatkan tubuh dan menjaga kebugaran.
Dalam paket wellness tourism, wisatawan diajak mengikuti yoga, malukat, trekking menuju lokasi budidaya madu kele-kele, hingga belajar membuat boreh Bali secara tradisional. Wira Adnyana menyebut maboreh merupakan kebiasaan yang dahulu lekat dengan aktivitas masyarakat.
“Dulu orang tua sebelum berangkat ke sawah dan setelah pulang dari sawah selalu memakai boreh. Jadi ini warisan budaya leluhur yang kami coba lestarikan,” katanya.
Wisatawan diperkenalkan langsung dengan tanaman rempah yang digunakan sebagai bahan boreh, mulai dari proses membersihkan bahan, menumbuk atau nguyang, hingga mengoleskan boreh ke tubuh menggunakan minyak VCO alami.
Menurut Wira Adnyana, tradisi maboreh lahir dari kebiasaan masyarakat desa yang masih mempertahankan teba atau kebun rumah yang ditanami tanaman obat dan rempah-rempah. Ia menjelaskan, ide pengembangan edukasi boreh Bali muncul setelah ada tamu yang menanyakan kearifan lokal khas desa.
“Awalnya ada tamu yang bertanya apa kearifan lokal khas desa. Karena masyarakat masih banyak menanam rempah untuk kebutuhan boreh sehari-hari, akhirnya muncul ide mengembangkan edukasi boreh Bali,” ujarnya.
Selain wisata budaya, Desa Aan juga menawarkan konsep sustainable tourism. Wisatawan diajak membersihkan sampah dan menanam pohon di kawasan air terjun. Aktivitas lain yang tersedia meliputi river tubing ramah keluarga, belajar tari Bali, membuat kuliner tradisional seperti laklak, hingga berkemah.
Paket wisata ditawarkan mulai sekitar Rp100 ribu per orang, termasuk tiket masuk, makan siang, dan welcome drink. Saat ini, kunjungan wisatawan masih didominasi tamu yang datang langsung melalui rekomendasi sopir pariwisata maupun komunitas anak muda, dengan rata-rata sekitar 20 orang per hari.
“Kami masih mencari pola kerja sama dengan agen perjalanan dan driver agar desa wisata ini bisa berkembang bersama-sama,” kata Wira Adnyana.
Dengan memadukan wisata alam, budaya, dan gaya hidup sehat berbasis tradisi lokal, Desa Wisata Aan berupaya menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif, sekaligus menjaga warisan budaya Bali tetap hidup di tengah perkembangan industri pariwisata.